Nestapa Di Negeri Syam

ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Baghouz, sebuah desa di tepi Sungai Eufrat yang menjadi basis terakhir kekuatan ISIS di Suriah, dibombardir SDF bersama milisi Kurdi sejak 9 Februari 2019. Tanda-tanda kekalahan ISIS mulai terlihat ketika SDF berhasil membuat 3.000 kombatan bersama belasan ribu keluarga ISIS menyerahkan diri, pertengahan Maret lalu.

Menurut data dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), ada sekitar 8.500 milisi ISIS yang terkonsentrasi di Baghouz. Dari 8000-an orang itu, hampir sepertiganya telah tewas dan diserahkan SDF secara bertahap.

Jumlah pengungsi pun terus bertambah. Diperkirakan, lebih dari 72.000 warga sipil telah keluar dari Baghouz, hampir 10 kali lipat dari total perkiraan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

Para kombatan itu adalah para simpatisan ISIS dari Eropa, Asia, termasuk dari Indonesia. Ribuan kombatan itu terkunci di balik penjara, sementara puluhan ribu anggota keluarga mereka, mayoritas perempuan dan anak-anak, mendekam di kamp-kamp pengungsian di Suriah.

Mereka terpikat pada panji kekhalifahan ISIS, menyerahkan masa depan kehidupannya sebagai warga tanpa negara, ditolak oleh negara tempat mereka berlabuh, dan dianggap musuh dari negara-negara tujuan. Mereka juga ditolak oleh negara asal ketika ingin pulang,

Liputan terbaru Tempo di kamp - kamp pengungsian di Suriah ini membuktikan keberadaan mereka. Mimpi besar negara khilafah adalah omong kosong kata para pengungsi ini.

Selamat membaca seri liputan terbaru Tempo. Mari berlangganan jangan cari gratisan, apalagi dowload gratisan. Mereka bertaruh nyawa saat melakukan kerja investigasinya.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Wednesday, June 19, 2019 - 19:30
Kategori Rubrik: