Nabi SAW dan Non Muslim Abu Sofyan

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Ternyata banyak juga yang baru sadar kalau banyak perang melawan orang kafir di masa kenabian yang melibatkan drama keluarga. Maksudnya, perang itu terjadi dimana keluarga-keluarga terpecah menjadi dua kubu.

Sebagian anggota keluarga berada di kubu muslimin bersama Rasulullah SAW, namun sebagian anggota keluarga yang lain bersama kubu musyrikin.

Yang paling mencolok adalah antara Rasulullah SAW dengan pimpinan musyrikin Mekkah, Abu Sufyan. Dua orang ini sama-sama berada di level tertinggi dari masing-masing kubu.

Ternyata keduanya punya hubungan keluarga yang amat dekat, yaitu salah satu puteri Abu Sufyan yang bernama Romlah (kadang juga disebut Ummu Habibah) justru masuk Islam dan setelah suaminya murtad di Habaysah, justru dinikahi oleh Rasulullah SAW.

Selain itu, salah satu putera Abu Sufyan yang bernama Mu'awiyah bin Abu Sufyan juga masuk Islam, bahkan dengan kecakapan baca tulis yang diwarisi dari keluarga, dia diangkat menjadi sekretaris Rasulullah dan tercatat namanya sebagai penulis wahyu.

Jadi Abu Sufyan itu pimpinan musyrikin Mekkah yang memimpin perang melawan Rasulullah SAW, tapi dua anaknya malah berada di kubu Rasulullah SAW.

Malah hubungan antara Rasulullah SAW dan Abu Sufyan itu hubungannya antara menantu dan mertua. Tapi keduanya sama-sama pimpinan dua kubu yang saling berperang. Menantu di satu pihak dan mertua di pihak lawan.

Gelar Romlah adalah ummul mukminin, karena Beliau dinikahi oleh Rasulullah SAW. Sebelum dinikahi Rasulullah SAW, awalnya Romlah sudah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy. Mereka berdua termasuk pasangan yang mula-mula masuk Islam.

Ketika kekerasan kepada para pemeluk Islam saat itu di Mekkah semakin menjadi-jadi, keduanya ikut dalam hijrah ke Habasyah atas perintah Rasulullah SAW. Namun banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Ubaidillah malah murtad dari agama Islam dan masuk agama Kristen.

Beberapa riwayat yang lain menyebutkan bahwa sebelum masuk Islam, Ubaidillah ini memang sudah memeluk agama Kristen, lalu masuk Islam, kemudian balik lagi ke agama lama. Riwayat yang lain juga menyebutkan bahwa Ubaidillah ini meninggal di Habasyah, sehingga Romlah atau Ummu Habibah menjadi janda.

Dia sendirian membesarkan anaknya dan terus tinggal di Habasyah, bahkan sampai Nabi SAW dan para shahabat hijrah ke Madinah.

Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa tujuh tahun setelah Rasulullah SAW hijrah, Beliau SAW kemudian melamar Romlah lewat Raja Habasyah, An-Najasyi. Ini pernikahan jarak jauh, dimana kedua pengantin berada di dua tempat yang berjauhan.

Disebutkan dalam beberapa riwayat sirah, bahwa maharnya 400 dinar.

Namun pernikahan jarak jauh itu memisahkan Rasulullah SAW dan Romlah. Salah satu versi riwayat menyebutkan bahwa keduanya baru bertemu usai Perang Khaibar, yaitu di tahun ketujuh hijriyah, ketika Ja'far bin Abi Thalib mengajak para muhajirin dari Habasyah bergabung ke Madinah.

Disitulah uniknya, Rasulullah SAW menikahi Romlah puteri musuh bebuyutannya, Abu Sufyan, tentu ini menjadi momentum yang dramatis.

Sebab kita ini biasanya kalau seseorang sudah memposisikan seseorang sebagai musuh, maka kita akan membenci segala sesuatu yang terkait dengan musuh kita itu. Bahkan kita juga akan membenci semua temannya dan termasuk semua anggota keluarganya.

Setidaknya kita akan jaga jarak, biar tidak terjadi konflik kepentingan.

Namun tidak demikian dengan Rasulullah SAW. Yang bermasalah itu bapaknya, sedangkan puterinya tidak ada urusan. Sehingga Rasulullah SAW justru malah menikahi puteri dari musuhnya sendiri.

Romlah sendiri tentu berpihak kepada Rasulullah SAW. Beliau wanita yang beriman dan tegar dengan keimanannya. Maka setahun kemudian, menjelang terjadinya peristiwa Fathu Mekkah, Romlah kedatangan Abu Sufyan di rumahnya, di Madinah.

Abu Sufyan ingin duduk di atas kasur Rasulullah SAW, tapi Ummu Habibah mencegahnya. Karuan Abu Sufyan protes.

"Kenapa kamu cegah Aku duduk di atas kasur ini?" kata Abu Sufyan. "Itu milik Rasulullah, padahal Ayah adalah seorang musyrik yang najis, tidak boleh duduk di kasur ini."

Sebenarnya secara mental, Abu Sufyan sudah jatuh dengan fakta bahwa puterinya masuk Islam, bahkan lebih jatuh lagi ketika mendengar puterinya malah dipersunting oleh Rasulullah SAW.

Rupanya ini skenario dari Rasulullah SAW yang amat mengenal watak musuhnya. Abu Sufyan tidak mau masuk Islam tidak lain karena dia khawatir kehilangan kedudukan dan nama besarnya di tengah masyarakat.

Namun ketika arah bandul mulai berbalik, kemenangan demi kemenangan telah diraih oleh Rasulullah SAW, bahkan kesuksesan dakwah Rasulullah SAW semakin hari semakin nyata terjadi, ujung-ujungnya Abu Sufyan sadar dan menatap fakta juga.

Begitu ada kesempatan untuk masuk Islam, dia tidak menyia-nyiakannya. Malam menjelang pembebasan kota Mekkah, diam-diam tanpa izin dari teman-teman musyrikin Mekkah, Abu Sufyan menyelinap masuk ke tenda-tenda pasukan muslimin dan minta dipertemukan dengan Rasulullah SAW, lalu menyatakan diri masuk Islam.

Ini adalah aksi loncat indah yang unik dari seorang Abu Sufyan. Menjelang kekalahannya, dia pun akhirnya menyatakan masuk Islam. Agak oportunis memang, atau malah boleh dibilang justru sangat oportunis.

Malah Abu Sufyan minta jaminan keselamatan, sekaligus minta juga agar namanya disebut-sebut sebagai pelindung rakyat dari pasukan.

فمن دخل دار أبي سفيان فهو أمن

Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia dijamin aman.

Di masa berikutnya, Abu Sufyan menjadi shahabat yang punya banyak jasa dalam dakwah. Malah puteranya, Mu'awiyah, sudah lama masuk Islam dan menjadi salah satu dari para penulis wahyu Al-Quran. Di kemudian hari, Mu'awiyah putera Abu Sufyan menjadi khalifah dan pimpinan umat Islam.

Sangat boleh jadi salah satu sebab kenapa Abu Sufyan akhirnya masuk Islam karena kedekatan ikatan keluarga dengan Rasulullah SAW.

Posisi ini akan sangat menguntungkan Abu Sufyan. Bagaimana tidak, dirinya akan lebih dihormati orang-orang, karena biar bagaimana pun statusnya adalah mertua Rasulullah SAW.

Status sosial seperti ini buat karakter orang tertentu justru sangat penting dan hukumnya sah-sah saja. Apalagi Rasulullah SAW pun sadar dan tahu hal itu. Tiap orang pasti punya karakteristik yang beda-beda.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, September 4, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: