Nasi Goreng Rasis

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Ada seseorang yang berkomentar atas tulisan saya tentang 'Memasak nasi..' yang kemarin saya ulas. Dia menulis panjang lebar dengan mengatakan kalau saya sudah salah dalam mengupas. Menurutnya video tersebut seharusnya adalah cara membuat nasi goreng Pecinan style atau fried rice ala Chinese. Sehingga salah kalau menggunakan beras basmati atau beras lainnya, ah.. masak, nasi goreng juga harus mempunyai kasta dan menjadi rasis.

Herannya dia tidak cukup menulis satu kali komentar saja tetapi berkali-kali sampai ada empat atau lima. Semua teman-temannya yang membaca tulisan saya dan memberikan tanggapan dijawab dengan nada mencemoohkan disertai dengan gambar emoji tertawa. Berkali-kali dia melempar tanggapan dengan memanggil dal dul dal dul dan intinya chef Patel telah melakukan sesuatu yang sangat salah. Padahal BBC sudah menulis caption kalau ini adalah nasi goreng telur ala Chef Hersha Patel, bukan nasi goreng China.

Seorang chef rasa-rasanya boleh saja membuat kreasi masakan sendiri, terserah apa maunya. Tentu juga dengan cara dia yang unik sehingga tidak harus mengikuti pakem yang umum berlaku dan sudah ada. Mereka adalah ibaratnya seorang seniman dengan menggunakan wajan sebagai media kreasi yang bisa memperoleh ilham dari mana saja. Apakah kita harus marah-marah ketika chef ternama Gordon Ramsay kalau nanti membuat rendang kreasi dia sendiri yang sedikit agak berbeda.

Sewaktu di Amsterdam, saya pernah mampir ke sebuah rumah makan Indonesia yang cukup terkenal di sana. Saya sudah berharap akan menikmati cita rasa kuliner nusantara seperti yang pernah saya cicipi sewaktu masih berada di Indonesia. Tetapi sayang, masakan yang terhidang sedikit berbeda karena sepertinya disesuaikan dengan lidah orang Eropah. Dan ada rasa yang hilang, kemungkinan lain karena di luar negeri memang sulit untuk menemukan bumbu yang cocok dan komplit untuk dipakai sebagai adonan rempah-rempah.

Karena chef Hersha Patel berasal dari India, sehingga wajar saja kalau dia kemungkinan menggunakan beras basmati. Mungkin kalau saya yang menjadi chefnya, saya akan memakai Rojolele atau beras Cianjur ketika tampil di channel BBC. Lumayan juga untuk memperkenalkan produk kuliner asal tanah air sekalian bisa untuk promosi. Toh kalau saya membuat nasgor dengan menggunakan long grain asal Mexico nga bisa diklaim sebagai Mexican fried rice, jadi nga usah terlalu diurusin asal beras, kok nasi goreng menjadi rasis begini.

Adab bermedsos di Indonesia sepertinya sudah sangat rendah, sampai sekelas bekas mentri kominfo dari partai pengasong khilafah saja bisa berkata tidak sopan dan terjeblos. Saya sering mengkoreksi status atau postingan teman-teman yang lain, tetapi dengan bahasa yang ramah dan kadang saya japri supaya tidak membuat malu yang mengekspos. Dan saya juga sering dikoreksi dengan baik dan mengakui kalau saya keliru serta tidak perlu dengan menggunakan emoji tertawa sampai terengos-engos. Profile boleh saja tampak mentereng dengan sederet data dengan gambar di sebuah restoran mewah, jangan-jangan makan juga masih pake tangan dengan menu rendang jengkol yang rasanya emang mak jos.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Tuesday, July 28, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: