Musuh Negara

ilustrasi

Oleh : Teguh Arifiyanto
.
Saya bertanya pada supir yang mengantar saya di Hongkong tahun lalu, kenapa ia tidak ikut berdemonstrasi padahal katanya ia adalah pendukung pro demokrasi Hongkong. Kebetulan hari itu terjadi demonstrasi besar-besaran di Hongkong. Jawabannya sangat logis, ia tidak berani karena kamera CCTV di Hongkong diduga mengidentifikasi wajah para pendemo. Dan dalam banyak kasus, katanya, pendemo yang berhasil diprofiling kamera-kamera publik tersebut tidak akan bisa meninggalkan Hongkong karena akan dimasukkan dalam "watch list" pemerintah China. Entah benar atau tidak, tapi masuk akal.
.
Ketika seseorang dinyatakan sebagai "musuh negara", maka negara akan melakukan upaya apapun untuk membungkam atau menghabisi kekuatan musuh-musuhnya sampai tak bersisa. Dalam kasus terburuk, negara tertentu (mungkin) saja akan mengambil kebebasan bahkan menghilangkan musuh-musuhnya. Negara punya sumber daya tak terbatas untuk melakukan hal itu.
.
Entah bagaimana di Indonesia. Apakah negara akan melakukan hal yang sama?
.
Dalam sebuah prespektif, perjuangan mempertahankan idealisme apapun atau perjuangan melawan ketidakadilan penguasa itu selain dengan kritik, bisa dilakukan melalui jalur demokrasi, yakni dengan cara berpolitik.
.

Tak dilarang memang kita berteriak kencang di media, bertindak sebagai pejuang keadilan mandiri, atau memamerkan kekuatan masa untuk menunjukkan pengaruhnya, tapi jika suatu saat lisan atau jari tak terjaga karena euforia, terus mencaci maki tiada henti, apalagi menebar provokasi kebencian dimana-mana, maka bukan tak mungkin kita akan menjadi salah satu "musuh negara".
.
Di negara ini, kita bebas mengkritik negara sepuasnya, tapi jika kita melampaui batas dan sudah diperingatkan atas pelanggaran batas tersebut, namun mengabaikan dan tetap melakukan hal yang sama, itu sama seolah kita seperti sedang 'mengejek' negara.
.
Negara tidak punya batas sabar, penguasa yang punya. Negara bisa melakukan apapun untuk menunjukan supremasinya, dengan atau tanpa perintah penguasa.
.
Kita boleh saja mengatakan tidak takut, karena merasa selalu berada di lajur kebenaran, tapi naif jika hidup dengan cara itu membahagiakan kita. Hidup yang penuh benci adalah penderitaan tiada akhir.
.
Berpolitiklah jika menurut kita itu perlu, buat partai atau gabung partai yang sudah ada, menangkan hati rakyat, ubah cara pandang tentang kekuasaan, jadikan negara ini lebih baik sesuai nilai-nilai idelisme yang selama ini diperjuangkan, satukan negara ini dengan merajut persamaan, bukan dengan membentangkan perbedaan. Negara ini akan maju dengan cara yang membanggakan!

Sumber : Status Facebook Teguh Arifiyanto

Saturday, November 21, 2020 - 23:30
Kategori Rubrik: