Narasi Kekalahan yang Salah Arah

Oleh : Rudi S Kamri

Saya heran cobaan apa yang menimpa bangsa ini. Bangsa yang dulu katanya bermental pejuang sekarang sebagian terlihat menjadi bermental pecundang. Susah sekali bersikap jantan dan sportif mengakui kekalahan. Degradasi moral dan mental ini akhirnya menjadi meluas ke hampir seluruh strata masyarakat. Ini tergambar jelas pada kelompok pendukung Prabowo Subianto.

Dulu sebelum mulai pencoblosan mereka khusyuk memproduksi kebohongan dan fitnah yang disebarkan oleh emak-emak, para agitator di lapangan dan melalui kelompok cyber army mereka serta melalui penceramah agama binaan mereka. Hasilnya otak para pendukung Prabowo hampir semua punya logika berpikir terbalik. Kebohongan dan fitnah dianggap sebagai kebenaran dan kebenaran dianggap sebagai kebohongan. Aneh tapi nyata ada.

 

Mereka juga teriak-teriak bagai orang sedang kesurupan setan gundul minta tolong kepada pemantau asing untuk mengawasi jalannya Pemilu. Narasi Pemilu curang dan KPU tidak netral menjadi santapan berita POST-TRUTH (distorsi kebenaran) yang mereka sebar ke seantero penjuru dunia. Padahal pertandingan belum dimulai. Apakah berhasil menarik perhatian dunia internasional ? SAMA SEKALI TIDAK. Kelakuan mereka malah menjadi bahan olok-olok dunia. Hasil yang paling nyata justru logika berpikir terbalik dari para pengikutnya semakin menggila. Sangat tidak normal.

Pada hari-H saat semua lembaga survey independen dan kredibel memenangkan Jokowi-MA. Mereka meradang. Mosi tidak percaya dengan lembaga survey digencarkan. Mereka lebih percaya lembaga internal mereka sendiri. Awalnya mereka bilang menang 52% sesaat kemudian angka kemenangan berubah menjadi 62% dan beberapa hari kemudian melonjak drastis menjadi 80% lalu terakhir turun lagi menjadi 54%. Lucunya kebodohan dan ketidakkonsistenan ini mereka pamerkan sambil cengengesan tanpa rasa malu.

Lalu mereka membuat panggung kemenangan. Mereka bersujud syukur dan bersorak-sorai sambil sesekali bertakbir tanpa jelas untuk tujuan apa. Lalu pertunjukan penyusunan kabinet palsu pun mereka pamerkan. Dan herannya orang-orang yang selama ini boleh dikatakan intelektual ikut dalam pertunjukan sirkus kebodohan ini. Penonton waras di seluruh dunia hanya mengelus dada, kasihan melihat kelakuanku mereka.

Sudah diprediksi pesta kemenangan kubu Prabowo hanya bertahan hitungan hari. Mereka mulai kehilangan kepercayaan diri. Lalu mereka langsung bermanuver jargon. Dari narasi kemenangan menjadi narasi Pemilu curang sambil mengancam akan mengerahkan massa kalau mereka tidak dimenangkan. Dan mereka secara jumawa bilang tidak akan menempuh sengketa Pemilu melalui jalur MK. Mereka tetap ngotot akan mengerahkan massa. Dan kantor KPU pun menjadi sasaran ketidakpuasan. Para pesorak krocopun tidak kalah heboh. Mereka takjim dan waspada bergantian menjaga baliho kemenangan yang mereka buat sendiri. Persis kelakuan anak kecil manja yang salah asuhan.

Saat KPU mengumumkan hasil final. Mereka semakin tersudut karena rupanya gertakan mereka tidak mempan. Tidak ada jalan lain mereka mengeluarkan jurus double faces. Mereka tak malu menjilat ludah sendiri dan memutuskan menggugat sengketa Pemilu melalui jalur konstitusional (MK). Tapi di sisi lain Tim Perusuh mereka biarkan memporak- porandakan Jakarta. Sudah pasti keberadaan Tim Perusuh ini tidak diakui oleh mereka. Meskipun kenyataannya mereka terbukti mensuplai logistik kerusuhan dengan menggunakan ambulance. 

Tim Perusuh bayaran di seputaran kantor Bawaslu beberapa waktu lalu menurut saya hanya pemanasan. Puncaknya saya prediksi mereka akan membuat rusuh lagi di kantor MK saat persidangan bulan depan. Mudah- mudahan aparat keamanan sudah sigap mengantisipasi hal tersebut karena lokasi MK ada di lokasi ring 1.

Lucunya Tim Kuasa Hukum dari Prabowo Sandi juga tidak kalah halusinasinya. Dari beberapa tuntutan yang mereka ajukan diantaranya minta Paslon Jokowi-Amin didiskualifikasi dan menetapkan Paslon Prabowo-Sandi menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024. Kalau tuntutan tersebut tidak dipenuhi mereka minta MK memerintahkan Pemilu ulang. Pruuuuttt

Tuntunan mereka ini selain aneh juga secara Terstruktur, Sistematis dan Masif sangat lucu dan menggelikannya. Pertama, MK itu bukan lembaga yang berhak menentukan siapa yang jadi Presiden dan Wakil Presiden, tapi MK adalah lembaga pemutus sengketa yang selanjutnya keputusan siapa yang menjadi Presiden dan Wapres tetap dilakukan oleh KPU. Kedua, tuntutan mereka bahwa kalau tidak dimenangkan, minta pertandingan diulang, duh seperti kelakuan anak kecil yang lagi ngambek.

Saya tidak tahu sampai kapan silang sengkarut ini akan berakhir. Kuncinya adalah kesadaran Prabowo untuk jangan berjiwa kerdil. Dia harus sadar bahwa sikap tidak legowonya adalah sumber malapetaka demokrasi di negeri ini. Dia tidak pantas berlagak seperti preman. Kalau keinginannya tidak dipenuhi akan membuat keonaran. Dan sikap seperti ini ternyata menular ke para pengikutnya.

Premis saya ini terbukti dengan penelusuran pihak kepolisian. Bahwa ada rencana dari otak kerusuhan 22 Mei untuk menghabisi nyawa 4 tokoh nasional dan pimpinan lembaga survey. Apakah kenyataan ini akan diingkari lagi oleh BPN bahwa ini tidak terkait dengan ujaran kemarahan mereka terhadap lembaga survey ?

Kelakuan dan pikiran mereka sudah salah arah. Negeri ini, rakyat ini dibuat seperti ajang mainan oleh kelompok mereka. Pemerintah dan aparat keamanan negara harus berani tegas menyikat habis badut-badut berpikiran preman tersebut. Mereka seperti sel kanker yang merusak pikiran sebagian masyarakat Indonesia. 

Jujur saya sedih, melihat SDM Indonesia jadi pekok berjamaah gara-gara ulah kutu kupret dan kadal burik yang haus kekuasaan.

Salam SATU Indonesia,
27052019

Thursday, May 30, 2019 - 00:15
Kategori Rubrik: