Natal, Bencana Dan Fitnah

Ilustrasi

Oleh : Musrifah Ringgo

Entah mengapa orang-orang Indonesia yang seharusnya makin dewasa dan arif menyikapi sesuatu malah bertindak ngawur. Adanya suatu momen atau kejadian bukan dimaknai sebagai pengingat atau penghargaan tetapi yang terjadi justru membuat fitnah atau menjelek-jelekkan orang lain. Dan semuanya bermuara pada politik.

Lihat saja momentum natal, yang hampir setiap tahun muncul himbauan bahkan larangan mengucap Natal pada kaum Kristiani bagi seorang muslim, tahun ini agak sepi. Kelompok yang secara politik merapat ke kubu Prabowo nyaris diam seribu bahasa, tidak membahas tentang Natal. Padahal tahun 2015 hingga 2017 banyak kejadian yang menegangkan. Bahkan sweeping atribut Natal ke berbagai mall hingga hotel dilakukan. Tahun ini bagaimana? Sepi, tidak ada himbauan bahkan sweeping.

Tentu saja ini berkaitan dengan perayaan Natal yang rutin dilakukan Prabowo, Capres Gerindra. Nyatanya benar, beredar video Prabowo yang joget-joget diperayaan Natal. Video diambil oleh keponakannya sendiri dan diunggah di instagram miliknya namun kemudian dihapus. Tindakan ini tidak ada gunanya sebab sudah sempat diunduh dan menyebar kemana-mana.

Kubu Prabowo pun sibuk mengklarifikasi apa yang dilakukan oleh Capresnya. Kyai Ma’ruf Amin tak luput kena fitnah keji, video ucapan selamat Natal yang direkamnya malah diedit diganti berkostum sinterklas. Kini pengedit video tersebut sudah diringkus polisi. Terbukti yang melakukannya memang berasal dari kubu Prabowo.

Ribut dan model memfitnah pada kubu sang petahana juga dilakukan pada saat terjadi bencana. Mereka menuduh bencana itu timbul karena perilaku para pendukung Joko Widodo. Sebut misalnya gempa di NTB terjadi karena TGB berbalik badan dan mendukung Jokowi. Yang terakhir tsunami Selat Sunda disebabkan gelaran music. Ditambah lagi, vokalis group music Seventeen selamat dibanding rekan lainnya karena sempat ikut aksi 212. Apakah para pemfitnah itu tidak tahu sebelum 2018, Ifan merupakan pendukung Prabowo? Bahkan istrinya yang turut jadi korban tsunami merupakan Caleg Gerindra pada 2014 lalu. Kebetulan saja 2019 mendatang Ifan menjadi Caleg PKB.

Kelompok-kelompok pendukung Gerindra atau Prabowo benar-benar kebiasaannya hanya memfitnah dan membuat tuduhan yang sangat keji. Mereka tidak mampu bergerak, mempromosikan bahkan berkampanye secara cerdas. Entah sudah ratusan ribu atau bahkan jutaan status, meme, video, screenshoot editan yang merupakan fitnah-fitnah keji. Itu saja yang bisa mereka lakukan sebab mereka bingung mau dukung Prabowo tanpa keunggulan yang signifikan.

Aksebilitas Prabowo dibandingkan dengan petanaha memang sangat jauh baik dalam track record jabatan di pemerintahan, memimpin perusahaan, keluarga, latar belakang keluarga, apalagi prestasi. Keunggulan Prabowo hanya satu, menjadi orang nomor satu di Partai. Tapi keunggulan itu bukan hal istimewa sebab banyak orang yang juga jadi pemimpin partai.

 

Thursday, December 27, 2018 - 17:45
Kategori Rubrik: