Net-TV Korban Terakhir

Oleh: SUnardian Wirodono

 

Tak jelas menjawab pertanyaan pers, saya kira manajemen Net-TV hanya tidak tahu bagaimana cara berterus-terang mengenai jebloknya bisnis televisi yang dilakoninya. Net TV televisi masa kini? Kayaknya, lebih tepat stasiun televisi ini kayak yang lainnya, televisi masa lalu.

Padahal, konon katanya, stasiun televisi ini dinilai memiliki program yang kualitasnya lebih baik dibanding televisi lain. Bahkan, lembaga pengamat televisi menilai jebloknya Net TV karena selera masyarakat yang rendah, dan masih banyaknya stasiun televisi lain yang mengeksploitasi selera rendah itu dengan program-program yang juga rendah nilainya.

 

Penilaian itu bukan hanya berlebihan, melainkan klasik. Kualitas program Net saya kira tak lebih baik dibanding stasiun TV lainnya. Tak bagus-bagus banget. Siaran-siaran lawaknya, dengan andalan Sule dan Cak Lontong, juga bukan siaran lawak yang dibilang 'cerdas'. Bahkan body-shaming yang dilakukannya menunjukkan kualitas lawak mereka ketinggalan jaman.

Para pengamat TV mestinya hati-hati memberikan penilaian, jika kualitas amatannya hanya soal content atau program. Ada soal feripheral seperti perubahan besar-besaran di teknologi digital yang mempengaruhi perubahan orientasi tontonan dan macetnya dunia broadcasting di Indonesia, yang juga mesti dilihat. 

Pada sisi itu, Net TV rasanya salah masuk saja, ketika tak memberi pembaruan significant, justeru ketika dunia teknologi dan informasi sedang berubah ke internet (padahal sejarah Net awalnya juga mengandalkan tv-streaming di internet). 

Jika Net dikatakan berbeda, mungkin bukan soal kualitas program, tetapi lebih ke target audiens mereka, yakni berfokus pada anak muda perkotaan. Di situ saya kira, dia salah sasaran dalam pengertian salah membaca momen. Apalagi justeru kini banyak tv-streaming yang gampang diakses dengan android.

Sisi lain yang harus diperhatikan, pada kenyataannya coverage area Net TV juga sangat terbatas. Tidak relevan membandingkan dengan stasiun televisi seperti RCTI, SCTV dan Indosiar, yang mempunyai daya jangkau lebih luas. Jika Net pada akhirnya jeblok, kita lihat perimbangan jam siar, materi program, dan jumlah iklan yang masuk. It's very simple. Net TV hanya contoh terakhir tentang kurang tangkasnya membaca perubahan. Ia juga hanya contoh televisi masa lalu.

Apa yang dilakukan TV-One, Kompas TV, Metro-TV, adalah contoh yang lebih bagus, jika kita mau menilai soal diferensiasi. Sepanjang tiga stasiun TV itu memiliki kualitas SDM dan content lebih baik, tak bakalan digusur youtube atau pun Netflix. 

Tiga contoh itu, bukan untuk mengajak semua TV menjadi News TV, tapi maksudnya memilih wajah yang tepat untuk masyarakatnya. Ada banyak ruang yang masih bisa dipilih selain news. Itu soal keberanian dan kepekaan, mau milih keunggulan kompetitif atau keunggulan komparatif. |@sunardian

 

(Sumber: Facebook SUnardian W)

Monday, August 12, 2019 - 07:15
Kategori Rubrik: