Nasib Masa Depan Politik Anies

ilustrasi

Oleh : Erijeli Bandaro

Dulu awal Anies berkuasa, setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisasi sungai” karena itu program Ahok yang mengharuskan menggusur mereka yang tinggal di bantaran kali. Mereka memuja program “ naturalisasi sungai” dari Anies. Yang jadi referensi adalah Singapore. Bahkan dari kalangan kampus dan pengamat ahli juga ikut menyuarakan dukungannnya, terutama soal ide buat sumur sebagai resapan air jatuh ke bumi, bukan mengalir ke laut.

Berita Kompas kemarin , “ Pemerintah provinsi DKI Jakarta akan membongkar rumah-rumah yang dibangun di bantaran sungai. Rumah-rumah tersebut diduga menyebabkan banjir saat musim hujan. “ Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, dari Gerindra“ "Sungai-sungai, situ, embung dikeruk agar tampungannya lebih besar, kemudian dilakukan penyedotan. Upaya lainnya juga dengan sodetan, mengatur meningkatkan pompa, kita perbaiki semua. Kita pastikan semua pompa bisa beroperasi dengan baik," ujar Ariza. Seakan Ariza berkata kepada Anies, "udahan bloonnya."

Sebelumnya Anies boleh berbangga. Karena semua program yang dikerjakannya adalah program yang dijanjikannya ketika Kampanye melawan Ahok. 58% percaya program Anies dan karena itu dia juara dalam Pilgub DKI. Pendukung Anies yang sebagian besar aliansi dari GNPF MUI bersama PKS dan Gerindra boleh sesumbar bahwa Anies lebih baik dari Ahok. Anies calon presiden masa depan RI. Tetapi setelah 3 tahun, kesadaran itu datang. Kembali kepada program Jokowi, kemudian Ahok. Soal penggusuran? Kini punya alasan sama dengan Ahok Bahwa itu harus dilakukan agar jakarta tidak banjir.

Anies bukanlah politisi. Bukan pula seorang leader yang smart dan creative. Anies hanya pandai bermain watak di hadapan pendukungnya, baik rakyat, ormas maupun parpol. Dia tahu betul apa yang dia katakan irrasional. Namun demi peran populis menarik massa umat islam dan peran good boy di hadapan parpol, tanpa beban dia lakukan kebijakan yang anti tesis dengan konsep membangun kota secara modern dan terpelajar. Dalam jangka pendek sikap seperti itu bisa dimaklumi. Namun kalau sampai tiga tahun tetap dengan program konyol, itu artinya dia sendiri secara pribadi engga punya idea yang lebih baik untuk jadi gubernur. Dia hanya numpang makan dengan jabatannya. Makan gratis. Padahal dalam politik, apalagi sistem demokrasi, kinerja adalah segala galanya kalau ingin tetap eksis di pilih rakyat. Semua Parpol berpikir seperti itu.

Nasdem yang tadinya mendukung Anies kini mulai berpikir rasional. Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Lukman Jupiter dari Nasdem mengkritik bahwa program rumah DP 0 persen Anies dianggap belum berhasil. Masalah banjir tahunan, banjir seluruh Jakarta itu parah dan terparah dan sampai saat ini belum terlihat terkait normalisasi banjir yang Anies lakukan. Program OK OC sebagai andalan Anies untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat DKI, gagal total. Bahkan sekarang ini ada 24 ribu kalau enggak salah DKI Jakarta di-PHK. Belum lagi pengangguran yang tak bisa diatasi.

Hal yang menyakitkan adalah hubungan selama ini mesra dengan DPRD kini berakhir sudah. Mengapa? sebentar lagi akan ada Pilkada serentak. Semua partai engga mau nampak sebagai pendukung Anies. Mereka engga mau dicap gagal. Kalau gagal, biarlah Anies gagal. PKS yang tadi militan membela Anies kini sudah kecewa dalam sesal karena jatah wagub untuk PKS sirna sudah. Dinamika politik cepat sekali menjelang Pilres 2024. Satu demi satu Parpol tidak lagi melihat Anies sebagai kuda putih yang enak ditunggangi. Bahkan FPI kini focus kepada HRS untuk diusung sebagai calon Presiden.

Kalaulah dari awal Anies mendengar kritik orang seperti saya, mungkin dia akan punya kinerja kinclong. Tentu dia punya bargain position di hadapan Parpol dan Ormas. Tetapi Anies lebih percaya kepada orang terdekat dia, yang walau well educated mereka tetaplah opportunis, numpang makan gratis. Kinerja jeblok, ya bad news bagi siapa saja.

Dulu awal Anies berkuasa, setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisasi sungai” karena itu program Ahok yang mengharuskan menggusur mereka yang tinggal di bantaran kali. Mereka memuja program “ naturalisasi sungai” dari Anies. Yang jadi referensi adalah Singapore. Bahkan dari kalangan kampus dan pengamat ahli juga ikut menyuarakan dukungannnya, terutama soal ide buat sumur sebagai resapan air jatuh ke bumi, bukan mengalir ke laut.

Berita Kompas kemarin , “ Pemerintah provinsi DKI Jakarta akan membongkar rumah-rumah yang dibangun di bantaran sungai. Rumah-rumah tersebut diduga menyebabkan banjir saat musim hujan. “ Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, dari Gerindra“ "Sungai-sungai, situ, embung dikeruk agar tampungannya lebih besar, kemudian dilakukan penyedotan. Upaya lainnya juga dengan sodetan, mengatur meningkatkan pompa, kita perbaiki semua. Kita pastikan semua pompa bisa beroperasi dengan baik," ujar Ariza. Seakan Ariza berkata kepada Anies, "udahan bloonnya."

Sebelumnya Anies boleh berbangga. Karena semua program yang dikerjakannya adalah program yang dijanjikannya ketika Kampanye melawan Ahok. 58% percaya program Anies dan karena itu dia juara dalam Pilgub DKI. Pendukung Anies yang sebagian besar aliansi dari GNPF MUI bersama PKS dan Gerindra boleh sesumbar bahwa Anies lebih baik dari Ahok. Anies calon presiden masa depan RI. Tetapi setelah 3 tahun, kesadaran itu datang. Kembali kepada program Jokowi, kemudian Ahok. Soal penggusuran? Kini punya alasan sama dengan Ahok Bahwa itu harus dilakukan agar jakarta tidak banjir.

Anies bukanlah politisi. Bukan pula seorang leader yang smart dan creative. Anies hanya pandai bermain watak di hadapan pendukungnya, baik rakyat, ormas maupun parpol. Dia tahu betul apa yang dia katakan irrasional. Namun demi peran populis menarik massa umat islam dan peran good boy di hadapan parpol, tanpa beban dia lakukan kebijakan yang anti tesis dengan konsep membangun kota secara modern dan terpelajar. Dalam jangka pendek sikap seperti itu bisa dimaklumi. Namun kalau sampai tiga tahun tetap dengan program konyol, itu artinya dia sendiri secara pribadi engga punya idea yang lebih baik untuk jadi gubernur. Dia hanya numpang makan dengan jabatannya. Makan gratis. Padahal dalam politik, apalagi sistem demokrasi, kinerja adalah segala galanya kalau ingin tetap eksis di pilih rakyat. Semua Parpol berpikir seperti itu.

Nasdem yang tadinya mendukung Anies kini mulai berpikir rasional. Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Lukman Jupiter dari Nasdem mengkritik bahwa program rumah DP 0 persen Anies dianggap belum berhasil. Masalah banjir tahunan, banjir seluruh Jakarta itu parah dan terparah dan sampai saat ini belum terlihat terkait normalisasi banjir yang Anies lakukan. Program OK OC sebagai andalan Anies untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat DKI, gagal total. Bahkan sekarang ini ada 24 ribu kalau enggak salah DKI Jakarta di-PHK. Belum lagi pengangguran yang tak bisa diatasi.

Hal yang menyakitkan adalah hubungan selama ini mesra dengan DPRD kini berakhir sudah. Mengapa? sebentar lagi akan ada Pilkada serentak. Semua partai engga mau nampak sebagai pendukung Anies. Mereka engga mau dicap gagal. Kalau gagal, biarlah Anies gagal. PKS yang tadi militan membela Anies kini sudah kecewa dalam sesal karena jatah wagub untuk PKS sirna sudah. Dinamika politik cepat sekali menjelang Pilres 2024. Satu demi satu Parpol tidak lagi melihat Anies sebagai kuda putih yang enak ditunggangi. Bahkan FPI kini focus kepada HRS untuk diusung sebagai calon Presiden.

Kalaulah dari awal Anies mendengar kritik orang seperti saya, mungkin dia akan punya kinerja kinclong. Tentu dia punya bargain position di hadapan Parpol dan Ormas. Tetapi Anies lebih percaya kepada orang terdekat dia, yang walau well educated mereka tetaplah opportunis, numpang makan gratis. Kinerja jeblok, ya bad news bagi siapa saja.

Sumber : Status Facebook Erijeli Bandaro

Sunday, October 25, 2020 - 13:45
Kategori Rubrik: