Natal dan Spirit Gus Dur

Oleh: Aan Anshori

 

Setiap natal menjelang, suka cita pasti datang. Bagi umat Kristiani, berita kelahiran Yesus (Isa) merupakan anugerah tersendiri. Mereka mengimani kehadiranNya di muka bumi sebagai Sang Juru Selamat, menebus dosa asal manusia.

Sudah jamak diketahui bahwa dalam masyarakat Indonesia yang beragam, saling mengucapkan selamat ketika hari raya merupakan kelaziman, termasuk mengucapkan selamat natal oleh orang non-kristen. Bagi sebagian umat Islam, suka cita kristiani ini dianggap kedukaan tersendiri. Natal dipersepsi laksana pintu gerbang pembawa umat Islam menuju kesesatan. Yang mengucapkannya dianggap telah mencampuradukkan akidah. Narasi besar yang terus digelorakan adalah; mengucapkannya berarti mengakui dan mengimani. Mengakui berarti telah keluar dari Islam (murtad). Jika logika ini diteruskan, kemurtadan akan berujung pada pengenaan pidana berat; bunuh.

 

 

 

Berbeda dengan kematian Yesus yang memunculkan ketegangan imani antara Kristen dan Islam, dua agama ini cukup mesra menyikapi kabar kelahiran Yesus (Isa). Alqur’an yang turun sekitar 600an tahun pasca Yesus, bahkan cukup informatif mengabarkan berita natal ini. Jika mau jujur, Yesus merupakan satu-satunya rasul yang kelahirannya mendapat liputan qur’ani melebihi yang lain. Kelahirannya mendapat ucapan khusus dari Allah. Melalu Qur’an surat Maryam:33 tuhan menceritakan pengkabaran ini.

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan kembali”.

Bait tersebut merupakan nukilan dari rangkaian ayat yang menceritakan proses kelahirannya. Di ayat lain, dalam surat yang sama, al-Quran juga secara gamblang menceritakan dinamika sebelum dan sesudah Yesus dilahirkan. Sebaran cerita seputar kelahiran Yesus terserak banyak di berbagai surah di Al-Quran, misalnya QS Al Imran, QS al-Anbiya’, dan QS at-Tahrim.

Dalam sejarah kerasulan Islam, sosok Yesus sendiri tergolong istimewa. Dia mempunya gelar “Ulul Azmi” bersama 4 yang lain; Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Nabi Muhammad. QS al-Ahzab 35 mempertautkan term Ulul Azmi sebagai rujukan umat manusia dalam bersabar. Nampaknya, gelar ini disematkan karena kelima Rasul tersebut memiliki kedudukan khusus. Mereka dianggap teruji dengan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menyebarkan ajaran Allah. Demikian tegasnya fakta qur’ani telah disampaikan masih saja ada beberapa orang yang berniat menelikung al-Qur’an. Misalnya dengan melarang seorang muslim mengucapkan selamat natal bagi umat Kristiani.

 

Pijakan GUSDURian

Meski Gus Dur telah berpulang 5 tahun lalu, spirit perjuangannya tetap lestari. Legasinya menginspirasi ribuan anak muda berkiprah meneruskan cita-cita mantan presiden keempat ini. Anak-anak muda dari 100an kabupaten/kota ini bergabung dalam Jaringan GUSDURian (JGD). Dalam usahanya melanjutkan perjuangan Gus Dur, mereka memegang teguh 9 nilai utama seorang GUSDURian. Sembilan nilai utama ini menjadi landscape dan koridor bersikap. GUSDURian sejati mengunci gerak langkahnya berdasarkan poin-poin ini. Yakni, spiritualitas, keadilan, pembebasan, kemanusiaan, dan kesetaraan. Prinsip lanjutan meliputi kesederhanaan, keksatriaan, persaudaraan, dan kearifan lokal.

Dalam bingkai 9 nilai utama Gus Dur ini, para GUSDURian berkomitmen menjaga realitas keragaman Indonesia. Bagi mereka, pengingkaran terhadap pluralitas merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Republik ini. Keragaman dipahami sebagai bahu raksasa yang menopang ratusan juta penduduk Indonesia. Gus Dur menekankan berbagai pandangan penting untuk digunakan merawat perbedaan, salah satunya adalah jargon “Yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan“. Kontribusi GD dalam menjaga persatuan indonesia yang multi-identitas ini bisa dilacak melalui narasi besar yang seringkali dikutip banyak orang; semakin berbeda kita, semakin jelas dimana titik persamaan kita.

Membaca kelahiran Yesus, kita akan kesulitan menemukan perbedaan mendasar antara Qur’an dan iman kristiani. Justru, persamaan keduanya menyeruak secara eksplisit. Jika tuhan sendiri menyampaikan -secara terbuka dan abadi- kiriman salam atas kelahirannya, siapakah kita yang begitu angkuh menganulir apa yang telah disampaikanNya? Tentu, mengucapkan selamat natal bukan merupakan kewajiban bagi muslin. Namun, mengharamkannya jelas merupakan sikap yang -tidak hanya berlebihan, namun juga berintensi melampaui Tuhan itu sendiri.

Memang, ada beberapa perbedaan teologis antara Kristen-Islam menyangkut sosok Yesus sendiri misalnya berkaitan dengan penyaliban, kemangkatan serta status ketuhananan Yesus. Dalam internal Islam, para mufassir sendiri tidak satu suara ketika menyimpulkan ayat sentral tentang penyalibanNya dalam QS an-Nisa’ 157. Yang menarik, Alloh serasa “mengunci” polemik penyaliban ini dengan sesuatu yang “mengambang”. Posisi ini terekam dalam separuh akhir dari ayat di atas.

“Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.”

Ayat ini secara tidak langsung menyatakan jika penyaliban merupakan salah satu rahasia tuhan. Ambiguitas ini sesungguhnya membuka peluang bagi umat manusia untuk melakukan tafsir, yang sangat mungkin tidak sama. Sunni dan Ahmadiyah berbeda keyakinan terkait penyaliban. Keduanya pasti juga tida sejalan dengan Kristen. Perbedaan tafsir memberikan kita kekayaan intelektual dan teologikal untuk bisa mengelaborasi lebih jauh terkait persoalan ini.

Gus Dur pernah menulis indah di Suara Pembaharuan. Artikel itu berjudul “Harlah, Natal, dan Maulid”. Dalam tulisan tersebut, dia memberikan impresi pentingnya memahami ajaran kelompok lain dengan maksud mencari persamaan.  Menurutnya, dengan memahami seluk beluk natal, umat Kristen -maupun muslim- bisa dengan leluasa merayakan tanpa perlu kuatir tergerus keimanannya. Bahkan, yang justru akan terjadi adalah keduanya mendapatkan kesempatan besar memperkuat iman masing-masing sembari tetap bergandengan.

Pelajaran berharga yang diwariskan Gus Dur bagi bangsa ini adalah; pentingnya keberanian mengelola perbedaan, bahkan dalam aspek teologi sekalipun. Oleh Gus Dur, keragaman didekati dan diolah demi merawat kemajemukan bangsa. Di saat yang sama, kekuatan intoleran di negeri ini terus bekerja tanpa henti, menjadikan perbedaan sebagai justifikasi untuk mempersekusi. Di tangan kelompok ini, kata mayoritas adalah kartu truf untuk melindih minoritas, sembari menyebarkan virus intoleransi. Jadi, mau ikut Gus Dur atau kelompok intoleran?

 

Selamat merayakan Natal.

 

(Sumber: Tebuireng. online)

Wednesday, December 6, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: