Naturalisasi Atau Normalisasi, Mana yang Cocok?

ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

Silang pendapat soal mana yg sebaiknya dipakai di Ciliwung menjadi perdebatan tiada akhir. Tak ada yg sempurna, semua ada plus/minusnya, ini soal mana yg lebih cocok.

Apa Itu Naturalisasi?

Mudahnya, mengembalikan sisi kiri kanan badan sungai menjadi ekosistem alami habitat tanaman dan hewan. Naturalisasi jg menjaga kelok-kelok sungai. Biasanya bronjong jadi pengganti beton. Bronjong adalah batu-batu yg dibungkus anyaman kawat baja.

+ : Memperluas area serapan & mengembalikan ekosistem
- : Kemampuan bendung lebih rendah & perlu area lebih luas

Kalau Normalisasi?

Simplenya, mengembalikan lebar sungai agar mampu menampung dan mengalirkan air lebih banyak. Di sini, kelok sungai, mungkin "diterabas" sehingga bentuk sungai lebih "lurus". Beton biasa dipakai melapisi sisi sungai sebagai penyangga atau pembendung.

+ : Kemampuan bendung lebih baik & tak perlu area luas
- : Daerah serapan rendah & kurang ramah lingkungan

Lalu Jakarta sebaiknya pilih yang mana?

Konsep naturalisasi sebetulnya lebih ideal. Mengembalikan sungai sebagai ekosistem tentu punya banyak keunggulan. Namun halangan terbesarnya adalah kondisi aktual Jakarta.

Untuk naturalisasi, pembebasan lahan akan lebih banyak. Diperlukan area yg lebih luas untuk membentuk badan sungai landai sebagai habitat ekosistem tumbuh. Ini PR besar. Karena di era terdahulu, menggusur minimalis saja sudah kena maki dari segala arah. Baik penduduk terdampak, aktivis dan LSM.

Melandaikan sisi kiri kanan masing-masing 12m misalnya, bukan hal mudah. Jika terkena pemukiman, bisa direlokasi. Tapi jika berhimpitan dengan jalan raya atau gedung?

Jl.Gunung Sahari misalnya, pinggiran sungai sudah curam. Sungai dan jalan berhimpitan. Bagaimana caranya dibuat landai untuk ekosistem? Gusur jalan?

Masalah kedua, ketinggian air tanah di mayoritas wilayah Jakarta sudah tinggi. Padahal naturalisasi mengandalkan kecepatan serap air sehingga tak heran desainnya mempertahankan kelok sungai. Adanya tanaman/pohon jg melambatkan laju alir.

Selain pengaruh naiknya permukaan air laut sehingga rembesannya meluas ke daratan, dulu memang banyak wilayah Jakarta berupa rawa. Sebab itu daya serap tanah relatif rendah. Bisa dibayangkan sudah berapa jenuh daerah dekat sungai sementara naturalisasi mengandalkan kemampuan serap di badan sungai.

Di rumah saya, dulunya rawa, gali kedalaman 1m-an saja bisa "ketemu" air.

Kelemahan terakhir adalah sulit membendung air yg meluap. Karena konsepnya alami, maka biasanya dipasang bronjong. Andai bronjong setinggi 1m dipasang di sisi jalan sebagai pembendung, air tetap bisa menerobos melalui celah. Tidak efektif.

Ini kenapa sulit menerapkan naturalisasi. Keadaan Jakarta, baik tata ruang dan kondisi tanah sudah tak mendukung.

Sebaliknya, normalisasi tak perlu lahan luas. Andai badan sungai berhimpit dengan jalan, masih bisa dipasang turap tegak lurus, menyangga sekaligus membendung air. Dengan tinggi 1m di atas jalan, maka luapan kurang dr 1 m takkan luber ke jalan. Jika dipasang bronjong, air masih bisa bocor.

Sungai pada normalisasi difungsikan mirip kanal, sekedar pengalir. Air dr hulu cepat dibuang ke laut agar tidak keburu meluap. Karena itu sistem ini pun tergantung dengan kesiagaan pompa di daerah hilir agar pembuangan akhir ke laut lancar.

Bisa dikombinasi? Bisa aja. Tapi andai diselang-seling, daerah yg sudah dinormalisasi bisa ikut tergenang walau luapan belum melewati tanggul. Kenapa? Air bisa "masuk" lewat area yg dinaturalisasi karena di sana tak ada tanggul.

Itu kenapa Jakarta lebih cocok memakai normalisasi dibanding naturalisasi. Kelebihan naturalisasi tidak banyak membantu. Secara visual memang jadi lebih "indah" tapi secara fungsi menekan efek banjir lebih lemah.

Naturalisasi lebih cocok di area hulu Ciliwung seperti Bogor. Selain daratannya lebih tinggi sehingga daya serap air relatif lebih baik, tata ruang di Bogor masih lebih mungkin membebaskan lahan lebih luas.

Sumber : Status Facebook Aldie El Kaezzar

Sunday, January 5, 2020 - 15:45
Kategori Rubrik: