Mulut Macan dan Mulut Buaya

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Indonesia terletak diantara dua benua : Asia dan Australia. Diantara dua samudera : Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Dan disini melebur pelbagai ideologi, saling menghegemoni, saling menghisap.

Tengok lah peristiwa 1965. Disana ada sebuah pertanyaan, mengapa kopral menembak jenderal. Jawaban satu pihak karena komunis sudah masuk ke dalam militer. Maka komunislah yang salah. Setelah itu militer dijadikan alat oleh kekuasaan Soeharto selama 32 tahun, Soehartolah yang salah.

Apa yang terjadi sebenarnya ? Kita ada dalam dua pilihan : akan dimakan macan atau akan dimakan buaya. Kita waktu itu tak punya pilihan ketiga. Dimakan oleh salah satu dari keduanya sama-sama buruknya. Peribahasa kita mengenal buah simalakama. Sampai sekarang saya cari di pasar buah-buahan tak pernah ketemu buah itu.

Kalau komunis yang menang akan seperti di Uni Sovyet, tokoh agama-agama dibunuh oleh revolusi totalitarian dan tempat ibadah ditutup.

Kalau kapitalisme imperialisme Barat menang ? Ya seperti sekarang. Semua dinilai dengan pola pikir profit. Agama, bangsa, negara, alat negara, TNI/Polri, birokrasi, kesehatan, pendidikan, kemasyarakatan, politik, pers semua dikapitalisasi. Jadi sesak nafas bangsa ini, seperti kena Kopit Wuhan saja. Seperti semuanya menjadi boleh untuk diperjual belikan hingga celana dalam. Pancasila pun mau dilembagakan, agar bisa menghasilkan uang. Bangsa ini masuk kedalam mulut buaya dan air mata buaya. Berenang di dalamnya tidak punya arah tujuan. Penuh dengan penipuan. Sumpah jabatan hanya mainan. Birokrasinya sarang koruptor. Politisinya busuk. Pengusahanya pemuja riba. Pemuka agamanya ulama Su'u.

Siapa yang akan bisa mengurai masalah kita, ketika dari mulut KKN kita terjebak di mulut oligarky Parpol ? Apa hakikat masalah kita yang sebenarnya ? Seburuk apa kita sebagai entitas bangsa ? Sejauh mana dampak dari kejatuhan kita ke pelukan Barat, amerika ?

Belajar dari kebangkitan Bangsa Jepang, hendaknya kita mengamankan dulu pendidikan nasional kita yang sudah dibajak oleh hegemoni pengajaran. Pendidikan bahasa arabnya tarbiyah, sasarannya jiwa manusia agar dibentuk karakter Pancasilanya. Baru diberikan pengajaran atau ta'lim, sesuai dengan bakat dan pilihan disiplin ilmu seorang siswa.

Ketika oleh Soeharto para pendidik sudah dijadikan ujung tombak politik kemenangan Golkar di masa Orde Baru, runtuhlah sosok pembentuk jiwa itu. Tak ada karakter apapun bisa diturunkan seorang pendidik kepada muridnya, ketika jiwa para pendidik itu lemah dan tersandera. Inilah jahatnya mulut buaya. Tak kalah jahat dengan mulut macan. Secara bibir manis ada pelajaran PMP, pendidikan moral Pancasila, tapi ruh pendidik sudah disandera. Itu berlanjut sampai sekarang, bahwa pendidikan nasional kita Nol pembentukan karakter. Karena pembentukan karakter hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang sudah terbentuk karakter Pancasilaisnya. Hanya menghasilkan frofesor koruptor karena tak memiliki karakter Pancasila.

Bagaimana tarbiyah atau pendidikan dalam membuat karakter generasi bangsa kita ? NU punya pengalaman ini. Pasrahkan pembentukan karakter Pancasila pada NU. Pengajaran pada masing-masing kementrian. Misalnya ilmu nuklir biar kementerian energi yang mengadakan pengajaran itu. Fakultas pertanian biar menteri pertanian yang mengelola itu. Bangsa yang kehilangan karakternya akan mudah dibujuk rayu ikut ideologi orang asing : baik komunis, kapitalis atau khilafah. Sama-sama hakikatnya anti-Pancasila.

Nasionalis, Nahdliyin dan Muhamadiyah seperti tercermin dalam Panitia Sembilan perumus Pancasila, harus tetap solid dan menjadi jangkar kuat bangsa Ini. Tidak boleh antek asing terus dibiarkan berkotek mengganggu ketenangan. Bangsa ini pingin manju juga. Jangan dirusak segelintir antek yang terus dibiarkan.

Pace Yaklep : Cukup rumit juga ya Bangsa ini Kang Santri ?

Santri Kalong : Ya seperti yang kau alami lah.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Thursday, July 9, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: