Nakes Mencovidkan Demi Anggaran Pemerintah?

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Luar biasa sedih lihat postingan HOAX ini, dalam 15 jam dishare 77 ribu orang !

Padahal isinya adalah tuduhan, fitnah, tanpa data dan bukti. Nakes kita banyak gugur karena covid-19, sebagian dari mereka masih muda tanpa comorbid. Sebagian yang tua adalah aset berharga karena sekolahnya lama sekali sampai sub-spesialis, professor dll. Menggantikan mereka butuh puluhan tahun menuntut ilmu. Kalau nurani tak tergerak dengan fakta ini, gunakanlah akal.

1. Pemerintah menyuap pasien bukan covid agar dicovidkan. 
Tujuannya apa ? Untungnya apa ? Jualan vaksin covid? Lah vaksinnya saja sampai sekarang gak ada.

Ngasih sembako saja gak bisa merata, apa untungnya bagi pemerintah bagi-bagi uang agar ngaku covid?

2. RS dapat bayaran kalau mau mengcovidkan 
Lagi-lagi untungnya apa? BPJS aja pemerintah banyak nunggak ke beberapa RS. Itupun uang dari pemerintah diberikan untuk keluarga pasien covid, bukan ditilep RS. Jadi RS dapat untung darimana?

FAKTA YANG BENAR:

1. Pemerintah mendanai pasien covid-19

Ini bukan isu baru suruhan illuminati, remason, mamarika dll dsb. Tapi memang sudah lama tercantum pada Pasal 10 UU Nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular: Pemerintah bertanggung jawab penanggulangan wabah. Mencakup pembiayaan penyelidikan epidemiologis, pemeriksaan, pengobatan, perawatan, isolasi, penanganan jenazah, penyuluhan dan upaya penanggulangan lainnya.
https://lokataru.id/tanya-jawab-hukum-covid-19/

Jadi pasien covid, seluruh pengobatan dan biaya pemakaman akan dibayar pemerintah. Bukan uang suap supaya mau dicovidkan.

Ini sudah menjadi UU internasional di negara manapun terkait wabah, pemerintah wajib mendanai. Gak terkecuali, mau negara benci Zionis maupun pro zionis. So, gunakanlah otak kita. Jangan mudah termakan konspirasi.
.

2. Pemerintah memakamkan pasien suspek dan probable covid dengan protokol covid (jika hasil PCR belum keluar).

Anda yang percaya konspirasi tidak setuju kan diagnosis covid semata dengan PCR ? Betul, diagnosis dokter berdasarkan gejala khas covid juga penting sebagai penunjang.

Tes PCR rata-rata 3 harian itupun kalau di kota besar, kalau di daerah jauh lebih lama. Ada banyak pasien dengan gejala khas covid meninggal, apa iya dimakamkan harus nunggu minimal 3 hari sampai test PCR nya keluar?

Kenapa harus pakai protokol covid? Kalau punya gejala covid, pasien itu adalah suspect atau kasus probable (kemungkinan covid tapi nunggu confirmasi PCR). Bayangkan, dimakamkan dengan protokol covid saja nakes yang tertular dan gugur sudah ratusan, apalagi enggak ?!

Jenazah pasien covid bisa menularkan, karena virus nempel di tubuhnya. Sebagai kehati-hatian dimakamkan dengan protap covid, dan itu tentu butuh biaya lebih mahal dari pemakaman biasa. Pemerintah akan mengganti biaya pemakaman, prosedur yang wajar sesuai UU, bukan untuk menyuap agar mau dicovidkan.
.
3. ⁉️ Kalau semua dimakamkan protokol covid, angka kematian covid makin tinggi donk? Buat nakut-nakuti?

TIDAK BENAR.
Sampai sekarang yang tertulis resmi sebagai angka kematian covid HANYA YANG POSITIF TES PCR. Jadi meski dimakamkan dengan protokol covid, selama tes PCR belum keluar, atau hasilnya negatif, mereka semua TIDAK DIDATA. Bahkan ada banyak yang dimakamkan dengan protokol covid tidak sempat tes PCR. Belum lagi tes PCR kita masih jauh dari standar WHO, hanya 1/3 dari standar. Artinya, angka kematian covid yang real di lapangan harusnya jauh lebih banyak.

https://megapolitan.kompas.com/…/populer-jabodetabek-data-k…

Pemerintah bahkan tidak mau transparan mendata dan melaporkan kasus suspect dan probable, karena angka kematian covid pasti melonjak berkali lipat. Pemerintah tidak mau masyarakat panik dengan angka kematian yang tinggi. Tapi tetap pemerintah mencegah penularan dengan menerapkan protap pemakaman covid bagi kasus suspect dan probable. Wajar jadi terlihat inkonsisten.

4. Loh meninggal karena sakit jantung, diabetes kok dimakamkan karena covid?

Mereka yang punya komorbid sebelum covid mewabah bisa dikontrol penyakitnya untuk hidup dalam waktu bahkan berpuluh tahun. Beda dengan covid-19 yang meninggalnya dalam hitungan hari. Orang diabetes misalnya tanpa covid biasanya meninggal karena hipoglikemi, asidosis, tapi bukan karena acute respiratory distress syndrome (ARDS), badai sitokin, dll yang merupakan gejala khas covid. Jadi kalau ada pasien diabetes terkena ARDS lalu positif covid, ya bisa dipastikan dia meninggal karena covid bukan karena diabetesnya. Bahkan jika belum PCR tapi ada ARDS maka masuk kasus probable karena gejala khas covid.

Kalau ada yang panuan di wajah, sering garuk-garuk wajah lantas tertular covid dan meninggal karena ARDS, apa iya mau bilang meninggalnya karena panu?

Lah meninggal kecelakaan di tes positif covid kenapa pakai protokol covid juga? Emangnya virus penyebab covidnya gak bisa menular ke yang mengurus jenazah ? Kalau positif ya tetap pakai protokol covid.

Gimana kalau katanya tetangga saya, anak tante dari adik tetangga saya yang om nya punya saudara tiri yang anak angkatnya katanya dimakamkan covid padahal negatif covid?

Sudah, jangan menyebarkan berita-berita gak jelas, katanya dan katanya yang kita gak melihat kejadian aslinya.

“Cukup seseorang dikatakan pendusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5).

Sunday, October 18, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: