Muka 10

ilustrasi
Oleh : Arif Maftukhin
 
Dari orang inilah sumber berita resmi tewasnya 6 orang di Jakarta beredar di media. Di jam dan hari yang sama, suara dari kantor menko sampai kapolres Metro adalah, "kami akan cek...." didesak para wartawan, jawaban kompak para anak buah Jokowi tetap "kami akan cek."
 
Semua mengirim pesan yang sama: tunggu dulu, jangan terpancing angka kematian, jangan terpancing spekulasi penyebab kematian, demi satu tujuan: suasana tidak tambah runyam.
 
Sementara pak Anis? Ia langsung sebut enam mati. Tanpa peduli efek berita itu yang bisa jadi minyak pembakar (atau sengaja?). Sejauh media yang bisa kita pantau pada 21-22 Mei, sebagai gubernur dia tidak hadir di Jl. Thamrin. Tidak ada di Petamburan. Dia pun tidak nyumbang upaya peredaman kerusuhan. 
Kini, setelah rusuh usai, dia datang ke Bawaslu bersuara lantang. Persis kaya film India, kata teman saya. "Perusuh berhadapan dengan kami." Perusuh pergi dia koar-koar begini. 
 
Ah lu. Setahu saya, yang mati-matian dengan sabar menerima hinaan hingga kutukan azab Tuhan kemarin itu para polisi. Yang dikutuk siksa kubur oleh si ustadz murka berjubah putih adalah para polisi. Yang rela ngemis-ngemis memohon perusuh agar tidak membakar tenda di dekat Bawaslu itu kepalanya polisi. Yang melarang anak buahnya tidak melepas tembakan air mata demi negosiasi damai itu namanya Pak Harry (Kapolres Metro Jakarta Pusat).  Tidak ada muka Anis di situ. Tidak ada si gubernur yang hari ini sok jago ingin berhadapan dengan perusuh. Dia dimana?
 
Dia pilih berhadapan dengan wartawan, di rumah sakit Tarakan, pada tanggal 22 Mei Pagi. Dan teriak lantang tanpa basa basi tentang 6 orang yang mati. 
 
 
Sumber : Status Facebook Arif Maftuhin
Sunday, May 26, 2019 - 14:45
Kategori Rubrik: