Muslim yang Kafir

ilustrasi

Oleh : Alim

#RefleksiJumat

Jadi iman dan islam itu berbeda perdefinisi dan hierarki. Islam itu jamalatul iman, so setiap iman itu islam tapi tidak setiap islam itu iman. Dengan demikian tidak setiap muslim itu mukmin, tapi setiap mukmin itu pasti muslim. Sabar, pelan-pelan memahaminya.

Untuk menjadi muslim, anda cukup mengucapkan dua kalimah syahadat. Tidak lebih. Bahkan ketika di bawah ancaman pedang, anda mengucapkan dua kalimah syahadat, anda sudah muslim. Meskipun, kemudian ada yang bilang islamnya hanya islam bibir atau islam KTP, tapi secara sah anda muslim.

Karena terdesak saat bertarung melawan Usamah, Mirdas bin Nahik dari Bani Salim mengucapkan syahadat. Namun sahabat Usamah Bin Zaid tetap saja membunuhnya. Mengetahui hal tersebut, kanjeng Nabi pun marah sejadi jadinya. Usamah berargumen bahwa syahadatnya si Mirdas ini cuma lip service. Nabi tidak menerima argumen itu.. “Apa buktinya dia hanya berpura-pura? Kamu sudah melihat isi di hatinya? Selagi dia sudah mengucap lafadz syahadat. Kamu tak boleh membunuhnya!”

Kemudian setelah syahadat baru menjalankan rukun-rukunnya.. untuk menapaki gradasi peningkatan kualitas keislaman ke arah yang lebih ideal. Tapi idealitas itu bukan syarat keislaman lho...

Sementara iman ini per definisi lebih kompleks, dan lebih inner. Dia dikatakan dengan lisan, dima'rifati dengan hati, diaktualisasikan dalam tingkah laku; bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiyatan; menguat karena ilmu, melemah dengan kebodohan; dan semua itu berjalan karena taufiq dari Allah.

Jadi mengucapkan syahadat itu menjadi penanda keislaman, sementara penanda keimanan setelah syahadat adalah meyakininya dengan hati. Tanpa sisi inner ini, orang bisa saja menjadi muslim. Apalagi kalau dengan sisi inner ini. Makanya dalam Hujurat 14, Nabi diperintahkan Allah untuk mengingatkan seorang Badui yang menyatakan diri beriman, "Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk (aslamnaa)', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu" ". (Soal ini perlu baca kitab tafsir, biar ndak salah paham).

Nah, lawan dari iman itu kufur, sedangkan lawan dari islam adalah juhud. Yang inner lawannya inner, yang lebih outer, lawannya juga yang lebih outer. Meski sakjane ini juga simplifikatif, tapi lumayan menggambarkan.

Dari itu semua kita tahu, ada muslim yang tanpa iman. Kalau kondisi tanpa iman itu disebut kufur, bisa jadi ada muslim yang kafir?

Maka tepok anak soleh, islam islam yes, kafir kafir no itu tidak benar secara hierarkis dan terminologis. Lebih cocok iman iman yes, kufur kufur no; atau islam islam yes, juhud juhud no;

Juga tidak benar mengkafir-kafirkan orang yang nyata berislam. Perlawanan katanya tidak pas. Kafir itu soal kualitas keimanan, dan keimanan itu tidak bisa diukur kecuali oleh Allah. Maka dalam Sunni, kalau ada muslim berbuat salah/dosa ya disebut jahid/jahad atau fasik saja.. bukan disebut kafir.

Sekadar refleksi...

Monday, February 3, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: