Negeri Tanpa Dendam

Ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Sekitar empat tahun yang lalu, ada kasus Renggo Khadafi (11) yang diduga dianiaya kakak kelasnya, Sy (13). Waktu itu - Renggo masih sempat berpesan sebelum meninggal, ”Ikhlas ya Mih.... Renggo sayang Mamih... tapi Sy jangan dipenjara ya Mih, kasihan Mih...”.

Pesan kehidupan luar biasa dari kejadian tragis itu adalah manusia kecil bernama Renggo yang, sadar atau tidak, memiliki kekuatan memaafkan yang penuh kemuliaan. Beberapa waktu sebelumnya, kekuatan memaafkan bernilai kemuliaan yang sama ditunjukkan Suroto dan Elisabeth, orangtua Ade Sara. Ade Sara adalah mahasiswi korban pembunuhan sadis oleh kedua temannya sendiri, HA dan AR. Orangtua Ade Sara secara luar biasa memberikan maaf kepada kedua pelaku.

Negeri ini jadi karut-marut secara sosial—vertikal ataupun horizontal—dipenuhi konflik, permusuhan, kekerasan; bahkan setelah presiden Jokowi memerintah 3 tahun lebih. Sebagian besar dari kita miskin akan kekuatan memaafkan. Negeri ini negeri yang penuh dendam dan kebencian satu sama lain.

Salah satu contoh manusia pemaaf yang luar biasa dan mengilhami dunia adalah Nelson Mandela, yang dipenjara selama 27 tahun oleh lawan politiknya. Dunia takjub menyaksikan peristiwa bersejarah di Afrika Selatan kala itu, tatkala Mandela baru keluar dari penjara.

Ketika ditanya apakah ia masih menyimpan dendam dan kemarahan atas semua kekerasan, penghinaan dan penganiayaan yang dilakukan rezim dan lawan politiknya, dengan tenang ia menjawab, ”Memang ada rasa marah, bahkan takut karena kehilangan kebebasan sekian lama. Namun, jika saya melangkahkan kaki keluar dari penjara dan tetap menyimpan dendam, itu berarti saya masih terpenjara oleh mereka. Karena ingin bebas sepenuhnya, saya tinggalkan rasa marah itu di belakang dan memaafkan semua yang terjadi…!” Selanjutnya, sejak saat itu, masa depan negeri di bawah kepemimpinannya berubah jadi konstruktif.

Romo Prier kini melakukan hal yang sama, dia memaafkan Suliyono yang dengan brutal melukainya – bahkan melukai sebuah kebaktian sakral yang seharusnya dihormati siapapun yang beradab di negeri ini.

Memaafkan, tapi tidak melupakan. Bukan dalam arti dendam, namun hukum harus mengambil peran. Sebab kita hidup di sebuah Negara (hukum). Hukum tidak boleh melupakan semua tindakan yang melanggar hukum. Tanpa komitmen ini, semua sikap mulia memaafkan akan berlalu sia-sia. Dan pada puncaknya, negeri ini akan menjadi negeri barbar.

Kita merindukan sebuah “negeri tanpa dendam” – namun di atas landasan hukum yang kokoh - sehingga semua sikap memaafkan akan membuat negeri semakin kuat dan damai.

It takes a strong person to say sorry, and an even stronger person to forgive…

Sumber :Status Facebook Herry Tjahjono

Sunday, February 18, 2018 - 18:00
Kategori Rubrik: