Nasirun, Kodir dan Teknologi

Oleh: Sunardian Wirodono

 

"Apa kita sudah modern dengan semua itu, dengan mengetahui banyak hal, tapi tidak menguasainya?" bertanya Nasirun, pelukis sohor dari Yogyakarta, dalam perbincangan pertengahan tahun 2018 silam.

Iya, apa kita menjadi modern dengan dunia internet, gadget, android, dan tetek-bengek teknologi informasi dan komunikasi dunia digital ini? Pertanyaan yang makin relevan, ketika kenyataannya dunia medsos menjadi penyumbang degradasi kemanusiaan kita.

 

Meski pun sampai di situ saya meragukan. Bukan persoalan teknologi, namun lebih pada manusia memakai dan menyikapi. Pada titik itu, pertanyaannya kemudian, apa yang mendasari perilaku serta tindak-tanduk manusia?

Perbandingan menarik, ialah pada Kakak Pembina yang mengatakan soal mati itu di tangan Tuhan, dan apa yang dilakukan Kodir dari desa Kembangarum, dalam menanggapi peristiwa penyusuran sungai oleh anak-anak SMPN 1 Turi, Sleman. 

Apakah Kodir bagian rencana Tuhan, bahwa ketidakmatian juga sesuatu yang ditakdirkan? Post-factum, mungkin saja kita bisa mengatakan demikian. Namun, apa yang menggerakkan Kodir, yang semula niatannya mancing di Sungai Sempor sehabis hujan, tiba-tiba menjadi manusia penolong (kalau dewa penolong kayaknya terlalu meninggikan dewa, yang kita nggak pernah lihat, kecuali ketika Ahmad Dhani mulai kere dan terpaksa ngamen lagi).

Kodir mengatakan, sebagai warga desa yang dilintasi Kali Sempor, ia mengenal karakter sungai itu. Sejak kecil ia biasa berenang di sungai yang orang Yogya meyakininya lebih gawat tinimbang Sungai Boyong atau Kali Code. Mengenal karakter sungai, artinya Kodir punya pengetahuan akan sungai itu. Soal menolong, hal lain lagi ketika pengetahuannya menggerakkan nuraninya melihat peristiwa anak-anak pramuka yang terseret banjir.

Karena Kodir bukan guru, mungkin tak bisa memformulasikan pengetahuannya menjadi ilmu, bahwa kalau Kali Sempor di musim penghujan berbahaya karena begini-begitu-begini. Coba kalau dia menjadi Kakak Pembina, akan lain sikapnya. Pengetahuannya akan dipakai sebagai untuk memprediksi, berhitung mengenai sesuatu yang belum terjadi. Di situ agama ngomong, Tuhan memberi akal budi pada manusia untuk berpikir.

Saya jadi ingat omongan Nasirun di awal tulisan, banyak menggunakan medsos, tapi tak menguasai, tak mengerti karakternya, hingga alat itu hanya dipakai bergunjing soal siapa kafir dan bukan. Informasi mengenai ilmu-pengetahuan, yang kini sebenarnya mudah diakses dari genggaman gadget, malah dibilang ilmu setan. 

Kadang karena beda agama dan pilihan politik semata. Tapi senyampang itu, dipakai juga nyebar hoax, bahwa ada sperma bisa blusukan melalui kolam renang. Dan kemudian tiap bulan dapat gaji Rp 26 juta.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Thursday, February 27, 2020 - 21:45
Kategori Rubrik: