Munculnya Kesadaran

ilustrasi

Oleh : Eddy Pranajaya

Apa gunanya menghafal ujar-ujar yang tertulis didalam kitab-kitab yang dianggap suci, kalau tidak pernah mengerti maknanya dan tidak mampu melakukannya didalam hidup ... ???

Yang terpenting bukankah menghafal tapi melaksanakan, karena melaksanakan yang berdasarkan pengertian, bukan disebut sebagai penjiplakan ... !!!

Sedangkan menghafal tapi tidak mengerti apa yang dihafal, adalah seperti burung beo yang pandai berbicara tapi tidak pernah mengerti apa yang dibicarakannya.

Sebaliknya hafal dan melaksanakan saja, tidak ubahnya seperti pelayan restoran atau pembantu rumah tangga, ketika disuruh sang majikan bersihkan meja, maka meja akan segera dibersihkan, walaupun mejanya masih bersih.

Biarpun tidak hafal tapi mengerti dan melaksanakan dengan benar inti sari dari kitab-kitab yang dianggap suci, adalah seorang manusia yang mampu mengoptimalkan akal budhinya, tapi belum bisa disebut telah memiliki kesadaran.

 

Sedangkan seorang manusia yang telah memiliki kesadaran, tidak terbatasi gerak hidupnya oleh segala sesuatu yang diperintahkan oleh orang lain untuk dilakukannya atau terpenjara jiwa dan akal budhinya oleh sebuah kitab saja.

Orang yang hafal, mengerti, dan melaksanakan pun bukanlah seorang manusia yang memiliki kesadaran dari dalam dirinya sendiri, melainkan seorang penjiplak hasil pikiran orang lain.

KESADARAN tidak memerlukan kitab, tidak pula memerlukan orang lain untuk mengajar dan memerintahkan dirinya untuk melaksanakan perintah ; tapi KESADARAN muncul dari dalam diri sendiri secara murni ; seperti munculnya sumber air di kaki gunung yang sunyi, tanpa campur tangan siapapun.

Sumber mata air, matahari, bulan, tidak ada yang memerintahkan mereka untuk muncul, tapi mereka muncul dengan sendirinya untuk memberi kehidupan pada alam semesta raya dan para penghuninya.

Begitu pula dengan KESADARAN pada diri seorang manusia ...

Sumber : Eddy Pranajaya

Tuesday, June 2, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: