New Normal untuk Pensiunan

 

Oleh: Satria Dharma

 

Bagi pensiunan seperti saya diminta untuk menerima situasi ‘new normal’ saat ini sama artinya dengan diminta untuk pensiun untuk yang kedua kalinya. Dulu bekerja from 9 to 5 lalu disuruh berhenti bekerja agar bisa menikmati waktu sepenuhnya untuk diri sendiri. Okelah…! Bagi pensiunan everyday is a holiday dan saya harus bikin sendiri jadwal rutin agar tak merasa useless dan kehilangan semangat hidup. Jadi saya bikin kegiatan ‘new normal’ supaya hidup terasa normal kembali.

Jam 3 pagi saya sudah mulai kegiatan ritual saya bersyukur pada Tuhan. Kalau ada waktu saya juga buka HP yang sejak semalam tidak saya sentuh. Begitu adzan Subuh terdengar saya bangunkan anak-anak untuk salat Subuh berjamaah. Sejak adanya Covid 19 ini kami selalu salat berjamaah di rumah tepat waktu. Ini termasuk ‘new normal’ karena biasanya saya ke masjid dan anak-anak salat sendiri. Bagi saya ini luar biasa. Bisa salat berjamaah lima kali sehari tepat waktu bersama anak dan istri selama lebih dari dua bulan adalah prestasi yang luar biasa bagi kami. Kami juga salat tarawih dan Iedul Fitri di rumah. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya jadi Imam dan Khatib salat Iedul Fitri meski jamaah saya hanya sekitar sepuluh orang. 

 

Selesai salat Subuh saya baca Alquran dan untuk ‘new normal’ ini saya tambahi dengan baca tafsir Al-Misbahnya Quraish Shihab. Dulu sudah pernah saya baca tapi tidak pernah selesai. Lha wong ada 15 volume yang setiap volumenya tebalnya 700-an halaman.

Sekarang saya hanya tambahi waktu dan intensitasnya saja. Jam 7:30 waktunya olahraga pagi bersama istri jalan kaki keliling kompleks. Biasanya sih cukup setengah jam kecuali kalau kami gunakan jalur ke pasar. Kalau jalurnya ke pasar kami biasanya sekalian belanja. Tapi belakangan ini ada info beberapa penjual kena Covid 19 dan diisolasi. Jadi untuk sementara waktu kami tidak olahraga ke arah pasar dulu. Ngeri juga kalau ketemu penjual yang tertular tapi tidak ketahuan. Pulang olahraga saya leyeh-leyeh sebentar baca koran Jawa Pos dan Surya. Istri langsung masuk dapur untuk mempersiapkan sarapan. Setelah selesai mandi biasanya sarapan telah tersedia dan saya turun untuk sarapan.

Jam sembilan pagi saya telah segar setelah mandi dan kenyang setelah sarapan.. That’s the end of my morning ritual. Itu enam jam ritual saya setiap hari.

Jam-jam berikutnya adalah bersenang-senang… 

Saya leyeh-leyeh duduk di kasur saya dan buka HP menikmati semua keriuhan di dunia yang dihadirkan melalui HP saya. Saya menerima dan mengirim posting di FB, menikmati dan berbagi video menarik, mengomentari ini dan itu di belasan WAG yang saya ikuti, menjadi admin sebuah grup FB dengan menyeleksi seratus lebih anggota baru yang mendaftar, dll. Kegiatan ini bisa makan waktu berjam-jam sampai datangnya waktu salat Dhuhur nanti.

Kegiatan bersenang-senang lainnya adalah duduk di depan komputer dan menulis. Seperti yang saya lakukan saat ini…. Biasanya kalau sedang didatangi oleh Cak Ilham maka saya langsung menulis sepulang dari masjid dan mengundurkan jadwal ritual lainnya setelahnya.

Ada yang bertanya pada sebuah posting saya yang panjang di FB, “Berapa lama Pak Satria menulis artikel ini?” Tidak tentu. Tapi sekitar setengah sampai dua jam. Kalau tidak perlu membuka referensi atau tautan setengah jam sudah selesai tapi kalau saya harus memberikan referensi dan informasi lebih detil maka bisa sampai dua jam baru selesai. Lebih dari dua jam kepala saya sudah keluar asapnya saking panasnya. Otak pensiunan memang tidak bisa dipakai terlalu lama. Ada masalah stamina. 

Jadi apa ‘new normal’ bagi pensiunan bagi saya? Yang jelas saya akan kehilangan beberapa kesenangan khas pensiunan seperti ngajak teman-teman hang out dan ngopi-ngopi, baik di rumah atau pun di mall. Saya dan istri itu suka makan di luar dan boleh di kata hampir setiap hari makan di resto langganan di beberapa tempat. Kami juga suka nonton di studio XXI jika ada film baru, window shopping dan sesekali belanja di mall. Ini sudah dua bulan lebih kami tidak melakukannya. And we’re just fine. Saya tidak terlalu merasa kehilangan… Mungkin istri saya yang lebih kehilangan karena ia biasanya setiap hari bekerja mengurusi kantin kampus dan homestay yang terpaksa harus ditutup karena pandemi ini. 

Tapi ada satu kesenangan yang mulai kami rindukan bersama, yaitu travelling… 

Kami berdua suka bepergian jalan-jalan ke berbagai kota dan negara sekedar untuk menikmati suasana baru. Tahun ini mestinya kami jalan-jalan ke luar negeri lagi dan kami sudah ancang-ancang ke West Coast USA. Empat tahun yang lalu kami sudah East Coast USA dan Kanada dan tahun lalu kami ke Negara Balkan. Kalau untuk dalam negeri sih kami bisa bikin program SAHASATA alias jalan-jalan Satu Hari Satu Kota. Dalam seminggu kami bisa mendatangi enam kota sekedar untuk memuaskan kesenangan jalan-jalan kami. Tadi pagi sambil olahraga jalan kaki saya tanya istri saya mana yang lebih ia suka, travelling ke West Coast USA atau negara-negara Eropa yang belum didatangi. Dia melengos saja karena tahu bahwa tahun ini kami tidak mungkin pergi ke luar negeri. Pertanyaan saya itu sekedar ungkapan rindu jalan-jalan seorang pensiunan yang mulai bosan setelah hampir tiga bulan ngendon di rumah. 

Jadwal jalan-jalan kami ke LN biasanya kuartal ketiga tiap tahunnya, antara September – Desember. Tapi dengan adanya pandemi ini jelas tahun ini kami akan absen untuk travelling ke LN. Mungkin juga sampai tahun depan. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda turisme akan dimulai lagi, di mana pun itu. Belum ada yang berani ambil resiko.

Mudah-mudahan pandemi akan berakhir and we’re back to normal again, yang maknanya bagi kami adalah bisa travelling lagi. Bagi orang yang berkaki gatal seperti saya tidak bisa travelling itu semacam hukuman juga. Tapi untunglah bahwa saya termasuk orang yang beriman dan beramal saleh sehingga ‘dihukum’ tidak bisa travelling ke mana-mana saya terima dengan lapang dada.  Baiklah…saya akan lebih banyak ngaji dan membaca saja. Sponsor yang biasa membiayai travelling saya juga akan saya minta untuk bersabar. Simpenen are duwitmu, Bro. Nanti kami kabari kapan waktunya untuk jalan-jalan lagi… 

Surabaya, 30 Me1 2020

 

(Sumber: Facebook Satria Dharma)

 
 
Tuesday, June 2, 2020 - 15:30
Kategori Rubrik: