Negeri Tua, Semangat Muda (Catatan tentang Lebanon-1)

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Selama kurang lebih lima hari saya keliling Lebanon ditemani oleh "guide handal" yang juga teman baik saya dari Lebanon, Nadim Hasbani. Bukan hanya keliling menikmati keindahan Lebanon, saya juga berdiskusi dengan sejumlah aktivis-intelektual lokal tentang situasi sosial-keagamaan-kultural di negeri yang berusia klasik ini. 

Lebanon memang negeri yang sangat tua. Menurut The Telegraph, ada tiga kota di Lebanon yang masuk sebagai "top 10" kota tertua di dunia: Beirut, Sidon, dan Byblos. Kategori kota tua yang "top 10" ini sekitar 11,000-3,000 SM. Yang masuk daftar "top 10" kota tertua itu, selain tiga kota di Lebanon tadi, juga ada Aleppo dan Damascus (kini Suriah), Susa (Iran), Faiyum (Mesir), Plovdiv (Bulgaria), Gaziantep (Turki), dan Jericho (Palestina). 

 

Dari "top 10" kota-kota tua itu, Jericho yang dianggap oleh para arkeolog dan sejarawan sebagai kota tertua. Yang dimaksud "kota tua" disini adalah kota yang konstan berpenduduk dari zaman klasik hingga kini. Bukan "kota mati". 

Kota Byblos, Lebanon, menempati ranking kedua sebagai "kota tertua" yang berpenduduk sejak 5,000 SM. Dari kata "Byblos" inilah kata "Bible" berasal. Ada banyak situs sejarah kuno di kota ini, termasuk Gereja St John the Baptist yang dibangun sekitar abad ke-12 M. 

Selanjutnya kota Sidon (masih di Lebanon) dibangun dan berpenduduk sejak 4,000 SM. Konon, Jesus dan St Paul pernah mengunjungi Sidon. Begitu pula Alexander the Great. 

Beirut (kini ibukota Lebanon) juga masuk "top 10" kota tertua di dunia. Berbagai peradaban dan imperium dunia pernah menjamah dan menjajah Beirut: Phoenicia, Helenistik, Roma, Arab, Ottoman dan terakhir Perancis. 

Sisa-sisa bangunan peradaban klasik itu masih ada dan bisa dinikmati hingga sekarang. Sebagian hancur (baik dimakan usia maupun akibat perang), sebagian lagi masih terawat dengan rapi. Tapi, meskipun mendapat predikat sebagai salah satu "negeri tertua" di dunia, Lebanon memiliki "spirit muda". 

Sejak dilanda "Perang Sipil" yang cukup lama dari awal 1970-an hingga akhir 1980-an, Lebanon menjelma menjadi "negeri penuh gaya" dengan semangat muda. Kota-kota utama di Lebanon, termasuk Beirut, Byblos dan lainnya, menjelma menjadi "pusat modernisasi" dengan aneka produk dan gaya Barat bertebaran di aneka penjuru. 

Baik kaum lelaki maupun perempuan Lebanon terkenal sangat cakep, modis, stylist, wangi, dan aduhai (tentu saja selain kelompok Salafi kolot. Kalau yang ini mah dimana-mana sama ajah). Gaya berpakaian mereka, baik laki maupun perempuan", "sangat Barat". 

Kecuali di sejumlah kawasan tertentu, sulit menjumpai lelaki berjubah disini. Cara berpakaian kaum perempuan juga sangat casual dan "mbarat". Perempuan berpakaian sekseh, ketat atau bertank top sehingga tampak mlenuk susu dan inemnya sangat mudah dijumpai disini, sebuah pemandangan sangat langka di ruang publik Saudi. Papan iklan dan baliho besar-besar dengan pose perempuan berbikini juga bertebaran dimana-mana. 

Lebanon juga dikenal sebagai produser musik, bintang pilm, dan aneka industri hiburan yang menguasai pasar Timur Tengah. Dari penyanyi elit "era klasik" Fairuz yang disebut "Umi Kultsum"-nya Lebanon sampai yang modern seperti Elissa, Nancy Ajram, Najwa Karam, dan Haifa Wehbe semua ada (Bersambung).

Tuesday, June 11, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: