Muslim Uyghur di China, Benturan Kebudayaan

Oleh: Babo Erizeli
Suatu waktu saya makan malam dengan pejabat militer China. Pada kesempatan itu. saya bertanya soal Xinjiang. “Apa akar masalahnya yang terjadi di Xinjiang, khususnya etnis Uyghur. “
“Soal politik bagi China, itu sudah selesai. Bagi mereka yang ingin memisahkan diri, akan dihadapi secara hukum. Itu urusan milter menegakan konstitusi untuk mempertahankan teritory China. Permasalahan di Xinjiang terjadi karena benturan kebudayaan. Bukan soal agama.”
 
“ Budaya ?
“ Ya. Pemerintah China melarang polygami. Sementara pria di Xinjiang hobi poligami. Bagaimana mungkin nilai seorang wanita dan pria dianggap benar menjalankan agama apabila menerapkan poligami. Hebatnya mereka berlomba menikah sampai 4 kali. Sementara data keluarga mereka, sebagian besar menjadikan wanita sebagai budak. Para wanita bekerja keras untuk suami. Penghasilan wanita untuk suami. Sementara penghasilan suami untuk suami dan selirnya. Faktanya kini banyak wanita Uyghur lebih memilih menikah dengan etnis Han atau Hui. Itu artinya wanita engga suka di poligami walau alasan agama sekalipun.
Larangan poligami itu dianggap mereka mencampuri agama mereka. Padahal menurut kami, itu bukan ajaran agama. Itu budaya yang salah. Mengapa? Di CHina juga ada etnis Hui yang muslim. Tetapi mereka tidak melakukan poligami. Mereka setia dengan satu istri dan sangat hebat mengelola keluarga. Mengapa sesama islam tetapi berbeda prinsip? kami hanya melihat dari sisi positipnya. Hui lah yang benar dalam menerapkan agama. Makanya kami minta etnis Uyghur mencontoh Etnis Hui dalam beragama.
Kami tidak melarang orang berpuasa. Itu ritual berlaku bukan hanya bagi orang islam, juga agama Budha dan sebagian kristen ortodok. Yang kami larang itu ritual puasa yang melemahkan etos kerja. Seperti malam hari seharusnya mereka tidur. Mengapa malam hari mereka bangun dan mengadakan ritual di Masjid sampai pagi. Dan keesokan harinya pada waktu kerja dan belajar di sekolah mereka ngantunk. Itu jelas bukan ajaran agama yang benar. Itu kebudayaan. Mengapa ? Etnis Hui juga muslim. Tetapi mereka tidak lakukan ritual puasa seperti etnis uyghur.
Di China diberlakukan UU perlindungan orang tua jompo. Negara memberikan subsidi kepada mereka. Juga mempindana anak atau keluarga yang menelantarkan orang tua mereka. Tetapi mereka angganp kami mencampuri kehidupan pribadi mereka. Kepada mereka, kami katakan, mengapa etnis Hui bisa menyayangi orang tua mereka.? Itu artinya agama mendidik orang berbudaya cinta dan kasih sayang kepada orang tua.
Tadinya kami membuat UU melarang orang punya anak lebih dari satu. Itu agar kami bisa membuat pertumbuhan ekonomi diatas pertumbuhan penduduk. Sehingga China punya tabungan untuk lompatan jauh ke depan. Tetapi khusus untuk Etnis Uyghur kami tidak berlakukan UU satu keluarga satu anak. Mengapa ? karena kami menghormati prinsip tauhid agama islam. Etnis Hui kami larang punya anak lebih satu, dan mereka menerima. Namun mereka menolak program KB. Mereka lakukan KB secara natural yang dibenarkan menurut agama mereka.
Islam melakukan ritual sholat 5 kali sehari. Itu kami hargai. Tidak ada larangan orang sholat. Tetapi kan tidak harus sholat di Masjid. Sholat bisa dimana saja. Etnis Uyghur protes. Karena bagi mereka sholat harus di masjid. Padahal entis Hui tidak begitu. Masjid hanya digunakan oleh para ibu ibu. Sementara para suami sholat di mana saja. Itu wajar karena mereka kerja. Kami mendorong agar etnis Uyghur meniru etnis Hui dalam hal melaksanakan sholat. Tetapi mereka bilang Hui bukan islam. Bahkan mereka sebut kafir.
Saya bisa memaklumi keterangan pejabat China itu. Karena masalah islam itu berkaitan dengan mahzab. Dan orang beriman karena mahzab bukan akal. Kelebihan etnis Hui sejak awal tidak pernah tercemarkan oleh beragam dalil. Islam mereka adalah orisinil dari buyut mereka menerima langsung dari utusan Rasul yang datang ke China. Mereka disiplin melaksanakan rukun islam, menghindari yang haram dan mengutamakan yang halal. Selebihnya mereka manusia biasa yang harus bekerja keras agar bermanfaat bagi orang lain. Banyak dari mereka jadi PNS dan pejabat partai. Agama mereka mencerahkan orang banyak bagaimana seharusnya jadi manusia. Tidak korup dan menghargai perbedaan.
 
(Sumber: Facebook DDB)
Thursday, November 19, 2020 - 21:00
Kategori Rubrik: