Musuh Baru Paska Televisi

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Tentang bahaya dan madharat televisi, rasanya sudah panjang lebar dibahas oleh banyak ustadz, penceramah, mubaligh, termasuk juga pada pegiat parenting.

Malahan sebagian kalangan sudah sampai mengharamkan televisi di rumah mereka, dan dijadikan salah satu tolok ukur rumah islami. Kalau masih ada televisi, berarti rumah itu belum islami, gitu katanya.

Padahal tidak selamanya televisi ini merusak dan madharat. Dalam beberapa sisi, masih ada juga yang positif, baik dan bisa dimanfaatkan. Asalkan bijak dan cermat serta selektif memilih programnya.

Namun banyak yang lupa bahwa teknologi terus berkembang. Kalau dulu 'musuh' kita televisi, sebenarnya hari ini kita punya teknologi yang jauh lebih dashyat daya rusaknya, yaitu internet dalam wujud media sosial.

Sesama saudara jadi bermusuhan saling lempar caci,maki dan buli, gara-gara media sosial.

Sesama jamaah pengajian jadi rajin saling sindir, cibir dan nyinyir, gara-gara media sosial.

Sesama aktifis dakwah jadi asyik saling hujat, gugat dan kualat sama seniornya, gara-gara media sosial.

Remaja malah jadi calon teoris bisa bikin bom dan bunuh orang ngacak dan ngasal, gara-gara media sosial.

Hubungan suami istri jadi rusuh, ricuh dan selingkuh, gara-gara media sosial.

Berita baik jadi sumir karena banyak diplintir, gara-gara media sosial.

Isi status cuma hasil hayal, membual dan ngasal, gara-gara media sosial.

Tapi ada juga yang diuntungkan, setidaknya beberapa jenis hewan tertentu jadi ngetop dan sering disebut-sebut namanya. Ini juga gara-gara media sosial. (baca:cebong dan kampret?)

Coba lihat, betapa dahsyatnya sosial media dalam merusak akhlaq anak bangsa. Kalau televisi, masih bisa kita matikan atau malah kita jual biar tidak merusak. Dan bisa kita boikot dari rumah dengan mencanangkan rumah bebas televisi.

Tapi bagaimana dengan media sosial? Bisakah kita cegah biar orang tidak punya hp? Bisakah kita buat gerakan aksi buang hp ke comberan biar tidak merusak moral kita?

Heher , rasanya belum pernah dengar ada ustadz yang ceramah kayak gitu. Sebab si ustadznya sendiri justru pegiat sosial media, isi statusnya pun tidak dijamin suci dan steril dari caci maki dan buli. Kalau bukan beliau yang tulis, teman-temannya yang rajin mencaci maki dan buli. Si ustadz mungkin tidak setuju, tapi SANGAT TIDAK BERDAYA menolak 'kebudayaan kurang baik' yang satu ini.

Jadi hp yang setia menemani kita tiap saat inilah yang seharusnya kita gunakan dengan bijak. Jangan sampai kita malah masuk neraka cuma gara-gara tidak bisa bersosial media di hp.

HP-mu nerakamu. Awas, korbannya biasa siapa pun. Waspadalah. Bukan cuma malaikat yang mencatat, tapi jejak digital pun bisa dilacak. Hati-hati dan tetap selalu bijak.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Monday, May 21, 2018 - 22:45
Kategori Rubrik: