Ndeso

ilustrasi

Seri : Jokowi

Oleh : Karto Bugel

Kemenangannya dalam pilpres 2014 yang lalu dimaknai sebagai merebut ruang kerja, bukan kekuasaan. Kerja, kerja dan kerja tiba-tiba menjadi ajakan pertamanya pada semua menterinya, dan mereka terseok lunglai kehabisan nafas.

Kita memang kaya dengan politisi. Negeri kita penuh sesak dengan orang pandai berbicara, apalagi tentang surga. Sumber daya manusia kita dibidang itu memang luar biasa hebat.

Disisi lain, negeri kita sangat subur. Alam milik kita berlimpah ruah dengan kekayaan yang tak dimiliki oleh bangsa lain. Gemah ripah loh jinawi.

Pernahkah terpikir seandainya mentalitas Jepang atau Korea Selatan misalnya yang tinggal dan memiliki bumi gemah ripah loh jinawi ini? Dunia pasti dalam genggaman.

Etos mereka, tak perlu diragukan lagi. Mereka begitu bangga dengan budaya dan cara hidup nenek moyang mereka. Mereka bangga dan bertahan dengan cara hidup leluhur dan berdamai dengan tanah pertiwinya. Tanah tumpah darahnya.

Mereka membungkuk kepada siapapun demi hormat kepada tradisinya. Mereka tahu siapa mereka.

Dan tiba-tiba kita disadarkan bahwa hal yang samapun pernah kita miliki. Kita disadarkan akan hal itu ketika seorang santun dan pekerja keras yang masih begitu setia dan terikat dengan tradisi nenek moyangnya hadir ditengah kita.

Dia membungkuk hormat kepada siapapun. Dia memberi jalan dan menuntun orang yang lebih tua darinya. Dia memayungi siapapun yang ada disampingnya ketika panas dan hujan.

Santun, dan selalu berusaha melayani.

Dia, "boso" demi menghormati lawan bicaranya seperti yang diajarkan ibunya. Dia, Presiden kita hari ini.

Etos kerjanya, tanyakan saja kepada Sri Mulyani atau Basuki sang tukang bikin jalan dan jembatan itu. Semua menterinya dibuat kalang kabut dengan caranya bekerja yang tak pernah lelah.

Menjadi presiden adalah menjadi pelayan, kini menemukan kebenarannya. Pada sosok seperti ini pula, konsep tentang kasta Satriya pada era nenek moyang kita dulu disyaratkan.

Satriya adalah tentang pemimpin, tentang eksekutif dimasa kini yang bekerja demi kepentingan rakyat banyak. Status Satriya dinilai bukan karena kepintarannya semata, namun juga pada kemampuan memimpin dan terutama pada akhlak yang menyertainya.

Dia harus seorang pekerja keras dan mampu memotivasi bawahannya. Dia tak diperbolehkan bekerja demi penghasilan. Semua kebutuhannya sudah dipenuhi oleh negara.

Semua pernah terjadi dan itu dicatat dalam sejarah kita. Dalam kitab Kalingga Dharma Sastra, kitab yang setara dengan KUHP kita dimasa kini yang telah dipakai sebagai aturan pada kerajaan Kalingga tahun 648.

Adakah satriya semacam ini masih ada banyak diantara kita?

Itulah makanya sulit sekali Presiden mendapat menteri yang bagus. Itulah makanya reshuffle ramai harus dilakukan. Paradigma "menjabat" sudah berubah jauh. Menjabat adalah tentang bekerja dan melayani.

"Mungkinkah?"

Tidak! Dunia sudah berubah. Manusia yang tinggal didalamnyapun sudah berubah. Cari yang mendekatinyapun sulit. Semua sudah tentang pamrih. Demikianlah politik kita kini diarahkan.

Ketika dia menjadikan dirinya sebagai contoh, tak satupun orang dibelakangnya mampu mengatur ritme itu. Semua tertinggal dan semua mengeluh "capai".

Ketika dia tak mengambil selisih dari belanjaan yang ada, semua orang mengeluh bukan itu maksud mereka ingin menjabat.

Jokowi orang benar yang kini menjadi aneh, karena pruduk yang seperti itu sudah tidak lagi keluar. Sudah diganti dengan budaya asing dimana kitapun menikmatinya dengan mata berbinar takjub.

Maka, berharap mendapatkan pembantu yang menyerupai dirinya, sia-sia akan didapat.

Sungguh...,cercaan dan makian terhadap kinerja para pembantunya tak akan pernah berhenti bila acuannya adalah Jokowi.

Sekali lagi, Jokowi adalah produk aneh dimasa kini. Dia adalah sisa produk masa lalu, dimana sebagian dari kita menyebutnya dengan "ndeso", dan sebagian lagi, tak sesuai dengan ajaran agama.

Berkah atau bencana? Bagi saya, dia adalah berkah tak ternilai.

Sumber : Status facebook Karto Bugel

Sunday, July 5, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: