Negarawan Atau (hanya sekedar) Petarung

Ilustrasi

Oleh : Iwan H Suriadikusumah

Seperti anda sekalian, saya juga sering mendapat himbauan dari saudara-saudara, kerabat dan sahabat untuk memilih anak, saudara atau teman yang sedang ikut suatu perlombaan di dalam maupun di luar negeri. Himbauannya selalu “…vote si anu demi…..” dan semacamnya.

Saya tidak pernah mengikuti himbauan voting-voting semacam itu. Dalam setiap perlombaan peserta paling baiklah yang harus menang. “May the best wins!”

Saya tidak bangga bila keponakan saya memenangkan lomba foto model atau apapun hanya karena dia punya banyak paman, bibi, oom, tante, sepupu, teman sekolah dll yang rame-rame voting buat dia padahal kualitasnya payah dan masih ada kontestan lain yang lebih patut memenangkan lomba.

Apalagi saat memilih Calon Kepala Negara.

Pada setiap Pilpres saya selalu menjalankan survey dan past performance research untuk menjatuhkan pilihan saya. Dari semuanya, Pilpres 2014 adalah pengalaman yang paling unik dan spektakular.

Tidak sulit menemukan prestasi Jokowi yang Walikota Solo, melompat ke Gubernur Jakarta dan naik kelas jadi Calon Presiden. Tanpa melakukan research pun daftar prestasinya sudah luar-biasa panjangnya dan praktis seakan-akan sudah datang sendiri tanpa dicari.

Tapi Prabowo luar-biasa ajaibnya.

Di luar semangat kampanyenya yang sangat massif selama bertahun-tahun dalam berbagai macam posisi termasuk sebagai Calon Wakil Presiden yang mencerminkan ambisinya yang begitu kuat untuk meraih kekuasaan, menemukan catatan prestasi pribadinya ternyata lebih sulit daripada mencari jarum yang hilang terjatuh di tumpukan jerami.

Mesin pencari nomor satu di dunia Google Search tidak punya catatan prestasi Prabowo. Faktanya sampai tiga tahun kemudian tahun 2017 ini Google masih juga belum punya catatan prestasi Prabowo.

Ironisnya ambisi Prabowo untuk menjadi Presiden RI tidak pernah surut barang sejengkalpun.

Meskipun hartanya telah jauh menyusut habis buat biaya kampanye selama bertahun-tahun dan adiknya Hasjim yang pengusaha besar nan kaya-rayapun dikabarkan sudah menyerah dan tidak mau lagi berinvestasi dalam usaha mempresidenkan abangnya, Prabowo tetap tak mau juga melepaskan impiannya jadi presiden.

KANDIDAT LAIN

Persaingan Pilpres 2014 semakin ketat dengan munculnya faktor-faktor lain selain Prabowo.

Tiga tahun pemerintahan Jokowi ini, terutama sebelum Ahok berhasil digiring masuk penjara, memberikan pelajaran keras sekali kepada para pihak yang bermain di panggung politik dan ekonomi di Indonesia.

Tidak ada lagi politik dagang sapi. Tidak ada lagi ilmu take and give. Tidak ada kongkalikong dan jurus tahu-sama-tahu.

Presiden Jokowi (dan sampai 9 Mei 2017 kemarin dengan Gubernur Ahok) sudah menggariskan Paradigma Baru dalam Ilmu Pemerintahan. 
Pemerintah itu Pelayan Rakyat. 
Memerintah itu Mengabdi Kepada Rakyat.

Dahsyatnya gempuran dari segala penjuru terhadap kepada KPK yang gencar menangkap-nangkapi koruptor mencerminkan dahsyatnya pertempuran antara Presiden Jokowi yang Anti Korupsi TOTAL melawan seluruh pencuri uang rakyat di segala lini! 
Sementara Pemerintah berusaha mencegah korupsi, penangkapan-penangkapan KPK membuktikan bahwa di Dunia Korupsi paradigma maling masih belum juga berubah.

Perlahan tapi pasti segala celah kebocoran anggaran dan keran penyelewengan uang rakyat dan negara ditutup rapat oleh kedua orang ini. Para Anggota DPR, DPRD, Pejabat Pemerintah dan Pengusaha sama-sama tercekik dan kehausan karena tidak bisa lagi mengatur permainan di antara mereka dalam berjama’ah mencuri uang rakyat dan negara.

Akhirnya semua berhimpun bersatu bertekad bersama-sama menggulingkan kedua Pemimpin yang 100% pro rakyat ini. Tanpa peduli siapa akan jadi pemimpinnya, yang penting pada tahun 2019 Jokowi harus tumbang. Ahok sendiri sudah lebih dulu berhasil mereka masukkan ke penjara.

FAKTA dan DATA

Tahun 2019 Prabowo akan berusia 68 tahun.
Setelah dua kali mengalami stroke dan melihat penampilannya kini yang begitu tua, rempo dan ringkih memperlihatkan tingkat kesehatannya yang sangat buruk ditambah keadaan keuangannya yang sudah tidak bisa lagi diandalkan sebagai pendana kampanye seperti sebelum-sebelumnya menyebabkan koalisi musuh-musuh Jokowi bersiap-siap mencari figur lain selain Prabowo.

Pilihan jatuh kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang Februari tahun depan (2018) akan pensiun, setahun sebelum Pilpres 2019.

Menghadapi masa pensiun yang belum tentu nasibnya Gatot tidak mampu menutupi kegalauannya. Dia membuat manoeuver-manoeuver politik bodoh dan kasar sehingga berkali-kali blunder menabrak rambu-rambu kepatutan dan etika sebagai Panglima TNI yang seharusnya loyal terhadap Presiden Panglima Tertinggi Negara.

KENDALA

Tiga tahun Pemerintahan Jokowi penuh dengan prestasi-prestasi sektakuler.
Digoreng sehebat apapun lawan-lawan Jokowi tidak mampu membendung perasaan rakyat seluruh Indonesia yang kadung jatuh cinta terhadap kepada Presiden beserta seluruh keluarganya yang telah mewakafkan seluruh hidup mereka demi untuk kepentingan dan kesejahteraan Rakyat Indonesia.

Sebaliknya, sepanjang tiga tahun setelah kekalahannya pada Pilpres 2014 Prabowo sama sekali tidak pernah mengubah strateginya yang kukuh berpegang kepada Strategi ke-5 dari 36 Strategi Puisi Tiongkok Kuno andalannya. Bunyinya: “Rampoklah rumah tetanggamu yang (sedang) kebakaran!”

Sementara Jokowi sibuk kerja-kerja-kerja membangun dan menyejahterakan rakyat, Prabowo sibuk mengejek, mengecilkan dan nyinyir menyalah-nyalahkan segala tindakan Jokowi. Pada setiap kegaduhan politik yang diada-adakan oleh Para Penentang Jokowi, nyaris dapat dipastikan Prabowo ada di baliknya atau berada pada pihak yang itu.

Sesuai Strategi ke-5 di atas, Prabowo kelihatannya malah giat membakari rumah tetangga supaya kebakaran agar dia bisa merampoknya sekalian!

Demikian juga Gatot Nurmantyo pada posisi dan statusnya sebagai Panglima TNI.

Pada saat-saat yang sangat kritis di mana publik mengharapkan Gatot tegas memperlihatkan loyalitas terhadap kepada Panglima Tertingginya, ybs sebaliknya malah memanfaatkan situasi dan memperlihatkan kecondongan terhadap para pengancam Presiden itu.

Gatot malah merasa senang dan tersanjung saat Ormas-ormas Radikal mengelus-elus dan menyanjung-nyanjung Panglima TNI sebagai “…Presiden pengganti …”, mempertontonkan dengan telanjang bahwa dirinya memang sangat berambisi jadi RI-1 tahun 2019 nanti.

HIDUP ADALAH PILIHAN

Adalah hak Prabowo, Gatot Nurmantyo atau siapapun yang akan muncul lagi kelak sebagai penantang Jokowi menjadi kandidat Presiden RI 2019 – 2024.

Tapi dengan prestasi Jokowi yang sudah jauh melesat di depan dan masih terus meningkat meskipun dihadang dan dijegal tanpa henti disana-sini, peluang Prabowo maupun Gatot Nurmantyo sangatlah kecil untuk memenangkan pertarungan.

Baik pada Pilpres 2014 Jokowi maupun Pilkada 2017 Ahok, jelas terbukti kelimpahan finansial sama-sekali bukan faktor utama. Para pendukung Jokowi maupun Ahok terbukti tidak ragu-ragu merogoh kantong mereka dalam-dalam untuk membiayai kampanye tokoh-tokoh yang bekerja sepenuh hati untuk kepentingan mereka itu.

Ahok kalah Pilkada semata-mata hanya karena Pihak Anies-Sandi dari kubu Prabowo memanfaatkan issue SARA tanpa kira-kira dengan menabrak segala norma.

Strategi yang sama akan kembali dipergunakan dengan skala yang jauh lebih besar pada Pilpres 2019, karena terbukti Prabowo sama sekali BUKAN Ahli Strategi, berlawanan dengan IQ tinggi yang selama ini digembar-gemborkan pendukungnya.

Seperti saya tulis di atas, selama tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi yang giat kerja, kerja, kerja, Prabowo tetap teguh berpegang kepada strategi usangnya yang cuma nyinyir, cengeng, menghina dan mengecilkan kerja Presiden Jokowi yang jelas-jelas sudah nyata kelihatan hasilnya itu!

Bagaimana Prabowo mengharapkan Rakyat Indonesia sudi dipimpin oleh Jenderal pecatan yang nyinyir dan cengeng tanpa prestasi seperti dirinya ini?

Apalagi mulai Oktober 2017 ini Jakarta akan dipimpin oleh Anies Gubernur Gerindra yang mustahil kinerjanya akan mampu menyaingi Ahok. Padahal satu-satunya program Anies ialah merangkul semua pihak, termasuk para penjahat dan pencoleng agar supaya mendapat dukungan politik bagi pemerintahannya di DKI.

Padahal belum-belum DPRD DKI Jakarta sudah menuntut kenaikan tunjangan sebanyak minimal 20%. Pada saat yang bersamaan mereka menuntut penghasilan PNS DKI diturunkan sembari menghapuskan beberapa jabatan pulak di sana!

Tidak perlu membahas peluang Gatot Nurmatyo yang sudah pensiun dan tidak menjadi Panglima lagi. Satu-satunya catatan yang tinggal di benak rakyat Indonesia hanyalah seorang Jenderal yang tidak loyal dan tidak dapat dipercaya saat mengemban tugas dan jabatan sangat penting sebagai Panglima TNI!

Andaipun terjadi mukjizat dan salah satu dari kedua tokoh itu berhasil mengalahkan Jokowi menjadi Presiden RI, warisan apa yang akan mereka tinggalkan untuk ditulis dalam Sejarah Bangsa dan Negara Republik Indonesia ini?

Sebagai tokoh yang berhasil menggulingkan Presiden yang baik ini? Atau Presiden biasa-biasa saja, yang kelak digantikan pada saat masa jabatannya sudah habis?!

TIME IS RUNNING OUT
WAKTU TINGGAL (sangat) SEDIKIT.

Kalau cukup cerdik serta mau berendah hati, baik Prabowo maupun Gatot Nurmantyo masih punya waktu amat-sangat-sedikit-sekali tapi cukup berharga untuk membalikkan keadaan mereka dari pecundang menjadi Negarawan yang akan meninggalkan kenangan manis buat ditulis dengan tinta emas pada Sejarah Negara dan Bangsa Indonesia. 
From ZERO to HERO.

Yaitu dengan cara baik Prabowo dan atau Gatot Nurmantyo segeralah mulai mendukung Presiden Jokowi dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Dan jangan lupa berhalo-halo dengan gempar supaya mendapat publikasi luas!

Waktu sudah membuktikan, dengan terus-menerus diganggu dan dijegal sejak dari awal pemerintahannyapun Jokowi tetap berhasil jalan dengan program-program yang digariskannya.

Jebakan-jebakan yang dibuat dan disediakan lawan-lawan politiknya selalu berhasil dipatahkannya. Padahal hanya berapa gelintir pembantu-pembantu yang betul-betul bersungguh-sungguh mendukung dan bahu-membahu bekerja bersamanya? Di antaranya dapat kita catat nama-nama Susi Pujiati, Sri Mulyani, Basuki Hadimuljono dan Ignasius Jonan. Disamping Luhut Panjaitan dan Rini Soemarno tentunya.

Saya tidak tahu mengenai Gatot Nurmatyo, tapi Prabowo jelas masih punya sisa-sisa pendukung militan di belakangnya. Yang patuh, selalu setia dan siap-sedia untuk mengganggu segala kiprah Presiden Jokowi pada setiap waktu dan keadaan.

Apabila Prabowo cerdik dan cerdas setinggi IQ yang selalu digegap-gempitakan para pendukungnya, dia tinggal balikkan keadaan dengan mengomando seluruh pendukungnya untuk berbalik bersama Presiden Jokowi bekerja demi Bangsa dan Negara.

Dengan dukungan penuh kedua tokoh ini, kemajuan Indonesia akan melejit jauh lebih tinggi daripada penuh gangguan dan jegalan seperti sekarang ini. Prestasi Presiden Jokowi pada akhir pemerintahannya yang kedua sudah terbayang akan jauh meninggalkan negara-negara lain di kawasan ini.

Dengan begitu insya Allah Prabowo (dan juga Gatot Nurmantyo apabila mau memakai kiat yang sama) akan ikut tercatat dengan tinta emas dalam Buku Sejarah Bangsa Indonesia sebagai Negarawan-negarawan Besar yang gagah dan ksatria.

Selagi waktu masih ada.

Sumber : Status Facebook Iwan H Suriadikusumah

Sunday, October 8, 2017 - 17:00
Kategori Rubrik: