Negeri Sakau Akut Agama

ilustrasi
Oleh : Budi Kuswanto
Aneh memang pola pikir manusia kadrun ini. Atau mereka mungkin bukan manusia. Cuma tubuhnya saja yang berwujud manusia. Mabuk atas agama yang dianutnya. Agama bukan lagi memanusiakan. Tapi meng-iblis-kan!
Agama jadi alat kebencian. Bukan cinta kasih. Agama sudah menjadi alat menajiskan. Bukan menyucikan. Betapa rendah dan hinanya agama karena ulah penganutnya yang merasa paling beriman itu.
Memang bukan kali ini saja kejadian sejenis. Dimana agama digunakan penganutnya sebagai alat untuk memperbudak dan memaksa. Atau mereka yang mau menjadikan dirinya menjadi budak agama, entahlah. Nanti dituding penistaan pula.
Petugas forensik RSUD Djasamen Saragih, Pematangsiantar - Sumatera Utara dipolisikan. Katanya karena memandikan jenazah seorang wanita yang meninggal. Ditengarai wanita tersebut suspek Covid19.
Pihak RS sudah meminta izin suami. Suaminya juga sudah menandatangani surat pernyataan. Bahwa mayat tersebut akan diperlakukan sesuai protokol kesehatan.
Belakangan suami melapor ke MUI setempat. Karena katanya, mayat istrinya dimandikan oleh yang bukan muhrim. MUI setempat langsung merespon dengan dalil ini-itu. Yang pasti masih seputaran dalil nazis halal-haram dan kopar-kafir.
Lalu dilaporlah ke polisi. Lanjut dengan demo. Lengkap dengan atribut dan uniform kaplingan syurga. Petugas medis kemudian dituduh penistaan agama. Anehnya, aparat kepolisian langsung merespon dengan cepat. Saat ini, status petugas medis sudah menjadi tersangka.
Annying, kan...???
Yaa...
Annying...!!!
Njritttt!!
Saya juga tak habis pikir. Apakah aparat takut karena tekanan? Sehingga dengan cepatnya men-tersangkakan petugas medis? Atau aparat sendiri didalamnya sudah berkarat dengan oknum kadrun? Entahlah. Nanti malah dituding penistaan pula.
Saya sudah habis kamus untuk berkomentar tentang kelompok manusia senggol bacok ini. Tekanan dan pemaksaan tindakan hukum seolah milik mereka. Mereka bertindak seperti Tuhan untuk menghakimi. Menekan dengan massa. Seolah tak ada pekerjaan lain yang lebih penting. Tak ada niat untuk menuntaskan pandemi ini. Malah berdemo dan berkerumun. Atau demo teriak kesurupan marah adalah pekerjaan mereka? Entahlah. Nanti dituding penistaan pula!
Sekarang memang trendingnya kata 'penistaan'...!
Kita prihatin dengan perlakuan yang ditujukan pada paramedis kita. Mereka bertaruh nyawa demi kita. Tapi manusia kadrun itu memang tak mau tau. Pantang ada lubang. Tak perlu mikir. Nyott terus...!
Drun,
dalam situasi begini, saya menyarankan. Sederhana saja kok. Suruh mayat milikmu memandikan dirinya sendiri. Itu pun kalau bisa. Atau kau sendiri yang memandikan dengan risiko kena covid.
Bagaimana kalau kebetulan paramedis perempuan tidak ada? Atau tidak ada yang mau memandikan karena takut? Lalu yang memandikan siapa? Kuntilanak? Atau bawa saja mayat milik kau ke MUI tempat kau mengadu itu. Biar mereka yang memandikan mayat milikmu itu. Susah amat aturan hidupmu...
Lagi pula, manusia normal mana yang naik birahinya melihat mayat binimu yang sudah menua dan keriput? Saya yakin, petugas medis itu masih normal dan memiliki selera tinggi. Mereka bisa mengendalikan dirinya. Mereka tau tugasnya. Tidak sepertimu yang tampaknya tidak normal, melihat mayat keriput pun kau sudah birahi tinggi.
Seharusnya kau bersyukur, mayatnya diperlakukan sesuai protokolnya.
Bagaimana kalau istrimu melahirkan dan yang menolong juga dokter laki-laki? Mau kau laporkan juga juga karena ngobok-ngobok lubang bini kau? Aneh memang kau. Terlalu banyak pula manusia sejenis kau di negeri ini. Sehingga negeri ini tak maju-maju.
Untuk pahlawan kami, paramedis di sana. Semoga kalian mendapatkan keadilan atas perlakuan menjijikkan dari yang bertubuh manusia itu. Berjuanglah untuk kami. Untuk negeri ini. Doa terbaik kami untuk kalian.
Teman-teman,...
Mari! Silahkan kita gas dan support mereka atas ketidakadilan yang menimpa mereka.
S.A.
Sumber : Status Facebook Budi Kuswanto
Thursday, February 25, 2021 - 10:00
Kategori Rubrik: