Ngaji Kitab

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Ketika meneruskan peran Ayah saya sebagai guru ngaji di beberapa majelis taklim sepeninggal Beliau, saya mulai memulainya dengan mengubah beberapa hal.

Dahulu Ayah saja mengajar beberapa kitab, kadang tafsir, kadang fiqih, dan kadang tasawuf. Untuk masing-masingnya Beliau menggunakan kitab berbahasa Arab dengan sedikit modifikasi.

Jamaah tidak membawa kitab asli, tetapi dibagikan fotokopian salinan dari kitab aslinya. Ayah saya menyalin dari kitab dan menuliskan dengan tangan, lalu menyertainya dengan terjemahan bahasa Indonesia namun ditulis dengan aksara Arab melayu atau Arab pegon.

Pada saat pengajian berlangsung, lembaran fotokopian itulah dijadikan pegangan, dalam arti jamaah diminta ikut membaca bersama-sama dengan suara keras sambil mengikuti bacaan Ayah saya. Kata per kata dibaca, baik Arabnya maupun artinya, hingga beberapa kali. Kemudian Beliau berceramah menjelaskan dalam bentuk uraian.

Terakhir giliran jamaah diminta untuk bertanya kalau ada hal-hal yang dianggap masih kurang paham. Dan pengajian ditutup dengan pembacaan doa dipimpin oleh Ayah saya.

Biasanya pengajian model begini dijalankan rutin seminggu sekali.

Pas giliran saya yang jadi gurunya, saya mengubah gaya pengajian. Saya tidak membagi-bagikan fotokopian kepada jamaah, juga tidak menyalin dari kitab sebagai bahan pengajian.

Tapi saya bikin makalah dalam bahasa Indonesia, lengkap dengan kutipan berbahasa Arab kalau pas ada ayat atau hadits atau atsar para ulama, juga ada footnote kalau memang ada rujukannya.

Sengaja saya menghindari mengaji dengan cara membaca kata per kata yang dimaknani, karena dalam pandangan saya tidak terlalu banyak manfaatnya buat jamaah. Alasannya ini pengajian mingguan, kadang malah bulanan, kurang cocok ngaji dengan cara membaca kata per kata bahasa Arab lalu dimaknai satu per satu. Nanti ngajinya nggak kelar-kelar. Cocoknya cara seperti itu di pesantren, yang ngajinya tiap hari rutin tanpa henti.

Lagian, setelah saya usut, jamaah pengajian warisan Ayah saya ini toh pada nggak paham bahasa Arab juga. Membaca Arabnya saja pada blepotan, apalagi membaca terjemahnya yang menggunakan aksara arab melayu. Wah ribet amat. Saya saja sebagai gurunya menyerah angkat tangan kalau disuruh menerjemahkan pakai aksara arab pegon kayak gitu.

Maka saya ganti saja pakai makalah ilmiyah. Jadilah tiap seminggu sekali saya menulis makalah. Lumayan juga sih, jadi produktif menulis. Dan akhirnya semua judul makalah yang sudah saya rencanakan itu saya tulis semua sampai selesai untuk 40 judul. Ini berarti saya punya stok untuk pengajian setahun ke depan.

Ketika jamaah tahu bahwa semua makalah itu sudah selesai saya tulis, mereka usul bagaimana kalau semua makalah itu langsung diterbitkan saja menjadi buku. Biar kita mengaji bukan lagi baca makalah, tapi sudah dalam bentuk buku tebal.

Tiap minggu kalau datang mengaji, bukunya dibawa untuk dibaca dan dibedah. Lagian toh bukunya sudah berbahasa Indonesia, semua pasti paham dan mengerti, tidak perlu dimaknai kata per kata lagi.

Dan pada akhinya saya malah wajibkan mereka untuk membaca dulu di rumah masing-masing sebelum datang mengaji. Biar nanti pasti di pengajian, mereka sudah punya bahan kalau ada yang mau ditanyakan.

Dan diakhir, setelah agenda tanya jawab, saya pun membagikan soal post test kepada jamaah dalam bentuk pilihan berganda. Cuma 5 soal dan tidak dinilai juga, tapi cukup lumayan bisa agak sedikit 'memaksa' jamaah untuk belajar dulu sebelum datang ke pengajian.

Mengaji itu menuntut ilmu, bukan sekedar datang bersosialisasi. Setiap datang pengajian harus ada ilmu yang bisa dibawa pulang. Miniam ada tambahan ilmu baru. Dan semua bisa terlaksana, ketika jamaah diberikan bahan bacaan sebelumnya, biar mereka belajar di rumah terlebih dahulu.

Ketika datang di majelis taklim, mereka sudah punya basic dan bahan kajian sebelumnya. Kajian bisa digunakan untuk pendalaman.

Salah satu keuntungannya, jamaah jadi punya kitab rujukan dalam pengajian. Ngajinya bukan ngaji nguping doang. Dan buat saya, minimal saya jadi produktif menulis buku.

Kata guru biologi saya, ini namanya simbiosis mutualisme.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, August 6, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: