Nenek Moyang Kita Pelaut atau Petani?

ilustrasi

Oleh : Eddy Sinang Trenggono

Apakah DNA bangsa kita pelaut atau petani?
Abad 5 sampai abad 13 bangsa kita masih bangsa Pelaut. Bangsa kita terbuka dan bergaul dengan bangsa bangsa lain. Kita tidak takut berlayar sampai negeri India , China, Pantai utara Australia, bahkan beberapa nelayan kita sampai pulau Madagaskar Afrika Timur ( Diindikasi sejak abad 9)

Kerajaan Kerajaan kita punya armada laut yang canggih ( pada masa itu) sehingga berani membawa ribuan prajurit untuk berekspansi ke negara negara Asia Tenggara.
Saat itu bangsa kita berkarakter terbuka, berani tantangan, percaya diri, agresif/ mendominasi , dan dinamis.
Tak heran Kerajaan Sriwijaya, Mataram Kuno dan Majapahit lebih ekspansionis ( memperluas kekuasaan dengan cara kekerasan /militer).

Sejak Sriwijaya jatuh, Mataram Kuno jatuh, . Majapahit jatuh, Kesultanan Makassar jatuh... Kerajaan 2 Indonesia merubah diri jadi Kerajaan Agraris tidak perhatian pada Laut.
Pelabuhan pelabuhan di pesisir mati.
Para pembuat kapal beralih jadi petani
Para Raja sibuk kedalam , cepat puas, dan sibuk berkonflik dengan sanak saudara nya sendiri atau lebih sibuk mengurus selir selirnya.
Tentara Kerajaan lemah dan pasif

Karakter kepribadian berubah jadi lebih pasif, sabar, menunggu ( panen) , nrimo, tidak suka perubahan dan tidak terlalu suka perang/ konflik
Penjajah Belanda dan Portugis dengan mudah menaklukkan kerajaan Kerajaan di Nusantara yang telah berubah karakter dengan taktik adu domba.

Jadi kemunduran bangsa Nusantara terjadi sejak kita meninggalkan laut / samudra.
Sejak kita memungggungi laut.
Sejak kita berubah dari karakter budaya laut men jadi karakter budaya agraris.

Saat ini bila kita ingin jadi bangsa yg disegani, dan berjaya, kita harus berkuasa kembali di laut.
Sayang Ratu pendekar Laut kita yang pemberani sudah diganti dgn yang cemen.

Sumber : Status Facebook Eddy Sinang Trenggono

Sunday, June 21, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: