Nasi Kucing, Nasi Anjing dan Nasi Onta

Oleh: Rudi S Kamri

 

Benar apa kata pepatah, niat yang baik hendaknya dilakukan dengan cara yang baik pula. Kalau tidak, esensi dari niat baik itu akan hilang dan justru berpotensi menuai masalah baru yang seharusnya tidak perlu terjadi. 

Dan ini yang dialami oleh penggagas bantuan makanan yang diberi label "Nasi Anjing". Meskipun nasi dan lauk pauknya dinyatakan 100% berbahan halal dan diproses secara halal pula, tetap saja pembagian nasi ini menuai kontroversi.

 

Kenapa dinamakan nasi anjing, karena menurut penggagasnya anjing dianggap binatang yang setia. Disamping itu karena porsinya dianggap lebih banyak dibanding nasi kucing yang cuma sekepal tangan, makanya dinamakan nasi anjing. Ini adalah contoh cara berpikir yang sederhana, polos namun tidak punya kecerdasan dan kepekaan sosial yang memadai.

Dalam pengertian harfiah memang benar anjing dan kucing sama-sama hewan yang lucu, setia atau apapun sebutannya. Namun dalam tata norma berbahasa di Indonesia, secara semantik pengertian kata anjing kalau digandengkan dengan kata lain bisa mempunyai makna berbeda dibanding kata kucing. 

Sebagai contoh: "dasar anjing loe" itu kata makian yang kasar yang biasa digunakan untuk mengekspresikan kemarahan kepada orang lain. Mengapa tidak digunakan "dasar kucing loe" atau "dasar kelinci loe". Inilah yang dinamakan nilai rasa berbahasa Indonesia. Tidak bisa kita bantah, karena sudah menjadi kebiasaan berbahasa di negeri kita sejak dulu kala. Sama halnya dengan penamaan istilah "buaya darat" untuk menyebut laki-laki hidung belang. Kalau kita bahas, memang buaya hanya berjenis kelamin jantan atau hanya buaya yang suka main betina? Tata berbahasa tidak sejauh itu alur dan pola berpikirnya.

Hal ini yang sangat tidak dipahami oleh penggagas bantuan makanan nasi anjing. Label 'anjing' (bukan hewan anjing) terlanjur digunakan untuk hal-hal yang negatif, entah makian maupun hinaan. Apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, penamaan 'nasi anjing' sangat sensitif dan bisa melahirkan persepsi yang berbeda. Jadi saya sangat mafhum kalau pembagian nasi anjing ini akhirnya menimbukan kehebohan. 

Apapun pembelaannya saya termasuk orang yang sangat tidak setuju dengan penggunaan istilah nasi anjing. Dari sudut apapun menurut saya tetap salah. Namun karena tujuannya baik dan terbukti tidak ada unsur bahan yang diharamkan dalam agama tertentu, bagi saya ini adalah kesalahan karena ketidaktahuan atau minimnya kepekaan sosial semata. Tidak ada unsur pidana atau kesengajaan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Kalau memang porsinya besar, kenapa tidak dinamakan "nasi kucing anggora", "nasi kucing arab", "nasi kucing turki" atau "nasi kucing raksasa" aja sih ? 

Di Indonesia, dalam berbahasa kita memang harus menggunakan etika dan nilai rasa. Tidak bisa semaunya sendiri. Ribetkah? Tidak juga. Ini yang menjadi pembeda bahwa kita disebut bangsa yang berbudaya, santun dan beretika. Bukan bangsa yang gemar mencaci maki. Kalau ada kelompok orang yang suka mencaci maki dengan kata-kata kasar itu pasti telah terinfiltrasi budaya BUKAN Indonesia. Tahu kan?

Salam SATU Indonesia
27042020

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Tuesday, April 28, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: