Muslim Yang Menyenangkan

Oleh : Kalis Mardiasih

Pada sebuah musala kecil di Jalan Prambanan-Piyungan. Selepas salat magrib, seorang Bapak menghampiriku dengan mengucap salam. Ia kemudian bertanya darimana dan hendak kemana. Aku baru tersadar, musala kecil semacam itu biasanya digunakan untuk berjamaah warga sekitar saja, sehingga satu dua wajah yang asing berarti orang yang berasal dari luar desa. Ketika kusebutkan alamat sekitar Pondok Pesantren Pandanaran, ia lalu bercerita bahwa awalnya anak terakhirnya juga akan ia kirim nyantri ke Pandanaran, sebelum akhirnya mantap memilih Ponpes Darul Quran Wonosari.

Ketika kujawab aku hendak menuju Ponpes Kaliopak, ia sedikit kebingungan, mengaku tak pernah mendengar. Aku berusaha menjelaskan bahwa Ponpes Kaliopak memang hanya semacam ruang perjumpaan bagi orang-orang pengkaji kebudayaan. Menjelang akhir perbincangan, ia meminta doa agar anak-anaknya yang masih nyantri di As Salam Solo juga di Ponpes Wonosari diberikan kemudahan dalam menyerap ilmu dan kelancaran studi. Kujawab aamiin dan dibalasnya dengan doa keselamatan perjalanan untukku.

Ini mungkin fragmen yang biasa saja tapi entah kenapa menyajikan hal remeh semacam ini menjadi lebih relevan pada masa-masa sekarang. Dua manusia asing di jalan terkadang bahkan tidak ingat untuk saling bertanya nama. Tetapi perbincangan dua manusia asing ini adalah satu dari banyak daya dukung sosial yang membangun ruh hidup bersama. Perbincangan yang tidak terikat norma formal institusi yang mengukur segala sesuatu dengan angka atau nilai kuasa yang mengukur segala sesuatu dengan gelar atau lencana. Dua manusia asing bertemu sebagai cukup sesama manusia.Manusia, atau Muslim yang menyenangkan ada dalam rasa saling percaya dan hasrat mengharapkan kebaikan satu sama lain.

Sumber : facebook Kalis Mardiasih

Tuesday, May 8, 2018 - 16:30
Kategori Rubrik: