Ngaku Keturunan Nganu

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Bagaimana bisa mengaku punya garis keturunan (biologis) langsung Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam? Bisa saja. Itu gampang. Tapi untuk membuktikan? Apalagi, tak ada ‘penerus’ status kenabiannya (7 putranya, yang 3 lelaki semua meninggal dalam usia kanak dan remaja).

Tapi, ya sudahlah. Yang kek gini bisa otot-ototan sampai berdarah-darah. Meski pertanyaan pokoknya, buat apa? Saya ini, keturunan dari Kanjeng Nabi Adam selow wae, dan santuy. Tidak cem-macem. Karena yang kek gitiuan, lebih banyak ngundang mudharat daripada manfaat. Masih mending ngundang kenduri.

 

Itu sebabnya, keturunan Arab di Indonesia yang tak punya garis sayid atau pun habib, bangkit melawan diskriminasi. Mereka mendirikan Persatoean Arab Indonesia (kemudian berubah partai politik, 1934). Penggagasnya Abdurrahman Baswedan (kakek Anies Rasyid Baswedan, tapi sang cucu beda selera). Baswedan, bukan nama kasta ningrat di Arab.

Klaim keturunan biasanya berlanjut permintaan privilege, keistimewaan. Karena merasa bukan orang sembarangan. Meski lahir di Indonesia, demikian juga ayah-ibu mereka. Dalam Sumpah Pemuda Keturunan Arab, yang digagas AR Baswedan dkk., mereka mengajak keturunan Arab di Indonesia meninggalkan isolasi sosial dan eksklusivitas terhadap masyarakat adat Indonesia.

Kasus nyaris serupa, sebagaimana terjadi di peziarahan salah satu walisanga, yang menjalani laku wadat alias tak menikah. Di kompleks makamnya bisa, kita temu dua lembaga mengatasnamakan sebagai keturunan sang wali. Celakanya, dua lembaga itu saling klaim sebagai keturunan yang sah. 

Apa keburukan dari klaim keturunan orang hebat itu? Itu contoh krisis legitimasi, atau bahkan krisis identitas. Tujuannya? Mungkin untuk mengatrol posisi atau status sosial. Di semua peziarahan walisanga, yang semuanya ramai, betapa kencang arus perputaran duit. Acap kita jumpa, segala fasilitas umum, gedung dan infrastruktur kawasan itu, sumbangan pejabat, yang mungkin kaul atau nadzar karena permohonannya makbul.

Ketika saya mengerjakan program dokumenter para kyai pesantren di Jawa dan Madura, saya bisa rasakan dampak langsung dan tak langsung, antara agama dengan duit. Ada kyai dikejar-kejar bank agar mau berutang. Sang bankir tahu, perputaran uang di pesantren sangat tinggi. Nyantri memang sangat murah. Dapat makan-minum-mandi-tidur plus ilmu. Tapi yang murah itu, jika dikali belasan ribu santri, dalam tiap bulan?

Saya tidak dalam rangka sinis atas hal itu. Pokok bahasan tulisan ini, lebih mengenai mereka yang memakai agama sebagai legitimasi status sosial, atau desakan privilege belaka. Sama sekali tak berkait ilmu dan moralitasnya. Ada banyak orang bukan sembarangan di Indonesia ngeklaim sebagai turun nabi. Tapi jarang sebagaimana dilakukan Gus Mus, KH Mustofa Bisri, yang bisa menunjukkan garis sanad keilmuannya hingga ke sumber asali. 

Kebanyakan hanya sibuk ngurus garis nasabnya doang. Sanadnya? Nomor 69, sebagai posisi paling nikmat!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, May 26, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: