Nabi Buta Huruf?

ilustrasi

Oleh : Jody Ananda

Waktu kecil, saya diajari bahwa Kanjeng Nabi adalah "ummiy", yang bermakna tidak bisa baca tulis, atau buta huruf.

Karena itu, saya kaget ketika guru agama saya saat sekolah menengah yang lulusan pondok terkenal di Jawa Timur, memberikan persepsi lain atas kata itu. Menurut beliau saat itu, Kanjeng Nabi bisa membaca dan menulis, dengan disertai argumen yang kuat dari sisi hadits maupun sejarah.

Ini memang terkait dengan kata "ummiy" sendiri, yang memang bisa multi tafsir. Secara ringkasnya, memang ada beberapa pendapat terkait ini :

1) Para mufassir dari kalangan awal/klasik semisal Qurthubiy, Suyuthi, Ibnu Katsir dll menafsirkan bahwa kata "ummiy" sebagai buta huruf/tidak bisa baca tulis sama sekali.

2) Sebagian mufassir kalangan pertengahan, mengambil pendapat bahwa huruf "maa" pada kalimat "Maa ana bi qari'in" tidak berarti pernyataan negasi, tapi justru berarti "Apa". Dalam bahasa Arab, "maa" memang bisa berarti dua hal, "tidak" atau "apa". Ummiy disitu ditafsirkan bahwa Kanjeng Nabi tidak membaca atau menulis kitab-kitab dari agama/rasul sebelumnya. Dari sejarah, kita tahu bahwa beliau bukanlah seorang pendeta, rahib, biksu..pendeknya bukan seorang ahli dalam bidang keagamaan, tapi pedagang/orang biasa. Pengetahuan yang beliau dapatkan dalam bentuk wahyu Al Quran adalah curahan langsung dari Allah melalui Jibril.

3) Sebagian mufassir kalangan mutakhirin, berpendapat bahwa Nabi memang Ummiy/tidak bisa baca tulis, pada saat awal perjalanan beliau sebagai Nabi, tapi kemudian beliau belajar dengan cepat sehingga menguasai baca tulis.

Saya pribadi lebih meyakini pendapat no.2), sebagai informasi kata al-Amin (الامين، امين) dalam bahasa Arab (yg merupakan gelar Kanjeng Nabi yang diberikan kaum Quraisy), dipakai sampai sekarang, berarti Sekretaris.

Sekretaris kan ya mestinya bisa baca tulis toh?

Sumber : Status Facebook Jody Ananda

Monday, December 9, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: