Muslim Intoleran yang Meninggalkan "Sholat Berjamaah"

Oleh Fajar Arifin Ahmad

Media social membuat kita bebas bicara dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, tentang apapun hingga tak merasa bahwa kemampuan kita terbatas. Fenomena merasa paling iman, paling alim, paling pintar, paling sholeh sampai bahwa penentu surga adalah kita bukan kekuasaan Allah SWT. Hal ini paling terasa sejak menjelang Pilkada DKI digelar.

Lihat saja yang dilakukan sekelompok muslim terhadap muslim lainnya menuding kata kafir, menolak menyolatkan jenazah muslim, politisasi masjid hingga menuduh sesama muslim sesat bahkan komunis sangat dilarang agama. Faktanya? Banyak yang mengabaikan peringatan yang sudah jelas tertuang dalam Al Qur’an dan hadits. Islam sejatinya adalah moderat dan sangat menjunjung tinggi toleransi. Namun sebagian muslim Indonesia akhir-akhir ini telah menjadi sangat intoleran. Kita dapat mengidentifikasi mereka yang berada di kelompok FPI, HTI, yang terlibat dalam aksi klaim bela Islam bertanggal-tanggal itu tidak memaknai sholat berjamaah dalam kehidupan mereka.

Mereka meniru contoh tokoh-tokoh mereka yang mengajarkan untuk tidak moderat, merasa benar sendiri, sah melabeli orang (meski sesama muslim) dengan sebutan yang hina bahkan mengkafirkan, menuduh komunis atau anti Islam. Miris rasanya mereka meniru “kyai” Bakhtiar Nasir, “ustadz” Tengku Zulkarnain, “Kyai” Al Khaththath, hingga Habib Rizieq Shihab. Mereka diajari mengumbar hawa nafsu sepuasnya. Umat muslim ini lupa dengan ajaran-ajaran Rasulullah SAW yang mencontohkan dakwah dengan santun, dengan akhlakul karimah atau dengan memegang teguh apa yang tertuang dalam Al Qur’an. Satu contoh tentang tafsir Al Maidah 51 tentang pemilihan pemimpin Islam. Tidak ada yang salah dengan meyakini bahwa itu wajib karena banyak ulama besar dunia memaknai berbeda. Hanya keyakinan tersebut tidak boleh dipaksakan pada muslim lain yang mengikuti ulama yang memahami tafsir Al Maidah tersebut berbeda. Kita semua melihat pemaksaan itu dalam demo berjilid-jilid yang bukan hanya menghabiskan energy, dana, waktu dan lain sebagainya tapi dampaknya non muslim melihat sebagian orang Islam ternyata suka memaksakan kehendak.

Makna Sholat Berjamaah

Bagi orang beragama Islam, sholat berjamaah tentu hal yang biasa setidaknya 1 minggu sekali ketika harus sholat Jum’at. Namun dengan fenomena yang digambarkan diatas menunjukkan sholat berjamaah hanya dimaknai sebagai aktivitas didalam masjid semata. Tidak terimplementasikan dalam laku, tutur kata, sikap pikiran hingga hati yang menggerakkan seluruh tubuh.

Apa maksudnya? Dalam sholat berjamaah ada hal-hal yang itu menjadi ranah kebebasan kita berjamaah. Sebut saja soal pakaian. Lihat saja, ada yang pakai sarung, pakai celana, pakai jubbah, pakai jas dan lain sebagainya. Catatan soal pakaian cuma 1, menutupi aurat. Wong sarung saja banyak ragamnya ada yang kotak-kotak, polos, batik, sablon, cap dan banyak lagi. Kemudian tata cara sholat, meski secara umum saja, silahkan perhatikan dari cara takbiratul ikhram, I’tidal, letak tangan saat sujud, posisi badan dan kepala saat takhiyat akhir dan lain sebagainya. Kemudian juga posisi makmum yang tidak berurutan berdasar jabatan didunia, berdasarkan pendapatan bulanan, berdasarkan kekayaan, berdasarkan kepintaran, berdasarkan perilaku, tidak. Siapa yang datang duluan ya dia berada di shaf paling depan. Tidak ada aturan di masjid manapun urutan shaf berdasar hal-hal yang ada didunia.

Jika ada imam yang salah entah bacaan atau rakaat, apakah makmum boleh teriak-teriak seenaknya? Memaki, memfitnah hingga mengumpat?. Jika Imam batal apakah kemudian sholat diulangi lagi dan Imam boleh kita ejek bahkan diumumkan dimana-mana? Apakah bila kita tidak setuju cara Imam dalam sholat (missal basmalah dibaca pelan, memakai qunut, tidak pakai peci) bisa kita tegur atau dipermalukan didepan jamaah lain? Semua ada tata caranya mengingatkan. Itu masih soal-soal fisik. Belum lagi non fisik misalnya apa imam sudah pasti paling khusyu dan paling benar sholatnya? Apa benar shaf paling depan saat sholat tidak memikirkan hal-hal didunia? Apa benar makmum yang bajunya paling mahal paling diterima pahalanya? Tidak. Tapi apa kemudian tidak sholat berjamaah? Jelas tidak. Disinilah letak mengapa memaknai sholat berjamaah tidak hanya butuh dilakukan di dalam masjid semata namun juga terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Pernahkah anda lihat di masjid ada sweeping tentang harus memakai baju koko, harus pakai jubbah, harus yang setuju pakai qunut, harus yang setuju bacaan basmalah dipelankan, harus yang jidatnya hitam dan lain sebagainya. Tidak ada kan? Ini menunjukkan bahwa Islam itu moderat karena di Indonesia kelompok-kelompok dalam Islam luar biasa banyaknya. Yang formal saja jumlahnya puluhan apalagi yang tidak tercatat secara resmi bahkan masih banyak yang sembunyi-sembunyi.

Kembali pada Islam

Maka dari itu, jadilah muslim seperti tauladan kita semua. Ingat, ikutilah kyai, ustadz, ulama yang memang mencontoh perilaku Rasulullah. Di Indonesia, kyai, ustadz atau ulama model begini sangat banyak. Ceramahnya tidak hanya teduh namun penuh dengan suri tauladan yang salah satunya bisa kita dapati dari kehidupan sehari-hari. Lihat saja kyai atau ustadz yang muncul di televisi, masihkah layak disebut begitu? Rasulullah saja hidup sederhana dan mengutamakan masyarakat disekeliling rumahnya. Tapi apa yang kita lihat dalam hidup mereka? Bolak balik muncul di televisi karen mobil baru, pernikahannya, perjalanan haji/umroh, bisnis baru dan segala yang duniawi. Lantas tauladan mana yang dicontoh dari Rasulullah? Ingat, muslim tidak dilarang kaya namun kaya dan mewah jelas berbeda. Contoh konkrit jika mobil sekelas New Innova saja sudah terasa nyaman mengapa membeli mobil sekelas pajero, fortuner bahkan land cruiser atau Alphard?

Dan semua yang dimiliki pun dipamer-pamerkan bukan hanya di fanspage si ustadz/kyai namun juga di twitter, di instagram bahkan saat di wawancarai televisi dengan sengaja berdiri didepan semua harta benda itu. Belum lagi kyai, ustadz atau habib yang ceramah bukan membuat sejuk umat tapi justru memprovokasi, membuat panas umat hingga lihat saja mencaci maki. Rizieq Shihab salah satu ulama yang pantas diragukan keulamaannya karena bukan hanya memprovokasi namun mencaci maki, memfitnah dan menuduh muslim lain sebagai kafir. Lihat saja di youtube, sudah tidak terhitung lagi rekaman yang ada di youtube perilaku-perilaku yang menjadikan dia tidak lagi pantas menyandang gelar itu.

Bagi muslim, teladan yang senyatanya ya Rasulullah. Tolong kasih tahu saya apakah beliau pernah memfitnah, menghujat, bahkan mencaci maki? Akhlaq beliau sungguh sangat luhur sehingga oleh musuhnya saja beliau sangat disegani. Contohlah Rasulullah yang bisa kita baca diberbagai literatur. Contoh yang paling sederhana, pernahkah anda mendengar sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah mengatakan pamannya, Abu Thalib seorang kafir?

Jadi masihkah sholat berjamaah anda berhenti di dalam masjid?

Sumber : Status Facebook Fajar Arifin Ahmad

Wednesday, May 24, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: