Neno Warisman Bagian Manuver Politik PKS

Oleh : Budi Setiawan

Hitung-hitungan kasar, pak Prabowo siapapun cawapresnya, bakal keok lawan Jokowi. Tapi beliau tetap maju. Kenapa? Untuk menyelamatkan Gerindra bentukannya. Partai ini bakal rontok terpinggir di ubin Parlemen jika Prabowo tidak nyalon. Sandiaga Uno adalah kader penyelamat Gerindra. Yang bakal nyalon presiden selepas 2024 nanti. Jadi Pilpres 2019 ini cuma pemanasan untuk 5 tahun kedepan dan Gerindra tetap eksis.

Sama dengan pak SBY dan partai Demokratnya. Berapapun biayanya, mantan Presiden ini harus mempertahankan partai besutannya untuk tetap eksis di ruang publik. Mas Agus dan pesonanya adalah gula-gula penarik massa.

Tanpa usaha ini, Partai Demokrat bakal terlempar dari gelanggang parlemen. Pak SBY bakal dikudeta oleh kader PD.Direbut jabatan ketua dan sekjennya kemudian dilupakan.

Jadi manuver yang dilakukan PD dan Pak SBY adalah untuk menjaga partainya itu tetap dalam genggaman keluarga dan Agus akan meneruskan kepemimpinannya.

Berusaha tetap eksis juga dilakukan PKS lewat tagar 2019gantipresiden. Sampai-sampai mengorbankan makna suci pergi haji dengan pamer kaos yang mengundang caci maki.

Caci maki adalah modal bagi PKS untuk tetap hidup. Makin dicaci makin seger dia. Dalam konteks itulah Neno Warisman ditunjuk sebagai pencari donor darah dan penangguk caci maki supaya PKS tetap hidup. Dia diperintah untuk buat rapat umum ditempat-tempat yang berpotensi bergolak jika Neno datang.

PKS berhasil memetakan daerah mana saja dia bisa menangguk caci maki dan Neno dipaksa berperan sebagai orang tersakiti. Mana berani Neno ke Bali, Kalimantan atau ke Manado? Mereka akan pilih daerah yang pernah menolak kedatangan Rizieq atau Zulkompor. Atau daerah yang karakteristiknya sama dengan kawasan itu. Jika Lombok tidak dilanda gempa, sejak jauh-jauh hari PKS dan Neno mengacak-acak wilayah itu.

Nabok pakai tangan orang. Itulah strategi yang dipakai PKS agar tetap eksis. Karena jika dia kampanye sendirian tidak bakal laku karena partai gurem ini bokek alias gak punya duit jadi mengandalkan dana pihak lain. Imbalannya, kesetiaan mutlak kadernya yang jumlahnya tidak seberapa.

Gerakan 2019gantipresiden adalah selubung PKS untuk menarik massa baru. Mereka membangun fondasi baru dengan jargon-jargon intoleran dan cita-cita Indonesia Bersyariah serta figur Neno sebagai "bunda Muslim single parent yang terzhalimi."

Tiga jurus ini untuk menarik simpatisan HTI dan kelompok Islam garis keras yang terdesak oleh gebrakan Jokowi menekan gerakan ini lewat aturan dan rangkulan. Tidak heran jika orasinya Neno dan gerombolannya selalu jualan ayat dan mengobarkan intoleransi. Hal mana yang menimbulkan reaksi anti di kalangan masyarakat biasa. Serta berpotensi menciptakan konflik horizontal.

Jadi jika ada yang termakan kampanye Neno yang playing victim, sesungguhnya mereka tidak sadar bahwa sudah masuk jebakan betmen PKS.

Mereka cuma jadi remah rengginang dalam kaleng partai gurem yang berjuang agar tidak terlempar dari parlemen. Atau jangkrik aduan yang jika kalah atau mati, partai ini tidak perduli.Malahan senang karena ada korban yang bisa dijadikan untuk meraih simpati lebih luas.

Neno cuma pion PKS yang dibayar perjalanannya dan hidupnya yang tugasnya harus berlagak jadi korban.

Kita wajib tahu cara-cara Gerindra, PD dan PKS untuk bertahan. Agar kita tidak terjebak dalam permainan mereka for nothing.

Karena persoalan sebenarnya ya disitu itu..

Sumber : facebook Budi Setiawan

Monday, August 27, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: