Musnahkan Parasit Negara

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Seri : Jokowi

Pernah memperhatikan apa yang diresepkan oleh dokter saat badan kita panas ?

Biasanya, tiga macam obat diberikan. Vitamin, obat flu dan batuk (bila kita flu), dan terakhir antibiotik.

Diantara tiga macam obat itu, salah satunya selalu tertulis harus dihabiskan?

Dijamin, itu adalah antibiotiknya. Kadang tiga hari, kadang lima hari tergantung pertimbangan dokter.

Fungsi antibiotik adalah membantu membunuh atau memperlemah virus yang membuat badan kita terinfeksi dan indikasinya adalah suhu tubuh kita naik. Tubuh kita sumeng.

Jenis antibiotiknya apa, seberapa dosisnya dan berapa lama harus kita konsumsi, adalah wilayah dokter. Jangan sok tahu dan bikin aturan sendiri.

Demikian kira-kira ketika KPK didirikan saat Megawati menjadi Presiden tahun 2002. Ada indikasi bahwa Polisi dan Jaksa dianggap sakit parah karena telah terinfeksi virus menahun, virus korupsi, sebuah varian virus orde baru.

Institusi Kepolisian dan Kejaksaan dianggap tak layak menangani kejahatan Korupsi karena dua lembaga itu dianggap sedang terjangkit penyakit yang sama, KORUPSI.

Apa jenis antibiotik yang harus dikonsumsi oleh dua lembaga itu, dokter saat itulah yang paham. Yang jelas, "untuk sementara", KPK menggantikan kewenangan Polisi dan Jaksa, penyidikan dan penuntutan bagi peristiwa kejahatan korupsi dengan nilai tertentu.

Sama seperti pasien terinfeksi istirahat adalah salah satu resep selain obat, Polisi dan Jaksa diistirahatkan, atau paling tidak, dikurangi porsi menangani kejahatan korupsi.

Pada periode keduanya, Jokowi menganggap Kepolisian dan Kejaksaan telah sembuh. Keduanya kembali dilibatkan dalam sekala penuh.

Kepolisian dan Kejaksaan langsung tancap gas dan hasilnya adalah Jiwsraya, Century, Pelindo dua, dan banyak kasus besar lainnya kembali muncul dan penyitaan sebagai bukti bahwa peristiwa korupsi itu ada mulai dibuktikan.

"Kenapa bukan KPK?"

Menjadi penyidik sekaligus penuntut dengan perangkat komplit plit layaknya KPK, hmm.., godaannya luar biasa. Virus lebih kuat justru telah melemahkan banyak sendi-sendinya. Virus politik dan kepentingan.

KPK sering dijadikan alat politik dan sekali lagi panas tubuhnya harus membuat lembaga ini diistirahatkan. Paling tidak, porsi kerjanya dikurangi.

Mencari manusia setengah dewa itu sulit. Bila ada, pasti sudah dibuat mati duluan. Dibuat image bahwa manusia seperti itu arogan, mulutnya tak sopan, tak sesuai budaya bangsa, intinya, dia dibuat mati dulu sebelum mulai bekerja.

Ingat Ahok dan Antasari? Sedikit contoh tentang orang yang sulit diajak bengkok. Benar keduanya bukan setengah dewa, apalagi dewa, namun paling tidak hal baik menempel dan ada pada mereka berdua.

Bak KTP dengan catatan eks tapol jaman Soeharto, keduanya sudah di stempel "orang tak boleh menjabat posisi tertentu" karena predikat pernah menjalani hukuman pidana. Keduanya dianggap sudah cacat.

Orang-orang seperti itu sudah dijatuhkan lebih dahulu sebelum dia berkesempatan menduduki posisi tersebut. Orang seperti ini dianggap menjadi ancaman bagi semua pihak karena tak mengenal konsep teman. Orang itu terlalu kaku untuk diajak belok.

Sungguh sia-sia bila jaringan yang sedemikian luas dan kuat milik Kepolisian dan Kejaksaan dibiarkan "nganggur" terlalu lama. Sumeng dan panas tubuhnya akibat infeksi tak boleh selamanya menyandera kemampuan gerak dan kiprahnya.

Bila antibiotik sudah tak mungkin membunuh virus tersebut, tindakan operasi dan bahkan pemotongan organ terinfeksi akan dilakukan dokter.

Bila ternyata hari ini masih sumeng, bongkar tubuhnya! Ambil tindakan operasi! Potong dan buang bagian tubuh yang sudah terinfeksi parah dan tak mempan dengan antibiotik!

Itulah yang saat ini kita saksikan.

Kemarin dulu, tak ada dokter berani mengambil tindakan operasi seperti ini. Ada perlawanan sangat kuat yang dapat membuat sang dokter didorong dan jatuh.

Hari ini, siapa sangka si kurus kering ini memiliki kekuatan luar biasa? Siapa sangka Presiden yang diolok dengan plonga plongo mampu membalikkan keadaan yang diangap tak mungkin?

Bukan satu, tapi tiga orang jendral Polisi sepertinya akan menjadi korban pemotongan atas operasi besar ini. Bukan cuma jaksa dengan posisi rendah, siapapun yang bermain api dijamin hanya tinggal tunggu waktu untuk terbakar dengan teriak kesakitan.

Kali ini, operasi besar pemotongan organ tak dapat disembuhkan itu sedang berjalan. Akan tetap ada perlawanan, namun Presiden sudah tidak peduli. Sebesar apapun perlawanan itu, hanya jerit dan keras teriak kesakitan akan kita dengar.

Kepolisian dan Kejaksaan adalah ujung tombak wajah hukum kita. Mereka yang bekerja disana seharusnya adalah para kaku tak mudah bengkok. Para idealis tak mudah silau.

Untuk itulah mereka dibayar. Untuk itulah mereka memiliki dan diberi kewenangan sedemikian besar.

Bagaimana seharusnya virus berbahaya di perlakukan agar tak lagi menulari orang lain, potongan organ itu harus dimusnahkan. Dibakar, atau diperlakukan dengan sangat spesifik, adalah keharusan.

Demikian pula oknum Jaksa dan oknum polisi tersebut, seharusnya hukuman terberat harus dijatuhkan kepada mereka tanpa pandang bulu lagi. Tanpa kenal apa itu kasihan.

Sudah selayaknya mereka yang paham akan hukum dan kemudian sengaja melanggar, mendapat hukuman yang lebih berat daripada mereka yang tak mengerti, apalagi mereka yang seharusnya menjaga.

Mereka para penjaga dan penegak hukum memiliki dua keistimewaan, mengerti hukum, dan dibayar sebagai penegak hukum. Mereka adalah orang-orang istimewa. Mereka dibayar karena keistemewaannya.

Haruskah mereka orang-orang istimewa ini dihukum secara istimewa dan lebih berat dibanding dengan siapapun karena melanggar sumpah jabatan sekaligus berkhianat kepada negara dan rakyat, seharusnya memang demikian.

Tak ada alasan karena jasa-jasa masa lampaunya. Tak perlu ada alasan apapun lagi karena dia tak lebih dari seonggok daging dan organ busuk yang sudah dipotong. Dia harus dimusnahkan agar tak lagi datang sebagai sumber penularan dan ancaman infeksi yang lebih parah lagi.

Haruskah dan mampukah Jokowi, itu sangat terkait erat dengan dukungan sekaligus tuntutan kita sebagai warga negara. Jangan biarkan Presiden baik ini sendirian. Dukung dengan cara apapun.

Anda mampu menulis, tulislah. Anda punya jaringan dan mampu membuat viral sebuah dukungan, viralkan!

Tak ada hal kecil apalagi terlalu kecil bagi sebuah kebaikan, tak pernah ada kata sia-sia disana. Selalu akan memiliki arti, apalagi bila demi negara yang kita cinta, Indonesia.

Just do it!
.
.
.
Rahayu
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

 

Sunday, August 2, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: