Ngabalin Yang Pasti Nyebelin Fadli Zon dan Fahri Hamzah

Oleh : Budi Setiawan

Suka tidak suka komunikasi politik adalah sebuah pentas adu citra yang tarik ulurnya tergantung sejauhmana media menangkap kemudian menggorengnya. Berita model ini menggiring banyak orang menjadi pemandu sorak yang makin kubu-kubuan. Saling sahut-sahutan. Berisik luar biasa. Makin berisik makin untung media. Wartawan yang kata Pak Prabowo gajinya kecil bisa makan nasi padang agak mahal dengan dua lauk karena banyak yang like atau share beritanya.

Untuk bisa makan seenak itu atau menu mewah sate kambing 10 tusuk dan tongseng plus es jeruk, wartawan harus cari berita yang bombastis dari orang yang juga bombastis. Orang itu adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon atau 2 F yang Fnya bisa diartikan apapun. Kawan media memberitahu bahwa setiap berita soal komentar dua orang ini selalu dilahap habis dan dishare banyak. Jadi duit media tergantung dari dua orang ini.

Fahri dan Fadli sadar sekali perannya sebagai angsa bertelur emas buat media. Mereka tahu apapun yang muncrat dari mulutnya laksana emas bagi media. Makin bau muncratannya makin laku medianya. Jadi ada azas manfaat disini.

Bagi Presiden Jokowi, arus komunikasi politik demikian ini menciptakan persepsi yang tidak berimbang. Mulut Fahri dan Zon bagaikan karat yang perlahan bisa membuat bangunan persepsi yang Jokowi bangun dengan susah payah.

Mereka yang tidak suka Jokowi kerap kali mendompleng komentar Fahri dan Zon untuk melancarkan serangan. Kaum mabok agama yang cuti nalar mencari pendukung dan pembenaran dengan tujuan menyakinkan masyarakat bahwa .. ya.. Jokowi sontoloyo.. tuh lihat Fahri dan Zon ngomong apa soal Sang Presiden. Sudah begitu, ada Tungku yang mengkloning gaya dua politisi itu dengan twitteranya yang sama ngawurnya tapi rasa agama.

Para penasihat Jokowi mungkin melihat fenomena ngawur yang makin dipercaya oleh banyak masyarakat ini sebagai hal yang mengkhawatirkan. Fahri dan Zon tidak bisa dikalahkan oleh gempuran citra Jokowi yang tanpa lelah blusukan atau meresmikan ratusan jembatan. Pasalnya, media selalu mengkutip aneka komentar dua orang itu. Jadi mesti ada lawan tanding yang sama-sama jago congor yang bisa menarik perhatian media untuk tidak terus menerus mengutip Fahri dan Zon.

Dan orang itu adalah seasonal politician atau politikus kawakan Ali Mochtar Ngabalin. Dia ditunjuk Presiden Jokowi sebagai staf khusus yang apapun namanya sudah siap sedia dengan tugas menjadi konter komentar ngawur dari entahFahri, Zon atau pecatan FPI Novel Bakmumin atau penceramah dobol. Dia bakal juga membilas mulut Kotot dan gerombolan 212 dengan komentar yang sama pedasnya.Dia akan menjadi magnet baru media.

Sosok Ngabalin yang kontroversial ini selalu menjadi media darling karena komentar "mulut besar" dan gayanya yang meledak-ledak. Apapun komennya bakal menarik ratusan ribu like dan ribuan share. Jadi media dapat uang yang sama atau lebih besar ketimbang mengutip Fahri dan Zon. Apalagi dia tahu benar isi perutnya Gerindra dan Yusril. Jadi gampang bagi media untuk diadu-adu komentarnya dan jadi berita.

Ngabalin akan membuat dua orang ini teriak-teriak cari perhatian. Twitterannya yang selalu ngawur akan ditimpali Ngabalin dengan gaya bacotannya yang khas dan menyegarkan. Pada akhirnya yang diharapkan Jokowi adalah runtuhnya panggungnya Fahri dan Zon karena komennya tidak laku lagi dan dijauhi media.Demikian juga gerombolan munafikun yang pakai bendera agama sebar fitnah.

Jadi kedepan, gaya congoran Ngabalin benar-benar nyebelin. Akan banyak yang menderita kram otak karena tidak kuat menangkis serangan media Ngabali

Siapapun yang menang dalam pertarungan komunikasi publik ini, yang menang banyak adalah Media.

Dan tentu saja pemenangnya juga adalah Jokowi. Sang Presiden mungkin tertawa terpingkal-pingkal ketika Ngabalin dengan gaya khasnya bilang,

" Jangan takut Pak Jokowi, nanti akan saya bikin semua jadi kecebong pada waktunya."

Selamat bekerja Eddie Murphy dari Tanah Juang Tataran Bumi Nuhu Evav. Buat kami tertawa.. Tekuk lidah-lidah jahat mereka sampai teriak, "Iyeekk.. Ampun Ustad.."

Sumber : facebook Budi Setiawan

Thursday, May 24, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: