Nasionalisme dan Intoleransi Muslim Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Mbah Hasyim, Gus Dur, Gus Mus, Quraish Shihab dan Cak Nur (Alm. Kyai Nurcholish Madjid) bahkan dihormati kalangan Muhammadiyah dan non muslim. Seperti halnya kyai Ahmad Dahlan, Buya Hamka dan Buya Syafii yang diberi respek tinggi oleh kalangan NU.

Apa menurut njenengan itu gampang? Membangun karakter kebangsaan bertahun lamanya ngga gampang. Apalagi mereka berilmu tinggi, walo tak perlu harus menunjukkannya kepada khalayak bahwa mereka hafal Qur'an.

FYI, penduduk Indonesia pada awal 2017 diprediksi sekitar 255jt. 13% adalah pemeluk agama Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, aliran kepercayaan atau bahkan atheis (sedikit). Jumlah muslim 87% alias 222jt. Jumlah 13% dari 255jt adalah 33jt. Apa njenengan mau menafikan jumlah 33jt itu? Seolah ngga ada?

Apa yang ditakutkan oleh jumlah muslim yang sungguh besar itu? Bahkan patung yang didirikan di dalam rumah ibadah agama lain, dituduh bisa merusak akidah. Come on! Itu hak mereka dunk

Takdirnya Indonesia itu sudah ditentukan, BERAGAM dan berbeda-beda. Ada ratusan suku dan bahasa. Lha koq njenengan bisa-bisanya menyerukan kekerasan secara terbuka di media sosial? Kepada saudara2 yang berbeda suku atau agama?

Di negara berlandaskan Pancasila, berbeda pendapat itu boleh saja, sekeras apapun. Mengungkapkan pandangan apapun boleh saja. Tapi jika sudah fitnah, menghina SARA dan mengancam kekerasan fisik, tentu saja negara wajib turun tangan. Negara bisa dan kudu tegas.

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Sunday, August 13, 2017 - 17:15
Kategori Rubrik: