Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Adalah seorang ayah dari tiga orang anak: Angkasa, Aurora dan Awan, yang sudah berusaha sekuat-kuatnya menjadi seorang ayah. Ia yang menginginkan kesedihan berakhir di keluarganya, ia mendambakan kebahagiaan adalah bahasa yang dipahami oleh setiap dari mereka. Di perjalanan, ia mungkin terlalu keras berusaha agar impiannya tercapai. Ia yang tidak sadar memberi beban terlalu banyak kepada anak lelakinya Angkasa untuk menjadi pelindung bagi adik-adiknya. Ia yang menunjukkan kekuatiran berlebih kepada si bungsu permata hatinya, Awan, tersebab rasa takut kehilangan. Lalu ia yang seakan luput memberi penghargaan dan cinta yang cukup kepada anaknya yang lain, Aurora.

Adalah seorang perempuan yang mendampingi si ayah, perempuan baik, penurut dan sabar. Yang walau harus menahan kegetirannya diam-diam, ia bersetuju dengan semua yang dilakukan si ayah. Bahwa kesedihan keluarga mereka memang sudah seharusnya berakhir di suatu hari, bahwa rahasia penyebab kesedihan itu harus dikubur dalam-dalam.

Dan ada tiga orang anak yang harus membenahi hati dan pikiran mereka sendiri, dari sudut pandang mereka masing-masing, bagaimana cara mereka menerima dan bagaimana cara mereka mengerti, mereka tentu saja bisa keliru. Mereka yang tergiring salah menilai adalah hal yang wajar karena mereka memang tidak pernah benar-benar tahu dan mencoba merasakan, bagaimana sebenarnya semua usaha ayah dan ibunya adalah bentuk cinta dan perlindungan. Bagaimana mereka berdua hendak menyulap penderitaan mereka agar terlihat sebagai kebahagiaan. Mereka berdua berpikir seperti kebanyakan orang tua lainnya, bahwa hal-hal yang mereka lakukan adalah pengorbanan untuk sesuatu yang besar bagi anak-anaknya. Namun sebaliknya anak-anaknya berpikir mereka telah diperlakukan dengan tidak adil.

Cerita serupa cerita film ini terjadi di rumahmu, di rumahku, di rumah sekian juta keluarga di dunia. Kita yang butuh mengalami, butuh patah berkali-kali, butuh melewati drama, tangisan juga tetap harus menyiapkan ribuan stok maaf, sebelum mengerti benar rahasia keluarga kita sendiri. Keluarga yang tetap adalah keluarga, biar bagaimana.

Keluarga tetap tempat terhangat meski kita sesekali belajar marah dan membenci di sana. Keluarga tempat tumbuhnya sesuatu yang menenangkan sekaligus memenangkan serupa kasih sayang. Keluarga adalah percobaan pertama kita belajar menaruh kepercayaan dan setia. Tapi keluarga pun bisa jadi rumah yang ingin kita tinggalkan tersebab memberi kita begitu banyak rasa lelah dan kecewa.

Saya yang selalu berkata kepada anak-anak kami; kita mungkin akan saling menyakiti dan mengecewakan ribuan kali, tapi kita tidak akan menyerah satu dengan yang lain. Itulah keluarga, kutukan sekaligus keberuntungan kita. Dan biar bagaimana, kita tidak akan pernah saling menyerah.

Saya selalu berdoa, mereka akan mengampuni hal-hal sulit yang kami lakukan dengan mengatasnamakan cinta tetapi tidak kunjung mereka pahami. Semoga Tuhan pun berkenan selalu mengampuni setiap anak untuk setiap hari yang sedih berikut setiap kali hati orang tua patah karenanya.

***

Patah hati berkali-kali
Katanya, "Lama-lama lukanya juga sembuh sendiri".

Tidak ternyata, lukanya cuma mengering, bekasnya masih tersisa.

Hanya tertutup waktu, tergiring rutinitas, terganti dengan turbulensi lainnya.

Tapi hari ini baru kita pahami, banyak perubahan dari patah berkali-kali.

Pencipta titipkan kacau tidak sendiri, ia sertakan diri yang kuat bertahan sampai hari ini.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Monday, January 20, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: