Negeri Tanpa Oposisi

Lagipula ‘oposisi’ kita, Indonesia, kesannya ‘waton suloyo’, asal beda. Ndak jelas konsep dan arahnya. Cenderung ‘katrok’.

Kritik infrastruktur dengan ‘celotehan’, tidak bisa dimakan. Atau tiang2 LRT ketinggian 

Kritik hutang pemerintah yang keluar malah terkesan hoak. ‘Raja Hutang’, katanya. Aliran investasi Asing, dikomen ‘Antek Asing-Aseng’.

Kritik masalah perdagangan, malah isu ‘impor ikan asin’ digelontorkan, tapi pakai data lama. Menilai kondisi sosial di-isu-kan ‘kriminalisasi ulama’. Atau adzan akan dihapuskan . . .

Masalah HAM, cukup dengan omong Jokowi lebih kejam dari Soeharto, dzalim. Demo ditembaki, KPPS diracuni. Cuma narasi . . .

Yang lucu, muncul juga akhirnya ide dan saran ‘perbaikan’. ‘Bebaskan biaya STNK dan SIM seumur hidup’. Menggelikan tapi sekaligus menyedihkan. Karena meski ndak masuk akal, banyak juga yang percaya . . .

Jadi ?
Ndak usah ‘sok’ oposisi-oposisi-an. Belum ‘cukup umur’. Berdiri di luar Pemerintahan sih, bole2 saja. Mungkin juga diperlukan. Tapi jangan lupa belajar. Belajar berpikir konseptual, berikan ide orisinal tapi yang masuk di nalar. Biar ndak ‘asal beda’ . . .

Tapi jangan digusur juga kata ‘rekonsiliasi’. Bangsa kita telah terbiasa dan akrab dengan kata ‘musyawarah’. Musawaroh, kata mendiang Asmuni, pelawak Srimulat . . . 

Bukan hal yang mudah. Bagi kedua pihak. Yang ‘menang’ harus ber-itikad ‘tanpa ngasorake’. Ndak ada maksud untuk merendahkan. Apalagi jika hati terlanjur dibakar dendam, memang agak susah untuk meredam.

Yang kalah pun tak lebih gampang untuk bersikap ‘legowo’. Perlu memangkas harga ‘diri pribadi’, mengganti dengan harga ‘diri bangsa’. Menghapus kesombongan dengan sikap rendah hati, bukan pula urusan yang ringan.

Perlu jiwa ‘ksatria’. Tak mudah. Apalagi banyak diantara ‘pendukung’ yang tak setuju. Bukankah dalam demo MK tempo hari ada yang teriak, ‘Tolak rekonsiliasi !’ ?

Bukankah juga ada sambutan yang agak miring. ‘Buat apa rekonsiliasi, memang ada masalah ?’. Atau, ‘Kalau mau ketemu, cukup diwakilkan’. Sikap yang provokatif, sombong, sekaligus ndak tahu diri . . .

Kita tunggu saja. Dari kubu yang ‘Kalah’ nanti muncul ‘Siapa’. Ksatria Pemikir nasib bangsa. Dan atau para oposan, tapi yang masih ‘mau dan sudi’ belajar.

Atau justru para ‘preman’ yang berlagak adil, demokrat, dan dengan topeng agama. Yang suka main-main ‘Bandung Lautan Api’. Bakar saja semua. Bakar ! Bakar ! Bakar !

Kami ndak dapat, kalian pun ndak akan rasa dan ndak akan peroleh apa-apa . . .

Kita tunggu saja dengan sabar dan tawakal. Mungkin telah tiba pada satu ‘titik’ dimana kita harus dan cuma bisa bersikap pasrah dan ‘menyerah’ . . .

Pêngèran mbotên saré kok .

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *