A New Amerika

ilustrasi
Oleh : B Uster Kadrisson
Hari ini presiden Joe Biden dilantik sebagai penerus ke 46 pemimpin negara Amerika dengan disaksikan oleh hanya ratusan undangan yang hadir. Pertama sekali dalam sejarah Amerika, seorang presiden diambil sumpahnya dihadapan para tamu yang tidak lebih dari segelintir. Karena situasi yang tidak memungkinkan akibat wabah pandemi Covid-19 yang telah memakan korban 400 ribu warga Amerika, yang menjadikan mereka seperti martir. Serta kerusuhan yang terjadi 2 minggu sebelumnya yang memaksa untuk diadakannya pengamanan yang sangat ekstra ketat, yang dalam keadaan ekonomi tertekan seperti saat ini membuat pengeluaran biaya terlihat mubazir.
Tetapi jutaan mata rakyat Amerika dan dunia dipastikan menyaksikankan jalannya acara di pesawat televisi masing-masing. Setiap detail bisa terlihat, bagaikan turut hadir dan duduk di sebelah Lady Gaga atau Jennifer Lopez yang masih terlihat sangat langsing. Sementara itu ratusan ribu lembar bendera Stars and Stripes yang dipasang di taman luas di depan gedung Capitol tampak melambai-lambai ditiup angin. Setiap bendera yang ditanam mewakili spirit rakyat Amerika yang tidak bisa hadir secara langsung untuk melihat acara yang sangat penting.
Sejenak tampak ada sprinkle butiran-butiran salju turun dari langit sebelum acara pengangkatan sumpah dimulai. Bagaikan ingin menghapus duka yang terjadi dua minggu sebelumnya yang membuat demokrasi Amerika yang telah berusia lebih dari 2 abad, jelas telah ternodai. Kemudian tampak sinar matahari menerangi Capitol Dome yang keluar dari balik awan kelabu yang tergantung rendah, sinarnya indah terurai. Bagai memberikan harapan, menunjukkan kalau akan ada perubahan bagi rakyat Amerika khususnya dan juga umat manusia di seluruh dunia di bawah pimpinan pasangan Biden-Harris, bukan seperti yang sebelumnya yang sangat lebai.
Rasanya sangat aneh ketika berjalan menyusuri Avenue dan Boulevard panjang yang terbentang sepanjang mata memandang. Ibukota Washington DC bagaikan seperti sedang menahan nafasnya, jalanan tampak sangat sepi dan lengang. Padahal hanya sejarak beberapa ratus meter di sebelah kanan, sedang terjadi sebuah peristiwa yang ditunggu oleh dunia dan yang bisa merubah masa depan milyaran orang. Ribuan tentara dengan senjata yang siap untuk dikokang mengawal hari yang bersejarah, tetapi mereka tetap memberikan sapa dan tersenyum ramah saat saya dengan pelan berjalan menyeberang.
Upacara terhitung berjalan dengan sangat sederhana, tidak ada tampak keglamouran yang berlebihan dari sebuah negara yang termasuk adidaya. Hanya ada hiasan bendera-bendera besar di latar belakang yang pernah menjadi lambang negara dari masa ke masa. Semua tampak sama dengan garis merah dan putih, hanya jumlah bintang-bintang yang ada di sudut warna biru yang sedikit berbeda. Sedang kursi yang digunakan untuk duduknya para tamu kehormatan, tampaknya hanya merupakan kursi lipat yang biasa saja.
Menyenangkan rasanya ketika melihat mantan-mantan yang pernah menjadi pemimpin sebagai komandan utama saling bertegur dan menyapa. Di Amerika, sebutan untuk para mantan tetap dipanggil Mr. President dan tidak pernah akan berubah. Tetapi rasanya, mereka telah sepakat kalau hanya si Oyen Trump yang tidak akan pernah diterima untuk menjadi anggota club yang paling bergengsi di dunia. Dia sudah kabur dari Gedung Putih pagi-pagi sekali, dan menolak untuk hadir dalam upacara seremonial, bagaikan anak kecil yang ngambek dan marah karena tidak diberi permen lolipop oleh orangtuanya.
Tabik.
Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson
Friday, January 22, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: