New Normal, Transisi Lembut Menuju Indonesia Waras

ilustrasi

Oleh : Setyo Hajar Dewantoro

Saya sebenarnya gemas dengan kebijakan new normal ini. Saya lebih suka teriakan revolusioner ala Soekarno: "Go to hell with your Corona hoax". Lebih heroik jika kita betul-betul melawan tekanan internasional lewat WHO dan berdikari sepenuhnya dengan keputusan yang 100% benar: hidup normal saat ini juga. Tapi saya sangat mengerti posisi dilematis Presiden Jokowi, dan memaklumi keputusan yang terbilang moderat untuk konteks situasi saat ini. Jadi saya manut dan mendukung Presiden sepenuhnya.

Baik, saya akan mengajak Anda untuk menyelami dulu issue ini secara out of the box agar mengerti bahwa keputusan hidup normal sepenuhnya saat ini juga sebenarnya bukanlah kegilaan dan kecerobohan. Setelah itu baru kita analisa dasar pengambilan kebijakan new normal oleh Presiden.

Pertama-tama saya mau cerita, bahwa sepanjang issue Corona bergulir, sejak dinyatakan ada yang positif Corona di Indonesia, saya terus keluyuran juga terus mengajar. Saya keluyuran ke Thailand, Myanmar, Skotlandia dan ke beberapa kota di Indonesia. Sebelum ada PSBB saya masih mengajar untuk kumpulan dalam jumlah besar di berbagai kota, tentu tanpa social dan physical distancing. Saya sempat tertahan di Palembang 2 minggu karena jalur udara sempat ditutup, lalu keluyuran lagi untuk mengajar di berbagai kota - kali ini dalam kumpulan-kumpulan kecil menyesuaikan dengan aturan PSBB. Nah, kaitannya dengan issue Corona adalah bahwa saya telah ikut rapid test 3 kali di Palembang, Bekasi dan Bandung, tentu semua hasilnya negatif. Lalu, semua orang yang pernah berjumpa dengan saya, dan saat ini kami semua saling berjabat tangan bahkan saling berpelukan, tetap sehat tidak ada yang dilaporkan masuk rumah sakit akibat terpapar Corona. Lebih unik lagi, saya punya murid ribuan tersebar di berbagai daerah juga tidak ada yang diberitakan kena Corona. Jika ada yang kena pasti tahu, karena jika mereka atau anggota keluarga mereka ada yang sakit apapun itu umumnya menghubungi saya minta diberkati, atau beritanya pasti tersebar di dalam komunitas. Lebih lucu lagi, saya tidak punya kenalan dan tetangga yang kena Corona. Termasuk kenalan saya yang ketakutan pada Corona juga tidak ada yang terkena sakit Corona. Nah, ini perlu Anda ungkap: adakah kenalan atau saudara Anda yang benar-benar sakit Corona. Buat saya sih sebenernya Corona ini sekadar issue media: bukan realitas keseharian saya. Kenyataannya adalah memang ada yang sakit dan ditangani dengen protocol covid 19. Tapi belum pasti apa penyebabnya.

Kedua, karena kadung pernah dites, saya jadi pelajari apa itu rapid test dan PCR/swab test. Rapid test ini cuma test untuk menguji di dalam tubuh Anda ada reaksi yang menunjukkan keberadaan antibodi atau tidak. Jika tak ada reaksi berarti negatif jika ada reaksi berarti postif. Jika positif bukan berarti Anda kena Corona tapi di badan Anda ada virus atau bakteri entah apa itu, harus diselidiki lebih lanjut.

Sementara itu, PCR/swab test memang bisa memastikan di dalam badan Anda ada virus atau tidak, tapi tidak dengan pasti menjelaskan itu virus apa, juga apakah itu virus masih hidup atau mati. Di sinilah kemudian subyektivitas tim dokter yang bermain, karena merekalah yang menentukan nasib Anda. Anda dinyatakan terkena apa itu terserah mereka.

Nah, jika kemudian ada pernyataan 23 ribu orang lebih kena Corona, sebetulnya juga bukan kepastian. Kita dalam posisi mau tak mau hanya harus percaya karena mayoritas kita tak punya akses dan kesempatan untuk membuktikan. Jadi dalam hal ini sains sudah berlaku seperti agama, menuntut kita beriman secara buta. Sebenarnya temuan Lembaga Bio Molekuler Eijkman bahwa virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan 3 tipe Corona yang ada di dunia. Ini sebenarnya bisa jadi dasar mempertanyakan, benarkah beneran ada virus Corona di Indonesia?

Tapi ya kita tak perlu menyalahkan pemerintah dalam hal ini Kemenkes yang secara formal menyatakan virus Corona memang ada - mereka ditekan WHO. Bukankah WHO yang memaksa kita menetapkan situasi darurat kesehatan? Saya memaklumi jika Presiden Jokowi mengikuti alur permainan ini karena tekanan dari dalam dan luar negeri sangat kuat. Saya maklum strategi perlawanan yang diambil Presiden ini gaya halus, tidak frontal, ngeles ngeles dikit, yang penting selamat.

Lebih jauh, publik tak pernah mendapatkan penjelasan yang memadai berbasis data akurat untuk bisa mengerti betapa virus yang sedang jadi epidemi di Indonesia, apapun itu, sangat berbahaya. Tak ada info berapa peningkatan mortality rate pra dan pasca issue Corona. Tak ada info tentang perbandingan jumlah kematian akibat penyakit-penyakit lain dan kematian yang murni akibat Corona. Jadi sebenarnya tak ada data valid untuk menetapkan seberapa bahaya virus ini. Kita ini cuma korban narasi media, yang tampaknya memang jadi corong oposisi dan kekuatan global yang memainkan issue Corona.

Jika mengacu kepada pengalaman saya pribadi, pengalaman seluruh murid, keluarga besar dan kenalan saya, juga jika mengacu pada kecilnya fatality rate (yang dihitung dari angka kematian murni akibat virus " Corona"), harusnya kita punya kesimpulan: VIRUS INI APAPUN NAMANYA SANGAT TIDAK BERBAHAYA. Dan secara faktual, yang dinyatakan sembuh dari virus ini sudah berjumlah hampir 6000 orang, sekitar 25% dari yang dianggap positif Corona. Berarti ini sakit yang bisa disembuhkan - dan ini lucu karena narasi yang berkembang adalah "kita harus sangat hati-hati dengan virus ini karena belum ada vaksin dan obatnya". Jadi mereka yang sembuh itu diobati dengan apa? Jangan - jangan mereka bukan sakit Corona tapi kena flue, sakit tenggorokan, atau entah apa?

Jadi, berpikirlah, wajarkah kita melumpuhkan banyak sektor perekonomian kita, melumpuhkan kegiatan sosial budaya kita, hanya untuk sesuatu yang tak jelas? Sementara dampak dari pelumpuhan ini sangat jelas: jelas merugikan, negara bisa bangkrut, kita bisa masuk ke situasi resesi yang bisa memicu pergolakan politik. Intinya, saat ini sudah banyak orang menderita dan jika tak ada manuver dari Pemerintah kita bisa binasa karena issue yang sama sekali tak lucu. Oh ya, saya tanya, siapa di antara Anda yang tidak bosan dan gemas dengan situasi ini? Siapa yang tak ingin bisa cari nafkah lagi dengan bebas, kumpul-kumpul dengan teman, wisata kuliner, beribadah di masjid, gereja, wihara dan pura, atau nonton konser dan yoga rame-rame di lapangan?

Nah, saya tahu Presiden Jokowi menghitung resiko pelumpuhan ini. Dan jelas dalam nalar Presiden, ini tak bisa diteruskan. Geliat ekonomi, sosial dan budaya harus mulai dibuka agar bangsa ini selamat. Tetapi Presiden Jokowi tak bisa ambil gaya Bung Karno yang revolusioner. Gaya yang tepat ya harus lembut, disesuaikan kekuatan politik dan kesolidan pemerintah saat ini. Muncullah new normal. Ini tidak ideal tapi memastikan dimulainya kembali geliat ekonomi, sosial dan budaya di negara ini. Pemerintah harus memberi pesan jelas, mereka sangat memperhatikan keselamatan rakyat Harus dijaga juga stabilitas negara akibat kadung banyak warga negara yang jadi korban narasi media, mereka beneran takut pada Corona.

Sampai ada emak-emak yang buat petisi menolak sekolah dibuka kembali, takut anak mereka mati karena Corona. Presiden kan harus mengayomi juga orang-orang yang konyol seperti ini. Saya juga sangat mengerti berapa Presiden Jokowi yang sangat tepa selira pada Kepala Daerah yang masih senang dengan PSBB: biar puas dulu. Anda tahukan kenapa ada Kepala Daerah yang cenderung senang memperpanjang PSBB? Apakah karena mereka peduli nyawa Anda? Ah... Tidak sekeren itu. Ada sesuatu yang lain: manis bagi mereka dan pahit bagi Anda.

Selamat mengikuti arus new normal. Tenang saja, ini cuma transisi menuju situasi normal sepenuhnya.

Sumber : Status Facebook Setyo Hajar Dewantoro

Thursday, May 28, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: