Ngabalin Merapat ke Jokowi , Butuh Jiwa Besar Menerimanya

Oleh: Kajitow Elkayeni

Banyak yang ngamuk ketika Ngabalin merapat ke Jokowi. Orang yang dulu berkata lantang, 'Kita paksa Tuhan menjadikan Prabowo Presiden' itu resmi jadi cebong. Tidak main-main, dia kebagian stafsus urusan dakwah. Di kelompok sebelah, namanya tentu sudah dicoret. Kalau perlu dimaki dan dikutuk.

Ngabalin adalah contoh, politik itu cair. Tidak ada yang benar-benar hitam-putih. Pilihan logis Ngabalin tentu merapat ke Jokowi. Partainya, Golkar, sudah selesai. Ia harus mengambil sikap jelas atau didepak. Lagipula, sekarang dia tentu paham, Jokowi tak seburuk dugaannya.

Menerima orang seperti Ngabalin perlu jiwa besar. Memaafkan jika ada kesalahan. Sebaliknya, itu upaya untuk menebus kesalahan Ngabalin di masa lalu, jika memang ada. Ini adalah kesempatan kedua untuknya guna memperbaiki diri.

ia tentu paham luar-dalam kelompok yang pernah dibelanya. Bagaimana permainan dan fitnah bekerja. Ngabalin mungkin tidak ikut proyek fitnah itu, tapi setidaknya dia tahu. Karena dia tahu, tentu dia paham cara memadamkannya. Mestinya, masih ada orang-orangnya yang setia di sana.

Saya pikir ini tidak buruk. Ngabalin, selama dia membela kebenaran, tentu harus didukung. Offside ya dilawan.

Foto Ngabalin ketika di istana cukup mencengangkan. Sikap "sendiko dhawuh" itu sudah bercerita banyak hal. Ia telah melakukan lompatan maha hebat dalam kisah perpolitikannya. Ia membungkuk, merapatkan tangan, mencium ibu jarinya, sebagai tanda takluk.

Berbalik arah itu soal pilihan. Banyak orang telah melakukannya. Pilihan Ngabalin tentu bagus, realistis, dan berguna.

Tentu ada foto-foto lain yang nadanya mirip Ngabalin. Fadli Zon dan Fahri Hamzah tempo hari juga memperlihatkan gestur yang sama. Secara langsung mereka berdua hormat dan segan pada Jokowi. Tapi di luar, mereka berdua harus berakting jadi oposisi. Yang bodoh tentu pengikutnya. Mereka sih baik-baik saja.

Suatu hari, Duo F yang terkenal gemblung itu jadi cebong, apakah mungkin? Bisa jadi. Semuanya mungkin.

Jika sedikit-sedikit baper karena peristiwa politik, kau akan kena stroke. Woles saja, dibuat ketawa. Tidak ada yang perlu digawat-gawatkan. Orang-orang seperti Ngabalin ini perlu diruwat, kemudian dirawat.

Yang penting pegang asas utamanya. Selama politikusnya lurus ya didukung, kalau sudah belok-belok ya dihajar.

Apakah semua menteri Jokowi baik? Belum tentu. Apakah semua relawan jokowi cerdas dan bijak? Penyusup receh juga ada. Tidak ada yang aneh dengan fenomena demikian. Borok semacam ini tak perlu ditutupi. Menteri tak bisa kerja ya dikritik sepedas mungkin. Relawan dongo ya disetrap, suruh angkat sebelah kakinya sambil pegang kuping.

Ngabalin, politikus kelahiran Papua itu sudah mengibarkan bendera putih. Ini tentu pukulan telak bagi sebelah. Meskipun pendukung Jokowi juga ada yang tampak gelisah.

Di titik inilah kita mestinya memandang realitas politik sebagai sesuatu yang semu. Tidak ada kemestian di sini. Segalanya serba mungkin.

Kawan bisa jadi lawan, dan sebaliknya. Bagi saya, Ngabalin ini tidak berbahaya. Justru malah lucu. Lihat bagaimana dia sungkem itu. Bagi saya itu lucu. Dan hal lucu begini ya tak perlu dikhawatirkan. Malah kalau perlu diucapkan selamat datang.

"Nanti kalau mulutnya offside bagaimana?"

Lho memang itu spesialisasinya. Kita harus menyerahkan urusan nyocot ini pada ahlinya. Mestinya yang pusing itu mereka, bukan kita. Selamat datang Ngabalin, menyala(k)lah dengan penuh wibawa...

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Thursday, May 24, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: