Nafsu-Nafsu Jalanan

Oleh: Iyyas Subiakto
Hadirnya Jokowi di kancah politik Indonesia adalah sebuah anugrah untuk bangsa ini. Manusia tanpa kasta dan tak memikirkan hidup gelamor atas tahta dan harta ini tulus mengabdi dan terus bersyukur atas bangsanya, walau kadang ada serpihan kegalauan dalam kegaduhan dari orang-orang yg berang karena tak lagi bisa berbuat sembarangan mengacak acak Indonesia, mereka adalah orang murahan berpenampilan sok jagoan tapi menjijikkan.
Dalam sanubari ibu Pertiwi ada pertanyaan, apakah pantas mereka menghirup udara Indonesia, yg sekarang berpolusi karena nafas bau mereka yg terus bersuara mencerca atas hal-hal baik yg terus mereka cabik.
 
Adalah bermula dari sandiwara pura-pura, lalu mereka mulai menjual agama tanpa sungkan kepada Tuhan. Politik bau WC yg mereka hirup 42 thn itu telah menyumbat hidung penciuman atas kebaikan, karena mereka sudah terbiasa dgn kebejatan yg terpatri sbg landasaan berprilaku dan tak mau terganggu.
Kehadiran awal priode Jokowi membenahi, mereka sangat serius menghalangi, bahkan sejak awal Jokowi dituduh PKI, keturunan Cina, dan lontaran kekejian lainnya yg sungguh amoral. Begitu paranoidnya mereka sampai Tuhanpun diancam tak akan disembah bila tak memilih calonnya. Ah piaraannya saja PKI, HTI dan FPI, apa kita yakin KAMI itu tidak sama jenisnya.
Silih berganti mereka mencoba menghalangi sebuah perubahan besar yg dilakukan pemimpin besar bukan bermulut besar. Pancasila akan dibumikan, mereka malah mau menghancurkan, nawacita di jalankan, mereka belingsatan.
Setiap hari kita melihat, mendengar, dan merasakan bagaimana pembangunan ini mulai merata, saya termangu bila kawan saya mau makan tengkleng kambing dari Sidoarjo ke Solo, PP lewat tol, bagaimana ada trans Papua, bagaimana ada BBM 1 harga, bagaimana manusia kerempeng bahkan mereka yg berakhlak binatang bisa mengatakan presiden plonga-plongo. Para penghina ini terus mempermalukan dirinya, karena sejatinya levelnya jauh dibawah manusia hina sekalipun. Mereka inilah musuh bangsa yg pura-pura Indonesia bersumsum Orba.
Hadirnya para manusia terdidik, bergelar maha gelar, seperti AR, GN, DS, dan koloni lainnya yg skrg sedang ngamen diiringi musik cempreng membuat kita makin mahfum bahwa lapisan kebejatan berbangsa ini memasuki fase serius, dan dimotori oleh manusia salah urus yg mengaku berakhlak, tapi kelasnya hanya bisa " menyalak ". Mau jadi pemimpin kok kayak Upin-Ipin.
Ibarat kebeningan air yg akan kita jaga, mereka sengaja mengeruhkannya agar tak terlihat kotorannya karena mereka bagian dari sumber kekotoran itu dan nyata.
Indonesia sedang mengarungi samudra kebenaran menuju ketepian kejayaan yg lama tertunda, bangsa ini sempat menjadi bangsa terhina bahkan Malaysia yg bahkan batikpun di klaim mereka punya bisa mengolok kita. Bangsa besar ini pernah di bonsai oleh pemimpinnya sendiri, pemimpin yg maniak kekuasaan dan harta, menjadikan rakyat ini seperti abdi dalem yg ngesot, nunduk kepada sang raja dan keluarganya.
Kita di jajah oleh segelintir manusia Indonesia yg bahkan kekejamannya melebihi Belanda. 42 thn saja mereka berkuasa kehancuran kita merata. Hutan ludes, isi perut bumi kering, pendidikan dikerdilkan, pemerataan hak ditiadakan, hukum main tekan, aparat menjadi beringas mengganas, bangsanya dianggap musuhnya. Sebuah episode yg menyakitkan. Apa hal yg sama mau kita biarkan terulang.
Sebuah peringatan, kalau kita hanya cengengesan tanpa keseriusan menghalau mereka dari kancah perpolitikan, maka anak cucu kita pasti akan mengalami orba jilid dua, gaya baru permainan lama. Mau contoh peninggalan budayanya, lihat instansi, lembaga penegak hukum yg masih main mata kepada manusia durjana yg harusnya di penjara malah di larikan keluar hanya karena mereka mendapat bagian uang haram rampasannya, jd sesungguhnya mereka inilah perampok berkedok lembaga dgn seragam yg dibiayai negara.
Sekarang para perusak ini sedang rajin berkoar di jalanan untuk mencari tempat duduk agar mereka bisa berkuasa sambil mengaduk aduk sesuai birahi berkuasanya yg lama tak bisa ejakulasi karena tertahan oleh kebaikan yg makin digalakkan dibenak rakyat yg lama terlena oleh budaya kebuasan bernegara tanpa bisa membedakan antara kebaikan dgn kebiadaban.
Mari bangun anak muda, hiduplah di alam nyata, masuk ke mesin waktu utk melihat masa lalu sebagai contoh kesesatan bukan tauladan. Karena hidupmu ada di masa depan dgn landasan membiasakan yg benar bukan membenarkan yg biasa.
INDONESIA SEKARANG DAN MASA DEPAN, DITANGAN ANAK MUDA, BUKAN YG DITERIAKKAN DI PINGGIR JALAN OLEH LANSIA YANG KURANG KERJAAN.
 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Saturday, September 26, 2020 - 07:45
Kategori Rubrik: