Negeri Dagelan, Negeri Jaminan

Oleh: Rudi S Kamri

"Makarlah kau, kutangkap sesaat, lalu kujamin, kemudian kau bisa terbang bebas" 

Harus saya akui mulai kemaren saya merasa lelah mencintai negeri ini. Banyak kejadian yang tak terduga dan membuat saya kecewa. Mungkin hanya sesaat tapi cukup membuat saya bertanya-tanya untuk apa selama ini saya begitu vokal membela kebenaran dan akal sehat negeri ini kalau ternyata hasilnya tidak seperti yang saya harapkan.

 

Pada saat harapan rakyat melambung ada pensiunan jenderal TNI impor senjata ilegal ditangkap, kemudian diindikasikan akan digunakan untuk kepentingan makar kemudian dimasukkan ke penjara. Masyarakat bersorak. Polisi dan TNI mendapat puja-puji

Tapi tidak ada hitungan bulan "Esprit de Corp" atau jiwa solidaritas korp yang over dosis dari teman-teman sejawat mulai menciptakan narasi yang melemahkan argumen penyidik Polri dan POM TNI. Dengan dalil Ybs pernah mengabdi kepada republik ini puluhan tahun, rasanya dianggap tidak pantas jadi pesakitan dan ditersangkakan dan macam-macam narasi lainnya.

Lalu puncaknya kemaren Sang Panglima TNI bersabda kepada POM TNI agar sang tersangka mantan jenderal berkumis lebat itu dengan tuduhan impor senjata ilegal itu dibebaskan. Konon pembebasan tersebut dijamin 100 lebih jenderal purnawirawan TNI. Termasuk Panglima TNI sendiri dan Luhut Binsar Panjaitan mau jadi penjamin. Lalu plasss.....bebaslah sang terdakwa.

Ada pertanyaan yang ingin saya sampaikan. Apakah kalau pengabdian guru, dokter atau aparat sipil negara lainnya tidak dianggap pengabdian yang harus dihargai ??? Misal kalau terjadi seorang pensiunan ASN melakukan indikasi kejahatan serupa, ditahan polisi. Lalu apa juga akan dilepas meskipun dijamin sejuta teman- temannya ? Saya tidak yakin.

Suatu diskriminasi perlakuan hukum yang mengoyak-ngoyak rasa keadilan masyarakat kembali menjadi tontonan yang tidak lucu dan tidak mendidik. Saya setuju dengan statement Jenderal Moeldoko, pelepasan Soenarko dari tahanan akan menimbulkan ketidakadilan dan ketidakpastian hukum di negeri ini. Tapi statemen Moeldoko kali ini rupanya tidak berdampak. Sang tersangka tetap keluar dari RTM Guntur sambil memelintir kumisnya.

Saya tidak tahu bagaimana perasaaan para penyidik POLRI dan POM TNI saat upaya keras mereka berujung kesia-siaan. Publik sudah terluka saat kasus sangkaan makar Desember 2016 yang melibatkan Sri Bintang Pamungkas, Kivlan Zein, Rachmawati dll menguap tidak tahu ujung pangkalnya lagi. Apakah kasus Soenarko cs akan terjadi lagi akan seperti itu. Entahlah.

Apapun yang terjadi kejadian ini telah menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di negeri ini. Lalu seperti biasa berkembang berbagai spekulasi, mungkin dia dilepas untuk memancing ikan yang lebih besar. Mungkin dia dilepas untuk meredam keresahannya pasukan khusus yang pernah dipimpinnya. Mungkin dia dilepas untuk meredam keresahan sesama purnawirawan. Bagi saya semua itu preetttlah. Karena apapun alasannya tidak masuk akal sehat siapapun. 

Drama ini bermula karena dia dan teman- temannya sesama pensiunan tentara yang mendukung Capres dari militer yang nyaris kalah (nunggu ketok palu hakim MK). Jadi kalau modelnya kayak begini, kalau kalah tidak legowo lalu buat keributan dan kerusuhan. Lalu melanggar hukum kemudian ditangkap lalu teman- temannya protes minta dibebaskan. Dengan dalih bla-bla-ba mending lain kali mantan militer tidak usah saja ikut kontestasi Pilpres. Karena jadi ribet urusannya.

Rakyat lelah dan hanya mengelus dada melihat drama di negeri dagelan ini. Negeri yang penuh jaminan. 

Karepmulah, sesuka-sukamu..... 
Speechless, hopeless, males dan lemes semangat ini !!!

Salam SATU Indonesia
22062019

Sunday, June 23, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: