Neokolonialisme Itu Nyata

ilustrasi

Oleh : Robbi Gandamana

Mau mbahas banjir sungkan dibilang sok bijak karena nggak pernah merasakan susahnya kebanjiran. Ngajar-ngajari orang bersabar tapi sama sekali nggak pernah hidup sengsara. Raimu, eh raiku iku sopo?

Nulis soal banjir Jakarta juga beresiko jadi ajang perang antara pendukung Anies dan Ahok di kolom komen. Memfasilitasi para pengecut yang kehidupan seksnya menyebalkan.

---Tapi itulah medsos--> belantara makian, ratapan dan pamer. Walau ada satu dua yang postingannya swejuk. Dadi nek gak siap dipisuhi netizen, ojok medsosan---

Sekarang aku lagi males nulis apa pun. Kemarin saat Natal kepingin pol nanggepi kicauan Ustadz "Jagalah Hati" yang menurutnya mengucapkan Natal itu membatalkan Syahadat. Tapi gak jadi, bosen nulis hal yang sudah jadi polemik tahunan. Dan fatwa seperti itu gampang banget dipatahkan, tanpa perlu pakai ayat. Jadi, apa asyiknya. Nggak ada tantangannya.

Mau nulis perseteruan antara Amrik dan Iran juga sungkan ada yang salah paham. Pasti aku akan dicap Kadrun. Repot Ndes.

Semua kekacauan di Timur Tengah, entah itu sesama bangsa Arab atau Amrik Vs Arab, berawal dari lahirnya Yesus alias Isa Al Masih. Iki serius rek.

Bani Israil nggak mau mengakui Nabi yang bukan dari kaumnya. Umat Nabi Musa ini nggak akan diam sebelum umat selain dia, dia kuasai. Makanya mereka melakukan konspirasi sejak dini. Pelan tapi pasti dunia ini akan dikuasai hingga jadi satu tatanan dunia baru, "New World Order".

Maksudnya mungkin bukan menguasai wilayah, tapi lebih pada sumber-sumber yang menjadi hajat penting manusia. Yang membuat hidup kita tergantung pada mereka. Dan sialnya, kita nggak sadar dan nggak perduli. Sing penting hepi, fak yu ol.

Dan sekarang konspirasi sudah hampir sempurna. Tinggal nunggu kedatangan sang "monster". Apesnya "monster" ini nggak bisa dikalahkan. Hanya Isa Al Masih (yang bangkit dari kuburnya) yang bisa menaklukannya. Iki serius.

Bani Israil selama ratusan tahun berusaha mencuci otak kita lewat seni dan budaya. Entah itu film, musik, fashion, atau seni yang lain. Kalau kamu pecinta film, terutama animasi. Banyak film kartun bertema monster dan sejenisnya. Lewat film-film itulah mereka menanamkan kesadaran di otak sejak anak-anak bahwa "monster" ini adalah teman. Iki serius.

Nggak masalah kamu nonton film, menggemari musik, atau ngikuti fashion mereka. Sing penting urusan agama tetap jalan terus. Biar nggak gampang "masuk angin" oleh ideologi-ideologi kacau.

Ojok salah, Amerika bukan biang kerok konspirasi. Amerika adalah korban utama dari konspirasi. Bani israil sukses menguasai berbagai bidang di negara adi kuasa itu. Karena orang Amrik itu sekuler total dan materialisme --tentu saja nggak semua begitu--. Etos hidupnya hura-hura, kenta kentu ae.

Tapi tenang saja, bangsa Indonesia itu susah dimasuki konspirasi. Bukan karena agamanya kuat, tapi karena nggak jelas. Kita itu bisa dengan mudah berubah jadi iblis ke malaikat dengan sangat cepat. Paginya maling, siangnya sembahyang. Siangnya mabuk, malamnya pengajian. Iki serius.

Penting bagi Amerika untuk melibas Iran. Karena tinggal Iran, negara besar berideologi Islam yang tidak mau tunduk pada Amrik dan sekutunya. Muammar Khadafi, Shadam Hussein sudah berhasil dilenyapkan. Kita yang termasuk negara dengan mayoritas beragama Islam, juga tunduk pada Amrik.

Dan apesnya, tidak ada negara Islam atau yang mayoritas penduduknya beragama Islam yang mendukung Iran. Hanya kelompok-kelompok milisi yang nggak terlalu bisa diharapkan. Arab Saudi sendiri nggak mungkin membela Iran (dan malah bersekutu dengan bani Israil). Disamping sentimen sekte, juga karena Arab punya banyak hutang budi pada Amrik dan sekutunya.

Maka jelas Amrik tidak bisa dikalahkan (untuk saat ini). Ini sudah tertulis dalam kitab suci. Jarene se. Iki serius rek.

Ngomong soal balas budi, jadi ingat Indonesia yang banyak berhutang "budi baik" pada China. Sehingga Indonesia memberi permakluman pada China yang maling ikan di perairan Natuna.

Itu contoh dahsyatnya budi baik. Dengan budi baik, orang tidak merasa telah dipecundangi. Martabat pun nggak penting lagi. Nggak masalah diinjak-injak asal kebutuhannya dipenuhi.

Neokolonialisme di negeri ini tumbuh subur karena rakyatnya gampang jatuh cinta. Kita tidak merasa dijajah karena sering dijuju. Diutangi, dipuji-puji, pokoknya dikasih sesuatu yang menyenangkan padahal ada pamrih busuk dibalik itu semua.

Sudah banyak terjadi koruptor yang dibelani oleh tetangga-tetangga kampungnya. Karena si koruptor ini sudah banyak mengumrohkan tetangganya tadi. Membangun pos ronda, jembatan, bahkan masjid, tapi dia tidak pernah membangun akhlaknya sendiri. Jadi, jangan percaya Robin Hood.

Ojok gampang jatuh cinta. Kalau seorang politisi atau siapapun yang ada hubungan dengan kekuasaan ngasih uang, membangun fasilitas umum, mengumrohkan orang, itu biasa. Itu untuk memprospek dirinya agar dapat banyak simpati dan dipilih lagi. Beda kalau yang berbuat baik itu orang biasa, bukan politisi atau jauh dari urusan kekuasaan.

Kita sekarang ini sedang dijajah! Neokolonialisme itu nyata. Dan kita semua nggak sadar, karena kita terjangkiti penyakit materialisme. Ingin serba wah, sampai utang trilyunan rupiah untuk mbangun ini, mbangun itu. Kita pun menyembah dia habis-habisan.

Kita semakin hari, semakin nggak perduli. Seorang akan dielu-elukan dan dipilih jadi pemimpin jika sudah membangun ini itu. Persetan uangnya didapat darimana dan dengan cara apa. Di masa kampanye, orang sulit membedakan status uang yang didapat dari seorang politisi. Uang sumbangan (sedekah) atau suap.

Makane aku gak melok-melok rek. Aku di luar semua itu. Aku sudah sering bilang, "I don't want to be a part of this sick society!"

Waduh kok dadi nulis yo. Padahal aku males mbahas koyok ngene iki. Tapi iki serius rek.

Sumber : Status Facebook Robbi Gandamana

Wednesday, January 22, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: