Natuna dan Soleimani

ilustrasi

Oleh : Dwi Winarno

Sudah beberapa hari ini gatal mau nulis, tapi apa boleh buat, bersih-bersih sisa kebanjiran tidak cukup selesai barang sehari-dua hari. Hanya membaca di medsos dan tulisan yang bersileweran di media, malah tambah gatal. Jadi begini saudara-saudara sebangsa-setanah air…

Membaca satu peristiwa tidak bisa berdiri sendiri, harus dilihat dari rentetan peristiwa lainnya dan mencari tahu dampak sesungguhnya. Sementara tidak usah berandai-andai soal perang dengan China. Itu mustahil terjadi dalam waktu dekat. Kalau perang, saya kuatir kesulitan mendapatkan biji kopi enak. Jadwal senggama dengan istri jadi tidak teratur.

Di bulan Juni 2016, sebuah kapal nelayan China yang ngeyel ditembak oleh KRI Imam Bonjol. Sepekan setelahnya (23/6), Jokowi mengadakan rapat kabinet terbatas di atas kapal perang yang sama di perairan Natuna. Pesannya jelas, “Jangan ganggu Natuna!” Bahkan dalam peta baru Indonesia, Laut China Selatan yang menjangkau hingga perairan Natuna diganti menjadi Laut Natuna Utara. Sikap ini sangat keras. Membuat China melantunkan protes. Di Asean, hanya Vietnam yang relatif bersikap sama. Di negara-negara lain, pemerintahnya dicibir oleh rakyat karena dinilai lembek terhadap sikap agresif China.

Pertanyaannya, mengapa hampir 4 tahun kemudian China kembali memuat ulah? Kali ini nelayan-nelayan milisi, kebanyakan berisi nelayan berlatar pensiunan AL dan sipil terlatih kembali masuk ke perairan Laut Natuna dikawal Coast Guard. Anda tahu berapa jumlah totalnya? Hampir 8 juta orang. Jadi apa dong analisisnya?

Pertama, ini hanya soal testing the water secara berkala. Jika nanti perang meletus di Pasifik, China perlu tahu negara-negara mana saja yang bisa menjadi teman, musuh, atau netral di kawasan pasifik. Jelas dalam konteks ini, Indonesia tidak bisa menjadi teman. Hanya berharap Indonesia netral dari pada menjadi musuh. China tidak akan berani memulai perang dengan Indonesia.

Kedua, ini soal penyatuan perasaan rakyat. China tidak ubahnya seperti negara-negara lainnya punya masalah domestik. Punya masalah separatisme di Xinjiang dan Tibet, dan yang paling besar adalah tuntutan kebebasan sebagaimana yang terlihat dalam demonstrasi berbulan-bulan di Hongkong. Mulut rakyat yang penuh makanan tidak lagi butuh suapan tangan pemerintah, yang dibutuhkan adalah lidah yang bebas berbicara. Guna mengantisipasi, maka dibuatlah Nine Dash Line bertahun-tahun lalu yang dibarengi tindakan provokatif di pasifik untuk memainkan emosi sebagai ‘great nation’. Nasionalisme menjadi obat untuk menyatukan perasaan rakyat dengan merekayasa adanya musuh dari luar.

Dalam teknik sulap, peristiwa ini dinamakan deception (pengalihan). Bukan hanya ditujukan ke masyarakat global, sebab pada dasarnya lebih diarahkan ke masyarakatnya sendiri.

Pun demikian dengan terbunuhnya Mayjend Solemaini, Amerika tidak akan pernah berani melakukan perang total seperti yang mereka lakukan di Irak era Saddam dan Afghanistan era Taliban berkuasa. Paling banter hanya serangan rudal sporadis. Trump punya masalah serius berkat dakwaan pemakzulan padahal tahun ini ia mesti bertarung lagi di Pilpres. Belum lagi gejolak sosial akibat meningkatnya aktivitas ‘white supremacy’. Membunuh Solemaini memang bukan untuk menyatukan rakyat Amerika yang terbelah tapi untuk mempertahankan dan memperkuat dukungan di basis pemilih, terutama kaum ‘the eagles’. Berikutnya, ini soal mendapatkan dana kampanye dari perusahaan dan kontraktor militer. Semakin berlarut-larutnya perang di berbagai laga dan ketegangan di berbagai Kawasan maka pihak yang paling diuntungkan adalah mereka yang berdagang senjata.

Lalu apa dampaknya bagi Iran dan Indonesia? Iran yang beberapa minggu terakhir digoncang demonstrasi di berbagai kota kini punya senjata baru: memanfaatkan momentum kematian ‘si orang kuat kedua'. Persia adalah bangsa yang punya sejarah 2500 tahun. Dan, yang paling penting memanfaatkan momentum ini untuk menarik diri dari perjanjian nuklir 2015. Siapa yang berani menahan di tengah bangsa yang sedang dilanda amarah? Indonesia, bersyukurlah isu Jiwasraya dan Garuda Indonesia sementara tenggelam.

Sumber : Status Facebook Dwi Winarno,
Pengangguran Berkualitas

 

Friday, January 10, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: