Nestapa RS

Ilustrasi

Oleh : Guntur Wahyu N

Penangkapan RS oleh otoritas keamanan Kerajaan Arab Saudi atas tuduhan pemasangan bendera teroris (HTI) yang identik dengan yang dibakar oleh BANSER, menjadi ANTIKLIMAKS bagi gerakan demo dan protes terkait di Indonesia. Peristiwa penangkapan tersebut merupakan tamparan yang teramat sangat keras dan telak bagi kelompok agama politik dan ideologis serta efektif mengakhiri kegaduhan politik dalam negeri menjelang pemilu serentak 2019. Apa yang menimpa RS secara menyakitkan membuka mata banyak pengikut, pengagum maupun pendukung RS bahwa informasi tentang RS yang sangat dihormati dan disegani bahkan biaya hidup RS dan keluarga ditanggung oleh Kerajaan Arab Saudi sama sekali HOAX belaka.

RS yang masih berstatus sebagai tersangka, susah payah melarikan diri dan terlunta-lunta di negeri asing selama lebih dari 18 bulan terhitung sejak 26 April 2017 harus menerima kenyataan pahit terjerat oleh hukum Kerajaan Arab Saudi, memasang bendera yang terlarang. Keberuntungan masih berpihak pada RS sebab pihak kedutaan besar Indonesia di Arab Saudi secara pro-aktif menjalin komunikasi dan upaya diplomatik secara intensif dengan otoritas setempat sehingga RS bisa segera menghirup udara bebas. Apabila pemerintah RI terlambat bertindak, boleh jadi RS akan ditahan dalam kurun waktu yang lama atau bahkan apabila pemerintah KAS menganggap RS melakukan kejahatan yang serius, nasib RS bisa berakhir tragis.

Ada yang mengetengahkan analisa dan spekulasi bahwa pemasangan bendera HTI (HTI dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Arab Saudi) di kediaman RS merupakan false flag operation yang dilakukan oleh pihak-pihak yang kontra denga RS untuk mendiskreditkan RS. Terlepas analisa tersebut terbukti atau tidak, satu hal yang pasti bahwa peristiwa itu memberikan daya ungkit yang luar biasa bagi NU dan BANSER untuk melesat merebut dan menguasai wacana dan pemaknaan simbol perihal bendera itu sekaligus mempersempit ruang gerak kelompok agamis ideologis dan politis untuk menguasai panggung dan ruang publik.

Pemerintah Indonesia perlu memanfaatkan hal tersebut sebagai momentum untuk melakukan konsolidasi secara internal serta memformulasikan terobosan-terobosan maupun payung hukum baru untuk membersihkan ASN, TNI, Polri, BUMN dan lembaga-lembaga pemerintahan/negara lainnya dari anasir-anasir ideologi transnasional agamis. Pemerintah memiliki peluang yang bagus untuk menjinakkan RS, tentu saja dengan term and condition yang ketat setelah sukses menyelamatkan RS dari mulut harimau. Makin sedikit opsi yang dimiliki oleh RS yang kian terjepit. Tentu banyak informasi berharga yang bisa diperoleh dari RS tentang para penyandang dana demo berjilid-jilid, aliran dana, para auctor intelectualis, skenario-skenario gerakan dan demo, operator lapangan, dan lain sebagainya. 

RS tentu tidak menyangka seruannya kepada para pengikutnya untuk memasang dan mengibarkan bendera HTI dimana-mana menjadi bumerang bagi dirinya bahkan membahayakan hidupnya sendiri. Kerajaan Arab Saudi tidaklah seperti Negara Indonesia yang demokratis yang mana RS bisa sesukanya mencaci-maki dan mengutuk. Setelah menghirup udara bebas, boleh jadi RS rindu untuk pulang. Dan boleh jadi Ia teringat akan kata-kata Ahok bahwa setiap orang yang berbuat jahat kepadanya akan dipermalukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Makin masygullah ia sebab konsekuensi dari hasil perbuatan jahatnya dimasa lalu telah mendatangi dan menampakkan dirinya secara nyata.

Sumber : Status Facebook Guntur Wahyu N

Friday, November 9, 2018 - 13:15
Kategori Rubrik: