New Ahok

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

Mengubah imej diri lewat nama memang gak gampang. Nama panggilan Gie dari Soe Hok Gie, misalnya, sudah terpatri sebagai simbol perlawanan. Menjadi gak menarik ketika nama itu disingkat jadi SHG.

Seperti juga Gie, buat gue nama Ahok (yang jauh dari nama aslinya, Basuki Tjahaja Purnama) juga sudah terlanjur mengandung simbol perlawanan. "Simbol" seorang pekerja keras, tegas dan bersih. "Perlawanan" terhadap kebrengsekan birokrasi, kleptokrasi, dan korupsi. Ahok yang gak diragukan kecintaannya pada NKRI.

Itu yang gue tahu selama ini. Dan andai suatu hari nanti gue ketemu Ahok, bakal susah rasanya untuk bisa mengatur lidah ini biar sanggup memanggil dia, BTP.

Tapi itu kan maunya gue. Ahok sendiri sih maunya ingin melupakan nama masa lalunya yang menyebabkan dia mendekam di Mako Brimob. Lewat buku hard cover berisi catatan harian atau jurnal setebal 641 halaman ini, gue sebetulnya berharap bisa menemukan Ahok sebagai New Ahok. Mau jadi bijak atau relijius, gak masalah.

Tapi terlepas dari itu semua, gue mau mengucapkan TERIMA KASIH pada Pak Ahok yang diam-diam ternyata mengapresiasi tulisan ringan gue tentang dirinya. Dan sebagai bentuk apresiasi itu, akhirnya gue dapat kiriman bukunya.

Terima kasih juga buat Doni, ajudan BTP, yang mengantarkan buku ini ke rumah tapi kita gak ketemu karena selama beberapa hari saya sedang ada keperluan di luar.

Semoga setelah tuntas membaca buku ini lidah gue nanti mampu memanggil anda BTP, Pak Ahok.

Sekali lagi terima kasih.

Sumber : Status facebook Ramadhan Syukur

Monday, July 6, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: