Muldoko, Jangan Brizieq Ah

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Saya heran mengapa orang selevel Jenderal TNI Moeldoko mau terpancing media untuk berkomentar tentang sosok RS. Semakin dikomentari, semakin serasa sok penting seseorang. Biarlah hanya orang pecundang selevel Daniel Azhar yang berbusa- busa yang mengaitkan kepulangan RS dengan syarat rekonsiliasi dan tuduhan kriminalisasi. Saya hanya bisa mengguman lirih : 
"Kaum kalah kok sok mengajukan syarat untuk rekonsiliasi, kamu waras ? Cuiiihhh !!"

Fenomena kaburnya RS ke Arab Saudi adalah tragedi hukum di negeri ini. Sampai detik ini saya masih tidak bisa percaya, kalau RS bisa dengan mudah lolos dari jeratan hukum tanpa bantuan petinggi hukum negeri ini. Keanehan kasus kaburnya RS semakin tambah aneh, saat begitu banyak orang toko sebelah bisa dengan mudah ketemu RS di Arab Saudi, tapi aparat kepolisian kita atau melalui kerja sama dengan otoritas keamanan Arab Saudi atau kerjasama dengan Interpol tidak mampu menyentuh RS di pengasingan. Karena saya tahu POLRI kita tidak sebodoh itu

Dan hebatnya di pengasingan RS begitu bebas membuat ujaran politik saat kampanye Pilpres kemaren. Meskipun terbukti ucapan RS seperti tong kosong nyaring bunyinya dan tidak lagi bertuah, tapi pembiaran ini membuat saya geleng-geleng kepala. Saya semakin ragu, sebetulnga Polri punya kasus hukum yang kuat gak sih terhadap RS ? Atau memang sengaja dia dilepaskan ke luar negeri supaya gak membuat kerepotan di tanah air ? Entahlah

Yang jelas setiap mengingat kasus kaburnya RS dan pembiaran RS membuat perut saya mual. Rakyat seperti sengaja dibodohkan dan dipaksa untuk menyaksikan drama murahan yang skenarionya kedodoran. Nalar dan intelektualitas kita dilecehkan dengan sandiwara hukum yang mengenaskan.

Dulu POLRI saya berikan apresiasi yang sangat tinggi saat berhasil mengejar dan menangkap Zarima di Amerika Serikat. Polri juga sukses menangkap Muhammad Nazaruddin sampai ke Kolumbia dan juga berhasil membawa pulang pelarian Ibu Nunun Adang Dorojatun dari persembunyiannya di Thailand. Masak seorang buronan yang terang benderang ada di Arab Saudi tidak bisa ditarik pulang. Keanehan mana lagi yang hendak engkau tunjukkan, Bro ?

Secara pribadi saya sudah bisa menebak siapa oknum yang menjadi "master mind" dibalik kaburnya RS ke Arab Saudi. Sayapun punya informasi valid dan reliabel siapa yang membiayai kehidupan dia selama di Arab Saudi. Tapi saya tidak perduli lagi dengan laki-laki kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1965 itu. Karena bagi saya dia bukan siapa-siapa. Sayapun tidak pernah mengakui ketokohan dia apalagi mengakui sebagai imam besar.

Menurut saya, biarlah RS tetap disana. Kalaupun dia mau pulang jangan ada lagi campur tangan pihak pemerintah atau otoritas keamanan kita. Rakyat ini sudah jenuh disuguhi sandiwara murahan. Toh saya menduga meskipun dia pulang pasti juga tidak akan disentuh hukum. Benarkah dugaan saya Pak Kapolri ? Saya sangat berharap saya salah.

Saya hanya berharap pada pejabat dan orang penting di lingkaran terdekat Presiden Jokowi tidak usah mau terpancing berkomentar apapun tentang sosok buronan. Karena akan mempermalukan diri sendiri, karena rakyat tahu semua ini hanya dagelan.

Lagian brizieq ah......

Biarlah Pak Jokowi tenang dan fokus bekerja untuk rakyat. Dan biarlah kaum kalah kembali membangun kepercayaan diri atas kekalahan yang selalu berulang dan berulang. Karena saya tahu sangat berat menderita dan bisa menerima kekalahan yang bertubi-tubi. Saya saja tidak kuat....biar mereka saja.

Salam SATU Indonesia

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Wednesday, July 10, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: