Nafsu Menyeret Ahok Ke Penjara

Basuki Tjahaja Purnama

Oleh Muis Sunarya

Drama kasus Ahok tentang al-Maidah 51 berakhir klimaks. Demo anti-Ahok benar-benar terjadi kemarin. Tujuannya satu, menyeret Ahok ke penjara. Dengan begitu usaha menggagalkan Ahok sebagai cagub DKI Jakarta tercapai.

Bukan sok tahu atas apa yang belum atau bakal terjadi, tapi menurut persepsi saya yang awam tentang realitas politik, yang konon sulit ditebak. Bukan juga mendahului tukang survei. Tapi berdasarkan pada arus politik dan kepiawaian Ahok dalam beberapa peristiwa yang menggoyangnya.

Sesuai namanya, Basuki yang artinya “selamat”, alih-alih nafsu kelompok yang anti-Ahok untuk menyeretnya ke penjara, Ahok kelihatannya santai saja ketika merespon itu semua, tampaknya bakal selamat dari segala jerat dan intrik yang menfitnah dirinya dalam persaingan politik menuju pilkada DKI Jakarta.

 

Artinya, Ahok tampaknya akan aman melenggang menuju cagub sampai hari pemungutan suara. Dan bahkan menjadi calon yang semakin kuat, tak tertandingi dan sulit dikalahkan oleh cagub yang lainnya. Betul versi hasil survei terbaru dari tukang survei yang baru-baru ini dirilis, yang menyebutkan Ahok ternyata bisa dikalahkan, tapi sangat sulit. Bukan tendensius, tapi percayalah.

Semua drama dalam menjegal pencalonannya menuju DKI 1 kemungkinan besar kandas di tengah jalan. Ini sekaligus adalah semacam pemanasan awal yang akan mengantarkannya secara sehat dan elegan ke kursi DKI 1 itu. Sebuah ujian kelas yang akan membuktikan Ahok menjadi juara 1 di kelasnya.

Artinya, Ahok semakin teruji kecerdasan dan kepiawaiannya dalam kancah politik nasional. Apalagi kalau melihat orang-orang yang berada di sekeliling Ahok sebagai tim managemen dan tim sukses, baik yang resmi terdaftar di KPUD maupun tidak resmi, dan ini yang lebih besar jumlahnya juga solid. Ahok dikelilingi oleh orang-orang muda, berpikir brilian, cerdas dan kreatif dalam merumuskan strategi dan cetak biru untuk memenangkan kompetisi pilkada ini.

Saya tidak perlu merinci siapa-siapa saja sekelompok orang muda yang berada di balik layar dan belakang Ahok. Yang jelas mereka adalah orang-orang yang pintar, berkualitas, memiliki kapabilitas yang tidak diragukan lagi dalam membidani kelahiran dan mengantarkan Ahok menuju gubernur DKI Jakarta.

Artinya, selain faktor Ahok sendiri sebagai seorang sosok yang berkualitas dan luar biasa, juga faktor orang-orang muda yang “menemani” dan “mengawal” Ahok yang juga berkualitas dan luar biasa.

Terlepas dari segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada Ahok, terutama terkait karakternya sebagai layaknya manusia yang sama dengan yang lainnya, tapi juga ia memiliki kelebihan sebagai kekuatan positif yang melengkapi dan nilai tambah yang menggenapi bagi sosok Ahok. Ini bisa dilihat, paling tidak, sejak ia dilantik sebagai gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi sampai hari ini.

Ahok memiliki karakteristik kepemimpinan yang khas dan layak diapresiasi dalam memimpin ibu kota Jakarta lima tahun ke depan. Karakteristik kepemimpinan yang dimiliki oleh Ahok—Ini pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan yang lain berbeda pendapat dengan saya—antara lain adalah berpikir di luar kelaziman (think outside the box), keberanian mendobrak birokrasi, kemampuan untuk selalu berimprovisasi, menghormati waktu dan tidak mendewakan kekuasaan.

Merespons masalah secara real time, keberanian mengambil resiko, keberanian melawan fitnah, kemampuan melakukan transformasi diri, berpikir rasional, taat sistem dan peraturan, dan tentu problem solver.

Karakteristik kepemimpinan Ahok seperti di atas adalah aset dan modal bagi Ahok dan tim suksesnya untuk menguatkan persepsi bahwa tampaknya Ahok tetap sulit terkalahkan oleh siapa pun calon pesaingnya dalam pilkada DKI Jakarta. Rileks saja. Ayo siapa berani lawan Ahok? (Qureta)

 

Saturday, October 15, 2016 - 14:00
Kategori Rubrik: