Nenek Moyang Kita Bukan Bangsa Primitif!

 

Oleh: P. B. Susetyo dan S. H. Dewantoro

 

Ada cerita keliru yang kadung  disebarluaskan secara massif melalui pembelajaran di institusi pendidikan, bahwa sebelum kedatangan bangsa-bangsa lain, bangsa ini ada pada masa prasejarah, dan merupakan bangsa primitif.  Diungkapkan bahwa peradaban di negeri ini baru terjadi setelah kedatangan berbagai bangsa seperti bangsa China, India dan Arab. Sebelum kedatangan mereka kita ini adalah bangsa yang tidak mengenal tradisi tulis menulis, tidak mengenal ajaran ketuhanan, tidak mengenal teknologi, dan seterusnya

Kenyataan sesungguhnya, negeri ini telah memiliki peradaban tinggi sejak masa silam.  Dan itu tidak mesti dipengaruhi oleh kebudayaan dari bangsa mancanegara.  Ada keotentikan pada kebudayaan dan peradaban kita.

Sebagai contoh, kita punya tradisi aksara sendiri sejak ribuan tahun silam.  Dan tentu saja aksara dipergunakan untuk tulis menulis.  Ada berbagai  tradisi keaksaraan karya otentik leluhur kita.   Kita  setidaknya punya 4 versi, yaitu versi Josono 4436 SM, versi Empu Hubayun 911 SM, versi Ajisaka  77 M, dan versi Empu Galihan 911 M.  aksara adalah lambang bunyi. Bunyi dihasilkan oleh pembentukan rongga mulut, gigi dan lidah.   Ia mengungkapkan kehendak yang terkandung di dalam diri seseorang.  Dan sejauh pencermatan hingga saat ini  -  aksara yang terbentuk lewat proses ini baru aksara Jawa.   Karena aksara lain umumnya terbentuk lewat pengamatan terhadap apa yang ada di luar diri.

Ada asumsi aksara Hanacaraka adalah turunan dari aksara Pallawa dari India.  Salah satu pangkal kekeliruan asumsi ini adalah penetapan Aji Saka sebagai pencipta pertama aksara ini, dan bahwa Aji Saka berasal dari India.

Merujuk pada Serat Paramayoga karya Ronggowarsito, Ajisaka juga bernama Jaka Sengkala ... lahir tahun 704 masa Pancamakala ... ayahnya bernama Mpu Anggajali dari pegunungan Kendeng Selatan ibunya bernama Dewi Saka dari suku Avicaka ... dari India Utara.  Tahun itu semasa dengan  tahun Adam 5088 dan 5260 tahun Matahari.

Ayah Mpu Anggajali bernama Mpu Ramayadi atau Ramadi  yang asli dari pegunungan Kendeng Selatan di pulau Jawa. Hidup Aji Saka ini semasa dengan Maharaja Kaneshaka dari suku Avicaka yang mengadakan ekspansi ke Jawa.   Dan bisa jadi  Aji Saka ikut bersama ekspansi ini.  Terjadi perkawinan antara Aji Saka dengan putri dari keturunan Nie Rah Kie cucu dari Kie Seng Dang dari Pegunungan Kendeng Utara. 

Jadi sebetulnya Ajisaka punya darah Jawa dari jalur ayahnya, dan ketika mengungkapkan kembali aksara Hanacaraka, ia merujuk kepada karya leluhurnya, yaitu Empu Hubayun.

Bahkan sebetulnya, kita punya tradisi aksara yang lebih tua lagi.  Merujuk pada artefak dan manuskrip dari Klothok, kita bisa menemukan aksara dan ajaran yang telah ada sejak 4426 SM.  Aksaranya disebut Jawa Ngawi atau Jawa Nglegena.   Aksara  Jawa Klothok ini dipergunakan untuk menyampaikan ajaran kehidupan Jawa Kuno yang lebih kuna dari tradisi Ibrahim, tradisi Hindu juga Budha.

Aksara Jawa dimulai selalu dengan Ha..yang jelas menggambarkan aksara permulaan yang bisa diucapkan seorang manusia.  Bayi yang lahir, kegiatan pertama yang dilakukan adalah bernafas, dan yang dia ucapkan adalah H...H...H...H.  Maka, aksara Jawa Klothok menggambarkan penyadaran dari manusia Nusantara yang sangat realistis.  Mereka telah kenal akan realitas diri mereka sendiri

Di luar  tradisi aksara, kita punya tradisi lain yang juga sangat tua. Tradisi itu adalah Pawukon. Pawukon itu sudah ada sejak 17 ribu tahun yang lalu atau sekitar 15 ribu tahun SM. Pawukon adalah pengetahuan mengenai wuku-wuku.  Di dalamnya membeberkan pengaruh perwatakan bagi seseorang yang dilahirkan pada wuku yang bersangkutan. Watak pribadi pada masing-masing wuku tersebut dipengaruhi oleh kuasa semesta yang menaunginya, serta atribut yang dibawanya. Atribut tersebut seperti misalnya: burung, kayu pohon dan yang lain. Menimbang  pawukon seperti demikian, bisa kita pastikan bahwa itu hanya bisa terbentuk dalam konteks budaya atau latar tradisi yang maju.

Bahkan, jika kita mencermati satu peninggalan yang dianggap merupakan warisan dari kebudayaan primitif, yaitu sarkofakus, sesungguhnya kita malah bisa menyimpulkan bahwa ini adalah produk teknologi yang cukup tinggi. Siapapun yang membuat sarkofagus pasti mengenal teknologi besi.  Dengan kata lain, mereka bisa membuat peralatan dari besi.  Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa membuat alat dari besi?  Pasti mereka telah menguasai teknik pengecoran logam.  

Dengan menggunakan nalar secara tepat, kita pasti bisa mengerti bahwa jika kita hendak memotong dan melubangi batu secara presisi, pasti dibutuhkan alat dari besi yang bisa berputar.  Dan putarannya harus sangat cepat untuk menghasilkan tenaga potong yang memadai.  Pertanyaannya, apa yang dibutuhkan agar  sebuah alat dari besi bisa berputar?  Jelas membutuhkan listrik. 

Jadi, bangsa pembuat sarkofagus harus sudah mengenal teknologi pengecoran logam sehingga mereka bisa membuat alat dari logam.  Dan mereka juga harus mengenal listrik, karena tanpa listrik tak akan bisa memotong dan melubangi batu secara rata dan presisi.

Dari artefak yang sering disebut sebagai bukti keprimitifan bangsa kita, kita malah bisa  membuktikan bahwa bangsa kita sebetulnya telah memiliki peradaban dan teknologi yang  maju.  Jauh di masa silam, ratusan  tahun bahkan ribuan tahun sebelum Masehi, sebelum kedatangan bangsa-bangsa lain entah dari China, India maupun Arab.

Bukti lain telah ada  peradaban tinggi di Nusantara ini adalah keberadaan artefak di Gunung Padang.  Di situ ada bangunan dengan struktur berlapis, setiap lapis menandai tahun pembuatan yang berbeda, 1.500 tahun SM, 6.000 SM, hingga 10.000 SM.  Itu bisa dibuktikan secara saintifik melalui uji karbon.

Candi-candi yang kita kenal, seperti Borobudur, Sukuh, Cetha, juga mirip seperti itu.  Bangunan-bangunan itu tidak dibuat hanya di  satu masa.  Ada struktur bangunan yang dibuat ratusan tahun lalu, tapi ada bagian yang pasti dibuat ribuan tahun lalu.

Pengungkapan realitas ini, untuk mengkoreksi sejarah yang keliru tentang negeri ini, sangatlah perlu.   Salah satu kegunaannya adalah membangkitkan pride of nation.  Kenyataannya, tak ada bangsa besar yang tidak berbegang pada jatidirinya.

 

* P.B. Susetyo dan S.H. Dewantoro, penulis buku, karya-karyanya ada di www.aksara234.com

Saturday, November 21, 2015 - 14:30
Kategori Rubrik: