Neno Warisman Diusir Dari Batam

Ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Aktivis #2019GantiPresiden, Neno Warisman, dan rombongannya ditahan dan diusir di bandara Hang Nadim, Batam. Insiden pengusiran mendapatkan perhatian publik, hingga menuai kritikan pedas dari publik maupun pengamat.

Setelah Aliansi Peduli Ulama, Front Penegakan Keadilan Sosial (F-PKS) dan Jaringan Muslim Muda Jayakarta (JMMJ) meminta Neno intropeksi agar taubat, kali ini Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo justru memberikan pesan penting buat Neno.

Peneliti senior itu meminta agar Neno belajar sabar dan menahan syahwat politiknya, karena untuk mengganti Presiden ada aturan dan prosedurnya, dus bukan dengan cara teriak-teriak di jalanan. Sebab kampanye ganti Presiden yang dilakukan sejumlah pihak termasuk Neno, rentan menimbulkan gejolak di masyarakat. Pasalnya, tidak semua orang mendukung kampanye tersebut.

Semua pihak yang mengadakan kampanye berpotensi memancing gesekan harus bertanggung jawab akan hal tersebut. Sebab, kampanyenya itu sudah banyak memunculkan penolakan. Sinyal tersebut mulai muncul saat Neno berniat menyambangi Batam. Sejumlah massa sempat menyampaikan keberatan dan penolakan terhadap kedatangan Neno untuk kampanye #2019gantipresiden.

Massa yang melakukan penolakan itu membentangkan spanduk yang bertuliskan ‘Masyarakat Kepri Waspada, Tolak Ujaran Kebencian Pemecah Belah Kesatuan Bangsa’, ‘Masyarakat Kepri Tolak Kedatangan Neno Warisaman CS’ atau ‘Tolak SARA’.

Gerakan atau kampanye ganti presiden yang dilakukan secara massal sangat tidak tepat. Disinyalir gerakan telah ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu. Bawaslu harusnya bisa melakukan investigasi terhadap gerakan Neno dan kawan-kawan, karena diyakini ada hubungannya dengan parpol, dan bisa dikategorikan ‘mencuri start’.

Seharusnya, kampanye itu dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh KPU. Ganti presiden itu kan sebenarnya mekanisme sudah diatur yakni dengan pemilihan presiden. Di Indonesia setiap lima tahun sekali.

Indonesia harus berkaca pada kedewasaan masyarakat Amerika Serikat dalam berdemokrasi.Di AS yang pemilunya empat tahun sekali, tidak ada gerakan ganti presiden sebelum waktunya kampanye. Karyono berharap cara apapun untuk mendulang elektabilitas partai ataupun calon presiden tidak membahayakan masyarakat.

“Syahwat berkuasa boleh saja, tapi jangan mengakibatkan gesekan sosial dan dengan cara yang elegan melalui gagasan yang hebat"

Salam 2 periode untuk NKRI gemilang

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Sunday, July 29, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: